# Berilmu, Berintegritas, Berjiwa Negarawan dan Tidak Tergoda Kekuasan
Muhammadiyah merupakan gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan tajdid yang memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kehidupan umat dan peradaban bangsa. Perkembangan Muhammadiyah yang semakin besar, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, maupun kemasyarakatan, membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya memiliki kemampuan manajerial dan organisatoris, tetapi juga kedalaman ilmu keislaman, keluasan wawasan intelektual, integritas moral, dan keteguhan ideologi.
Artikel ini menawarkan gagasan tentang pentingnya kepemimpinan ulama-intelektual yang berjiwa negarawan, berorientasi pada pengabdian, serta tidak menjadikan jabatan sebagai instrumen memperoleh kekuasaan dan kepentingan pribadi. Kepemimpinan demikian diperlukan untuk menjaga independensi, marwah, dan keberlanjutan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.
Kata kunci: Muhammadiyah, ulama-intelektual, integritas, kepemimpinan, independensi, kekuasaan.
A. Pendahuluan: Besarnya Muhammadiyah Membutuhkan Kualitas Kepemimpinan yang Sebanding
Muhammadiyah merupakan salah satu gerakan Islam terbesar di Indonesia yang telah membuktikan kontribusinya dalam membangun kehidupan umat dan bangsa. Lebih dari satu abad perjalanan Persyarikatan telah melahirkan berbagai amal usaha dan gerakan pelayanan masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, serta dakwah dan pemberdayaan umat.
Namun, kebesaran organisasi tidak dengan sendirinya menjamin kualitas kepemimpinannya. Semakin besar organisasi, semakin besar pula tanggung jawab moral, intelektual, ideologis, dan organisatoris yang harus dipikul para pemimpinnya.
Di sinilah pentingnya mempertanyakan kembali: sosok pemimpin seperti bagaimana yang dibutuhkan Muhammadiyah untuk menghadapi masa depan?
1. Muhammadiyah tidak cukup hanya dipimpin oleh orang yang populer, memiliki jaringan luas, pandai berkomunikasi, mampu mengelola organisasi, dan memiliki kemampuan membangun pengaruh. Semua kapasitas tersebut memang penting, tetapi belum mencukupi.
2. Muhammadiyah membutuhkan pemimpin yang memiliki kedalaman ilmu sebagai ulama, keluasan pemikiran sebagai intelektual, keluhuran akhlak sebagai teladan, kecakapan sebagai organisator, dan kebesaran jiwa sebagai negarawan.
3. Persyarikatan membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar ingin menjadi orang penting di Muhammadiyah, tetapi bersedia mengabdikan dirinya untuk membuat Muhammadiyah semakin penting bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
B. Kepemimpinan Ulama-Intelektual sebagai Kebutuhan Ideologis Muhammadiyah
Istilah ulama-intelektual dalam tulisan ini menggambarkan perpaduan dua kompetensi yang harus saling melengkapi.
Pertama, kapasitas keulamaan, yakni kedalaman pemahaman terhadap Al-Qur’an, As-Sunnah, fikih, usul fikih, maqashid syariah, sejarah pemikiran Islam, dan persoalan keumatan.
Kedua, kapasitas intelektual, yakni kemampuan berpikir kritis, objektif, metodologis, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta mampu membaca perubahan sosial dan tantangan peradaban.
Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Keulamaan tanpa keluasan intelektual berisiko melahirkan pemikiran yang sempit, sedangkan intelektualitas tanpa fondasi keagamaan dan moral dapat kehilangan orientasi nilai.
Dalam konteks Muhammadiyah, perpaduan tersebut sejalan dengan karakter gerakan tajdid yang menghendaki pemahaman Islam secara mendalam sekaligus kemampuan menjawab persoalan kehidupan modern.
Dengan demikian, pemimpin Muhammadiyah idealnya bukan hanya mampu memberikan jawaban keagamaan, tetapi juga mampu merumuskan arah perubahan, menawarkan solusi, dan membangun masa depan.
C. Lima Pilar Karakteristik Pemimpin Ideal Muhammadiyah
1. Berilmu dan Memiliki Otoritas Keulamaan
Pemimpin Muhammadiyah harus memiliki kedalaman ilmu agama dan kemampuan memahami persoalan keislaman secara komprehensif. Al-Qur’an memberikan kedudukan penting kepada orang-orang berilmu sebagaimana firman Allah dalam QS. Fathir [35]: 28:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
Ilmu seharusnya melahirkan ketakwaan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab, bukan kesombongan intelektual maupun klaim kebenaran sepihak. Pemimpin yang berilmu harus bersedia mendengarkan pandangan berbeda, mengembangkan tradisi musyawarah, serta tidak memaksakan kehendak pribadi.
2. Memiliki Kecerdasan dan Keluasan Wawasan Intelektual
Muhammadiyah membutuhkan pemimpin yang mampu memahami perkembangan zaman dan mengantisipasi perubahan masa depan. Tantangan kecerdasan buatan, transformasi digital, krisis lingkungan, perubahan geopolitik, ketimpangan ekonomi, kemerosotan etika publik, dan perubahan budaya generasi muda menuntut kemampuan berpikir strategis.
Pemimpin tidak cukup hanya mampu mempertahankan keberhasilan masa lalu. Ia harus mampu menyiapkan Muhammadiyah menghadapi tantangan masa depan. Kepemimpinan intelektual juga ditandai keberanian melakukan evaluasi, menerima kritik, memperbaiki kebijakan, dan mengembangkan pemikiran baru tanpa kehilangan identitas ideologis.
3. Memiliki Integritas Moral yang Tinggi
Integritas merupakan kesatuan antara nilai yang diyakini, perkataan yang disampaikan, keputusan yang dibuat, dan tindakan yang dilakukan. Dalam kepemimpinan, integritas tercermin melalui kejujuran, amanah, keadilan, kesederhanaan, konsistensi, dan keberanian mempertanggungjawabkan keputusan. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa’ [4]: 58
: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.”
Jabatan kepemimpinan bukan hak istimewa yang dapat digunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok. Jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada organisasi, masyarakat, dan Allah SWT. Karena itu, rekam jejak pengabdian, konsistensi moral, dan tanggung jawab dalam mengelola amanah harus menjadi bagian penting dalam menilai kelayakan seorang pemimpin.
4. Berjiwa Negarawan dan Tidak Tergoda Kekuasaan
Inilah salah satu karakter yang sangat penting dalam menjaga masa depan Muhammadiyah. Pemimpin berjiwa negarawan memiliki orientasi kepentingan yang lebih luas daripada kepentingan dirinya sendiri. Ia mengutamakan masa depan organisasi, persatuan umat, kemaslahatan bangsa, dan kepentingan generasi mendatang.
Rasulullah SAW memberikan peringatan kepada Abdurrahman bin Samurah:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memberikan pelajaran bahwa jabatan bukan sesuatu yang harus dikejar demi kepentingan diri sendiri. Kepemimpinan merupakan tanggung jawab berat yang harus diterima dengan kesadaran akan amanahnya.
Pemimpin Muhammadiyah harus mampu membedakan antara memimpin dan menguasai, antara mengabdi dan mencari keuntungan, serta antara memperjuangkan kepentingan Persyarikatan dan memperjuangkan kepentingan pribadi. Ia tidak menjadikan Muhammadiyah sebagai batu loncatan untuk memperoleh jabatan politik, kedudukan publik, fasilitas, maupun popularitas.
Bukan berarti Muhammadiyah harus menjauhkan diri dari kehidupan kebangsaan dan politik. Sebaliknya, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab kebangsaan yang besar. Namun, keterlibatan dalam kehidupan politik harus tetap memperhatikan khittah, independensi, dan kepentingan dakwah Persyarikatan.
