Bagi masyarakat Tiongkok, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik pengisi waktu luang, melainkan suatu filosofi hidup. Berlari dan bergerak adalah cara mereka membakar semangat hidup demi meraih masa depan.
Gambaran ini terekam jelas selama kunjungan studi delegasi Training on Management and Educational Leadership Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah ke Tiongkok pada 14–18 September 2026.
Menelusuri tiga kota utama—Guangzhou, Foshan, dan Shenzhen—rombongan melihat langsung bagaimana olahraga diintegrasikan secara masif dalam sistem pendidikan sekolah, mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK.

Kesan mendalam langsung terasa saat rombongan menyambangi Xiexi School Guangzhou pukul 07.00 waktu setempat. Pagi yang dingin disambut antusiasme ratusan siswa SMP dan SMA yang sudah bersiap di lapangan. Dipimpin oleh rekan sebayanya yang membawa bendera kelompok dan diiringi alunan musik, para siswa berlari mengelilingi lapangan berstandar internasional yang bersih dan rapi.
Rutinitas ini rupanya bukan sekadar kegiatan sesekali. Berdasarkan penuturan para kepala sekolah setempat, seluruh sekolah di Tiongkok mewajibkan siswa berlari selama 15 menit sebelum masuk kelas setiap pagi.
Aktivitas fisik tak berhenti saat jam pelajaran dimulai. Pemandangan siswa berolahraga kembali terlihat saat siang hari di berbagai sekolah yang dikunjungi:
- SD Shi Hui Min School Guangzhou: Anak-anak memadati halaman sekolah untuk berolahraga di sela jam belajar.
- Shunde Liang Qiuju Vocational Technical School Foshan: Para siswa SMK menjalani latihan fisik dan baris-berbaris yang dipandu langsung oleh personel militer Tiongkok.
- Shenzhen Futian Shixia School dan Hongling Shenkang School Shenzhen: Seluruhnya menunjukkan antusiasme yang sama dengan fasilitas olahraga indoor maupun outdoor yang sangat lengkap.
Sistem pendidikan di Tiongkok memberi porsi yang sangat besar untuk Pendidikan Jasmani (PJ). Untuk tingkat SD, mata pelajaran olahraga diberikan tiga kali dalam seminggu. Sementara untuk tingkat SMP dan SMA, durasinya meningkat menjadi lima kali seminggu.

Dalam satu sesi pelajaran olahraga yang berlangsung dua jam, pembagian dilakukan secara seimbang: satu jam di dalam ruangan (indoor) dan satu jam di luar ruangan (outdoor). Menariknya, kualitas pengajaran dijaga ketat dengan melibatkan mantan atlet berprestasi sebagai tenaga pengajar utama.
Tiga Alasan Utama Dominasi Olahraga
Penekanan pada aktivitas fisik ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Tiongkok menjadikan olahraga sebagai strategi nasional berdasarkan tiga pertimbangan utama:
- Mengatasi Masalah Kesehatan Anak
Kurangnya aktivitas fisik melahirkan ancaman serius berupa tingginya angka obesitas dan rabun jauh (miopia) pada anak-anak. Olahraga rutin terbukti ampuh mencegah diabetes, menjaga kesehatan jantung, serta menekan risiko penurunan daya pandang anak.
- Meningkatkan Fokus dan Konsentrasi Belajar
Aktivitas fisik selama 15–30 menit terbukti merangsang fungsi otak. Senam atau latihan fisik singkat di sela jam pelajaran membuat pikiran siswa kembali segar sehingga lebih siap menerima materi akademik.
- Bagian dari Evaluasi Akademik Resmi
Pemerintah Tiongkok tidak melabeli olahraga sebagai mata pelajaran pelengkap. Di beberapa wilayah, bobot nilai ujian Pendidikan Jasmani bahkan dinaikkan hingga setara dengan mata pelajaran utama seperti Matematika dalam ujian masuk sekolah menengah (Zhongkao).
Pengalaman dari Tiongkok ini memberikan gambaran nyata bahwa pembentukan generasi masa depan yang tangguh tidak hanya bertumpu pada ketajaman akademik di dalam kelas, tetapi juga pada kebugaran fisik yang dibentuk sejak dini di lapangan. || sholihin fanani
