Nasionalisme dan Filantropi Islam dalam Semangat Kebangkitan Nasional

Dr. Soetomo ikut membantu pendirian poliklinik PKO yang kedua pada 1924 di Surabaya, mewakili Hoodbestuur Muhammadiyah. (dok)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

“Nasionalisme tanpa kemanusiaan adalah kehampaan, iman tanpa amal nyata adalah pohon tanpa buah.”

***

Sejarah adalah detak jantung, riwayat tentang darah, air mata, dan kebangkitan spiritual sebuah bangsa yang menolak untuk terus berlutut pada penjajah. Setiap tanggal 20 Mei, kita menyalakan kembali semangat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Lebih dari seabad lalu, tepatnya 20 Mei 1908, fajar peradaban modern Indonesia mulai menyingsing. Lahirnya Boedi Oetomo di tangan para pelajar STOVIA adalah momentum perlawanan kaum tepelajar.

Di bawah prakarsa dr. Wahidin Soedirohoesodo dan kepemimpinan dr. Soetomo, sebuah strategi baru lahir. Perjuangan fisik yang sporadis dan kedaerahan mulai ditinggalkan, digantikan oleh senjata baru yang jauh lebih mematikan bagi penjajah—yaitu pendidikan, diplomasi, dan pengorganisasian modern.

Nasionalisme tidak boleh berhenti sebagai jargon politik yang mengawang-awang di menara gading. Ia membumi, menyentuh luka-luka rakyat yang paling dalam. Di sinilah sejarah mempertemukan tokoh legendaris Kebangkitan Nasional, dr. Soetomo, dengan gerak hidup Muhammadiyah.

Pada tahun 1923, sekembalinya ke Surabaya, dr. Soetomo membawa serta ilmu dan jiwanya untuk mengabdi. Ia tidak memilih kemewahan, melainkan memilih menjadi Medisch Adviseur (Penasihat Medis) Hoofdbestuur Muhammadiyah. Setahun kemudian, pada 1924, tangan dinginnya memelopori berdirinya Poliklinik PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) Muhammadiyah yang kedua di Indonesia.

Di sinilah dakwah kesehatan menemukan bentuk puncaknya. Bersama sahabat karibnya, K.H. Mas Mansur—seorang ulama besar Muhammadiyah—dr. Soetomo mendedikasikan waktu, tenaga, dan pengetahuannya tanpa menerima gaji sepeser pun.

Relasi ini bukanlah kebetulan sejarah. Ini adalah peleburan ideologis yang dahsyat antara nasionalisme yang progresif dengan semangat filantropi Islam berkemajuan. Muhammadiyah memberikan ruang bagi dr. Soetomo untuk mengejawantahkan jiwa kebangkitannya lewat jalur kemanusiaan. Warisan sejarah ini menjadi tonggak kokoh berdirinya Amal Usaha Muhammadiyah bidang Kesehatan (AUMKes) yang hingga hari ini terus menyembuhkan luka bangsa.

Melawan Penjajah Tanpa Wajah

Hari ini, 20 Mei tahun 2026, musuh kita bukan lagi serdadu asing dengan bayonet terhunus. Kita sedang berhadapan dengan musuh-musuh tanpa wajah, kebodohan yang mengakar, kemiskinan struktural, ketimpangan kesehatan, dan hilangnya adab di ruang digital.

Bagaimana kita memaknai Kebangkitan Nasional di masa kini? Apakah kita hanya menjadi bangsa penonton di tengah pusaran modernitas? Sudah saatnya kita bergerak:

  • Bangkit Melawan Ketimpangan: Kebangkitan modern berarti memastikan tidak ada lagi rakyat miskin yang ditolak di rumah sakit. Semangat PKU Muhammadiyah yang dirintis dr. Soetomo harus digandakan sejuta kali lipat di seluruh pelosok negeri.
  • Kedaulatan Berpikir: Sekolah-sekolah dan universitas harus menjadi laboratorium peradaban, bukan sekadar pabrik pencetak ijazah. Kita harus bangkit secara intelektual agar tidak didekte oleh geopolitik global.
  • Sinergi Keumatan dan Kebangsaan: Menghapus dikotomi antara menjadi “Muslim yang baik” dan “Warga Negara yang nasionalis”. Muhammadiyah dan elemen bangsa lainnya telah mencontohkan bahwa mencintai tanah air adalah bagian tak terpisahkan dari iman.

Kebangkitan nasional bukanlah monumen masa lalu yang kita pandang dengan nostalgia yang melankolis. Kebangkitan adalah sebuah kata kerja, bahwa ia menuntut aksi, ketegasan, dan keberanian untuk terus mengarsiteki masa depan.

Mari kita warisi ketegasan sikap dr. Soetomo dan keikhlasan gerakan Muhammadiyah. Selama masih ada kemiskinan yang merenggut martabat manusia, selama masih ada kebodohan yang membelenggu pikiran, maka genderang perang Kebangkitan Nasional tidak boleh berhenti ditabuh.

Bangkitlah jiwanya, bangkitlah badannya, untuk Indonesia yang berkemajuan dan abadi. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search