Kisah Yongki, Wisudawan Non-Muslim Asal Papua Temukan Toleransi di UMY

Yongki Sostenes Yesyan
www.majelistabligh.id -

Keraguan sempat menyelimuti pikiran Yongki Sostenes Yesyan saat pertama kali memutuskan melanjutkan studi ke Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Pemuda asal Sorong, Papua Barat Daya, yang beragama Kristen Protestan ini mulanya membayangkan betapa kaku kuliah di kampus berbasis Islam. Namun, bayangan tersebut runtuh begitu ia berani melangkahkan kaki di sana.

Dua tahun berselang, keraguan itu berubah manis. Yongki tak hanya berhasil mematahkan asumsinya sendiri, tetapi juga merasakan langsung hangatnya toleransi serta iklim akademik yang inklusif di UMY.

“Awalnya saya agak ragu. Namun, setelah saya coba, ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Toleransi keagamaan di UMY sangat kuat,” ujar Yongki di sela-sela Wisuda Periode I T.A. 2026/2027 UMY di Sportorium UMY, Kamis (17/9/2026).

Yongki resmi menyandang gelar Magister Ilmu Pemerintahan setelah menempuh studi sejak 2024. Selama kurun waktu tersebut, ia menemukan bahwa perbedaan keyakinan sama sekali tidak menjadi penghalang dalam berinteraksi sosial maupun menuntut ilmu.

“Ngobrol dengan teman-teman rasanya biasa saja, santai, dan tidak tegang. Kami membahas perkuliahan sekaligus bertukar pikiran. Suasana aslinya sangat berbeda dari pandangan luar tentang kampus Islam,” ungkapnya.

Bagi Yongki, UMY menjadi ruang belajar hidup yang memberinya pelajaran berharga: bahwa pendidikan mampu mempertemukan perbedaan tanpa harus mengikis keyakinan masing-masing.

Dari Nihil Karya Hingga Terindeks Mesin Pencari

Perjalanan studi Yongki di UMY tak sekadar tentang pengalaman keberagaman, tetapi juga lompatan karier akademik. Sebelum kuliah di UMY, ia mengaku belum pernah memublikasikan karya ilmiah satu pun.

“Dulu saya tidak punya publikasi artikel. Seolah Google saja tidak kenal siapa saya. Sekarang saya sangat bersyukur, kalau nama saya diketik di Google, karya ilmiah saya sudah muncul. Terima kasih sebesar-besarnya untuk UMY,” tandasnya.

Proses pembimbingan di kampus berhasil mendorong keberaniannya untuk berkarya dan berkontribusi dalam dunia akademik.

Mengakhiri masa studinya, Yongki membawa pulang pengalaman berharga ini sebagai pesan bagi para calon mahasiswa, khususnya yang berasal dari latar belakang non-Muslim dan sempat ragu menempuh studi di kampus berbasis Islam.

“Jangan dipandang dari jauh, intinya coba dulu. Jangan sekadar mendengar kata orang. Yang terpenting adalah rasa penasaran terhadap ilmu. Di mana pun ilmu itu berada, kita harus berjuang,” tegasnya.

Perjalanan Yongki dari Sorong hingga Yogyakarta menjadi bukti nyata bahwa keberanian untuk mencoba dapat melunturkan prasangka, dan bahwa ruang pendidikan sejatinya adalah milik siapa saja yang haus akan ilmu. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search