Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyoroti aksi penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menewaskan tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya di Kampung Muliama, Papua Pegunungan.
Ia mendesak aparat TNI-Polri dan pemerintah mengambil langkah taktis untuk memperketat perlindungan bagi masyarakat di tanah Papua.
Peristiwa tragis itu terjadi pada Rabu (9/9/2026) lalu, ketika rombongan Dinas Pertanian Jayawijaya yang berjumlah 11 orang dihadang kelompok bersenjata saat perjalanan menuju Wamena usai mendistribusikan bantuan ternak.
Para pelaku memisahkan rombongan menjadi dua kelompok. Delapan warga lokal dibiarkan selamat, sementara tiga pegawai non-Papua—AR (49), AAM (35), dan WB (24)—ditembak hingga tewas.
Menanggapi insiden tersebut, Haedar menilai konflik keamanan di Papua merupakan persoalan klasik dan kompleks yang membutuhkan kesabaran serta kesungguhan penanganan dari pemerintah pusat maupun daerah.
“Di Papua itu problemnya klasik. Pihak TNI-Polri maupun pemerintah sejak dulu menempatkan mereka sebagai gerombolan kriminal kolektif,” ujar Haedar.
Haedar menekankan pentingnya pengamanan yang presisi. Menurutnya, perlindungan terhadap warga negara harus ditingkatkan tanpa memicu kepanikan publik atau memberi kesan bahwa Papua adalah daerah yang tidak aman secara menyeluruh.
“TNI, Polri, dan aparat pemerintah perlu punya langkah-langkah taktis yang bisa lebih melindungi warga negara kita atau masyarakat setempat di Papua, tanpa menciptakan alarm bahwa Papua tidak aman,” tegasnya.
Mengungkapkan rasa keprihatinan yang mendalam atas gugurnya ketiga petugas tersebut, Haedar berharap ada tindakan konkrit dan cepat dari pihak berwenang agar aksi kekerasan serupa tidak terus berulang di masa mendatang. (*/tim)
