Muhammadiyah Nomics, Ekosistem Dakwah dan Kekuatan Ekonomi Umat

Ilustrasi: rekayasa oleh AI mengambarkan jaringan ekonomi Muhammadiyah yang terangkum dalam Muhammadiyah Nomics. (ist)
www.majelistabligh.id -

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ayif Fathurrahman, menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada kemampuan membangun sistem ekonomi yang terstruktur dan berdampak luas bagi masyarakat. Hal itu ia sampaikan dalam ceramah Zuhur di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa (21/4/2026).

Menurut Ayif, Muhammadiyah kembali menjadi perbincangan publik, terutama di kalangan generasi muda. Beberapa bulan lalu, istilah “login Muhammadiyah” sempat viral dan mendapat banyak apresiasi dari kalangan milenial serta Gen Z karena dianggap menghadirkan wajah dakwah yang inklusif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Tidak berhenti di situ, dalam sepekan terakhir Muhammadiyah kembali mencuri perhatian publik melalui rencana pembangunan pabrik cairan infus dengan nilai investasi yang besar.

Langkah ini membuat banyak masyarakat takjub, khususnya generasi Z dan Alpha, karena melihat Muhammadiyah bukan hanya unggul dalam pendidikan dan kesehatan, tetapi juga semakin serius mengembangkan dakwah di bidang ekonomi.

“Banyak yang baru menyadari bahwa Muhammadiyah bukan hanya memiliki sekolah, kampus, dan rumah sakit, tetapi juga mulai berdakwah secara serius di sektor ekonomi sebagaimana amanat Muktamar ke-47 di Makassar,” ujarnya.

Muhammadiyah Nomics

Muhammadiyah berhasil karena memiliki visi yang sama dan program yang terstruktur. Ini yang membuat infrastruktur ekonominya tumbuh secara tertib dan terkonsolidasi. Ia menyebut model ini sebagai Muhammadiyah Nomics, yakni pola pembangunan ekonomi yang tidak hanya berfokus pada pasar dan materi, tetapi juga membangun suprastruktur dan ekosistem pendukungnya.

Menurutnya, ekonomi tidak cukup hanya berbicara soal produk dan modal, tetapi juga harus membangun sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, dan kualitas hidup masyarakat. Dalam hal ini, kampus-kampus Muhammadiyah melalui fakultas ekonomi dan bisnis menyiapkan SDM unggul, sementara rumah sakit Muhammadiyah menjaga kualitas kesehatan masyarakat.

“Kalau kita bicara indeks pembangunan manusia, Muhammadiyah sudah membangunnya secara terkonsolidasi. Itulah yang kita sebut Muhammadiyah Nomics,” katanya.

Ayif menegaskan bahwa Muhammadiyah Nomics bisa menjadi role model bagi pembangunan ekonomi Islam di Indonesia. Selama ini, salah satu kelemahan ekonomi Islam adalah kurangnya konsolidasi visi, strategi, dan gerakan yang sistematis.

Karena itu, jika ingin membangun ekonomi Islam yang kuat, umat harus memiliki visi yang sama, strategi yang terarah, dan semangat berjamaah dalam memajukan ekonomi umat.

“Visi yang sama maknanya adalah gerakan berjamaah untuk ekonomi umat. Kita butuh kebersamaan agar ekonomi Islam berkembang cepat, tepat, dan berdampak luas,” pungkasnya.

Ayif menegaskan bahwa DNA utama Muhammadiyah sesungguhnya hanya satu, yakni gerakan dakwah. Namun, dakwah Muhammadiyah tidak terbatas pada ceramah, pengajian, atau dakwah lisan semata. Muhammadiyah juga mengembangkan dakwah bil qalam melalui pemikiran dan tulisan, serta dakwah bil hal melalui aksi nyata dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk ekonomi.

Ia mengajak jemaah untuk menelaah rahasia keberhasilan Muhammadiyah hingga mampu menjadi organisasi besar dengan banyak amal usaha, aset melimpah, dan pengaruh hingga ke mancanegara.

Salah satu kunci utamanya, menurut Ayif, adalah karakter Muhammadiyah sebagai organisasi yang tertib, sistematis, dan masif. Landasan ini tercermin dalam firman Allah Swt. pada Surah Ali Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Menurutnya, kata al-muflihūn dalam ayat tersebut sering kali hanya dimaknai sebagai keberuntungan akhirat. Padahal, secara bahasa, al-falāh juga berarti kesejahteraan, keberhasilan, dan keberuntungan, baik secara spiritual maupun material.

“Gerakan yang terkonsolidasi, tertib, dan sistematis akan melahirkan al-falah. Bukan hanya keberuntungan akhirat, tetapi juga kesejahteraan dunia,” jelasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search