Muhammadiyah dan ’Aisyiyah Lepas Kepergian Siti Chamamah

Suasana salat jenazah di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. (ist)
www.majelistabligh.id -

Ribuan warga Muhammadiyah, ’Aisyiyah, civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM), serta masyarakat umum memadati Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta pada Rabu (8/7/2026). Mereka hadir untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus mengantarkan kepergian Siti Chamamah Soeratno, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ’Aisyiyah periode 2000–2010.

Wafatnya Siti Chamamah meninggalkan duka mendalam bagi dunia akademik dan keluarga besar Persyarikatan. Almarhumah dikenang sebagai sosok ulama intelektual dan kader terbaik yang sepanjang hayatnya mendedikasikan diri untuk pengembangan ilmu pengetahuan serta kemajuan umat.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas berpulangnya almarhumah. Ia menyebut Siti Chamamah sebagai seorang ibu, tokoh persyarikatan, guru bangsa, dan cendekiawan sejati yang meninggalkan warisan pemikiran serta keteladanan yang kuat.

“Lahir pada tahun 1941, beliau adalah sosok yang sangat mencintai ilmu, gemar berdiskusi, bahkan piawai berdebat dalam konteks keilmuan. Keahlian akademisnya diakui secara luas dan beliau sangat teliti,” ujar Haedar saat melepas jenazah di Masjid Gedhe Kauman.

Haedar juga mengenang momen kebersamaan mereka saat sama-sama menjadi penguji disertasi di UGM. Di matanya, Siti Chamamah selalu mampu menghadirkan suasana akademik yang hangat dan menggembirakan, namun tetap kritis serta tajam dalam memberikan masukan.

Lebih lanjut, Haedar bersaksi atas dedikasi luar biasa almarhumah selama puluhan tahun di Muhammadiyah dan ’Aisyiyah. Ia mengenal almarhumah sebagai sosok yang selalu menjalankan amanah dengan penuh kesungguhan tanpa kenal lelah.

“Setiap kali menerima amanah, beliau selalu mencatatnya dengan rapi. Beliau juga sering menekankan bahwa Muhammadiyah dan ’Aisyiyah adalah gerakan yang hebat karena pemikirannya maju melampaui zaman, serta kontribusinya dirasakan langsung oleh masyarakat,” kenang Haedar.

Di lingkungan Persyarikatan, rekam jejak pengabdiannya membentang panjang. Sebelum memimpin PP ’Aisyiyah selama dua periode (2000–2005 dan 2005–2010), ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum Nasyiatul ’Aisyiyah periode 1965–1985 serta Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah periode 1995–2000.

Di bawah kepemimpinannya, ’Aisyiyah semakin memperkokoh posisi sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan yang aktif di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, hingga pemberdayaan masyarakat.

Usai disalatkan di Masjid Gedhe Kauman, jenazah almarhumah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir di Makam Karangkajen, Yogyakarta. Warisan pemikiran, keteladanan, dan semangat pengabdiannya akan tetap hidup menginspirasi generasi penerus bangsa. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search