Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM) bukan sekadar dokumen formal, melainkan kompas utama yang menggambarkan arah perjuangan persyarikatan. Dokumen sejarah ini menegaskan tujuh pokok pikiran yang menjadi fondasi sekaligus orientasi gerakan Muhammadiyah.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DKI Jakarta, Ustaz Nur Fajri Romadhon, dalam acara yang digelar PDM Temanggung, Ahad (4/7/2026).
Menurut Nur Fajri, MADM memiliki kedudukan strategis karena memuat tujuan besar perjuangan secara sistematis. Dirumuskan pada masa awal kemerdekaan, tim penyusun dokumen ini diketuai oleh Ki Bagus Hadikusumo—tokoh Muhammadiyah yang juga memimpin penyusunan Pembukaan UUD 1945.
“Jika membaca Pembukaan UUD 1945 dan MADM, nuansanya terasa mirip karena lahir dari perumus yang sama,” ujarnya. Keistimewaan MADM terletak pada perumusan al-uṣūl al-sab‘ah atau Tujuh Pokok Pikiran yang disarikan ke dalam tujuh kata kunci:
- Tauhid: Fondasi utama dan prioritas tertinggi perjuangan.
- Bermasyarakat: Komitmen kader untuk aktif dan hadir di tengah kehidupan sosial.
- Syariat: Menjadikan hukum Allah sebagai pedoman hidup demi kebahagiaan dunia-akhirat.
- Dakwah: Kewajiban menegakkan Islam dan melakukan perbaikan (ishlah) di masyarakat.
- Ittiba’: Meneladani perjuangan para nabi, khususnya Nabi Muhammad saw.
- Organisasi: Alat perjuangan dan sarana dakwah yang paling efektif.
- Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya: Cita-cita akhir gerakan Muhammadiyah.
Amal Usaha sebagai Alat Dakwah
Nur Fajri meluruskan pandangan keliru yang kerap menganggap Muhammadiyah sebatas organisasi pendidikan atau kesehatan.
“Itu kurang tepat. Muhammadiyah adalah organisasi dakwah amar makruf nahi mungkar. Sekolah, rumah sakit, hingga perguruan tinggi semuanya dibangun semata-mata sebagai sarana dakwah,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa semakin besarnya amal usaha Muhammadiyah (AUM), semakin besar pula tantangan bagi warga persyarikatan agar tidak kehilangan orientasi. Jangan sampai energi kader habis untuk berebut jabatan di internal hingga melupakan tujuan besar dakwah.
Nur Fajri menekankan bahwa organisasi bagi Muhammadiyah adalah alat perjuangan, bukan identitas yang melahirkan fanatisme golongan. Warga Muhammadiyah diimbau untuk tetap menghormati perbedaan latar belakang umat Islam dan selalu menyelesaikan dinamika pandangan melalui mekanisme resmi seperti Majelis Tarjih. (*/tim)
