Menjadi pemimpin sekolah bukan sekadar tentang memegang otoritas, melainkan tentang kesiapan mental saat masa jabatan itu berakhir. Pesan mendalam ini menjadi sorotan utama dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Khusus Kepala Sekolah (Diksuspala) yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
Berlangsung di Arayana Hotel Trawas pada 24–28 Juli 2026, agenda strategis ini dihadiri oleh 140 kepala sekolah Muhammadiyah dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Dr. M. Sholihin Fanani, memberikan refleksi tajam mengenai hakikat kepemimpinan di lingkungan pendidikan Muhammadiyah.
“Tugas kepala sekolah yang paling berat adalah ketika sudah tidak menjadi kepala sekolah. Oleh karena itu, manfaatkan masa jabatan untuk memperbaiki diri, bukan memperkaya diri,” tegas Dr. M. Sholihin Fanani, Wakil Ketua PWM Jawa Timur, dalam sesi Fathul Qulub, Selasa (28/7/2026).
Sholihin menekankan bahwa amanah kepemimpinan seyogianya menjadi tempat menempa karakter. Perubahan nyata harus dimulai dari hal-hal mendasar: yang semula kurang disiplin menjadi lebih disiplin, yang jarang berjamah menjadi rajin ke masjid, serta yang enggan menolong menjadi pribadi yang ringan tangan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan kembali marwah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan. AUM tidak didirikan untuk mengejar keuntungan semata, melainkan sebagai akselerator tujuan Muhammadiyah, yakni menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam demi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. AUM juga berfungsi sebagai wadah menyemai kader serta ladang perjuangan.
Tanggung jawab besar kini berada di pundak para kepala sekolah. Pendidikan Muhammadiyah memikul misi vital untuk menyelamatkan masa depan bangsa, memurnikan ajaran Islam, membendung pengaruh negatif dari luar, serta membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, sekolah Muhammadiyah dituntut mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bersih jiwanya, peka terhadap lingkungan, dekat dengan Tuhan, dan peduli sesama. Hal ini hanya bisa dicapai jika para kepala sekolahnya terus mengasah diri.
“Kepala sekolah Muhammadiyah harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan umum dan agama, kapasitas kepemimpinan, kepekaan sosial, serta jiwa pemurah. Merekalah yang harus melahirkan kader unggul, menjadi teladan, sekaligus tempat masyarakat menemukan solusi atas berbagai persoalan,” pungkasnya.
Fathul Qulub ini diawali dengan salat tahajud oleh seluruh peserta dan panitia.
Melalui Diksuspala ini, para pimpinan sekolah diharapkan pulang membawa semangat baru: memimpin dengan keteladanan dan menjadikan jabatan sebagai sarana ibadah yang berdampak luas. || sholihin fanani
