Mindset dan Pendidikan, Kunci Utama Indonesia Menuju Bangsa Maju

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti. (ist)
www.majelistabligh.id -

Impian menjadi bangsa yang maju bukanlah perkara instan, melainkan sebuah proses panjang yang menuntut kegigihan. Di tengah tantangan tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, membakar optimisme. Ia meyakini bahwa masa depan bangsa yang cemerlang berada di tangan generasi yang terdidik dengan mindset atau pola pikir yang adaptif.

“Saya optimistis ke depan, insyaallah pendidikan kita akan lebih baik lagi,” ungkap Abdul Mu’ti saat menghadiri acara Hari Bermuhammadiyah yang digelar oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surakarta, di Gedung Dakwah Balai Muhammadiyah Surakarta, Ahad (31/5/2026).

Menurut Mu’ti, pondasi utama untuk membawa pendidikan Indonesia berkembang jauh lebih pesat adalah transformasi cara berpikir. Ia menegaskan bahwa perubahan besar harus dimulai dari dalam diri setiap individu.

“Kita itu harus mengubah apa yang ada di dalam diri kita ini,” tutur pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Merujuk pada konsep psikologi populer dari Carol S. Dweck, Guru Besar Psikologi di Stanford University, Amerika Serikat, Mu’ti menjelaskan bahwa cara berpikir manusia terbagi menjadi dua motif utama:

  • Growth Mindset (Pola Pikir Bertumbuh): Karakteristik individu yang selalu melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif, terbuka pada tantangan, dan terus belajar.
  • Fixed Mindset (Pola Pikir Tetap): Kecenderungan seseorang yang mudah meratapi keadaan dan cepat merasa puas di zona nyaman.

Mu’ti mengingatkan bahaya jika ekosistem pendidikan terjebak dalam fixed mindset. “Kalau sudah merasa berada di zona nyaman, maka dia tidak akan bertumbuh. Merasa tidak perlu lagi memperbaiki diri, hingga akhirnya kalah oleh yang lain,” jelasnya.

Bangun Kepercayaan Diri

Oleh karena itu, dalam forum yang berlangsung di kawasan Teuku Umar, Keprabon tersebut, Mu’ti mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membuang jauh-jauh rasa pesimistis. Sikap rendah diri dinilai sebagai benalu yang menghambat gerak maju bangsa.

“Kalau kita ingin maju, jangan jadi orang yang pesimistis. Jangan jadi orang yang rendah diri dan tidak percaya diri. Percaya diri saja!” tegas Mu’ti di hadapan para hadirin.

Di sinilah pendidikan memegang peran vitalnya. Mu’ti menekankan bahwa kualitas pendidikan nasional harus terus ditingkatkan secara bertahap. Jika ada aspek yang kurang optimal, evaluasi dan perbaikan harus dilakukan demi melahirkan mutu pendidikan yang kian bernas dan berdampak nyata bagi kemajuan bangsa.

Sampai saat ini, upaya itu telah dan akan terus dilakukan. Pelan tapi pasti, Mu’ti mengemukakan, banyak sekolah yang telah direvitalisasi. “Sudah banyak yang sudah mulai kelihatan kita capai. Banyak yang sudah kita perbaiki,” ujarnya.

Sekalipun begitu, Mu’ti tetap membuka ruang kritik dan masukan konstruktif dari masyarakat. Tidak lain, untuk menciptakan pendidikan yang unggul dan berkemajuan. “Kritik-kritik seperti itu juga masih saya terima demi kebaikan ke depannya,” tandasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search