“Jadilah mawar merah yang tidak hanya indah dipandang, namun akarnya menghujam bumi keimanan dan harumnya menembus langit kemajuan.”
***
Saat dunia masih membelenggu perempuan dalam doktrin sempit “dapur, sumur, kasur,” sekumpulan gadis muda berdiri melawan arus. Pada 27 Rajab 1335 H atau 19 Mei 1917 M, bertepatan dengan peristiwa agung Isra Mi’raj, ‘Aisyiyah lahir sebagai organisasi, sekaligus sebuah letupan kesadaran.
Kini, 109 tahun kemudian, di tahun 2026, gema itu belum surut. Ia justru menjadi simfoni yang kian lantang di tengah riuh rendah zaman.
Sejarah mencatat bahwa kelahiran ‘Aisyiyah bermula dari Sapa Tresna di tahun 1914, sebuah perkumpulan kecil di mana pikiran-pikiran cerdas perempuan di sekitar Kauman, Yogyakarta, diasah. Di sana, KH Ahmad Dahlan dan Nyai Siti Walidah menyemai benih-benih keberanian. Mereka mendobrak konstruksi sosial kolonial yang memenjarakan perempuan dalam ketidaktahuan. Perempuan bukanlah pelengkap, melainkan pilar penyangga semesta.
Nama ‘Aisyiyah, yang diusulkan oleh KH Fachrodin, bukanlah sekadar label. Ia adalah doa sekaligus cita-cita. Mengambil inspirasi dari Ummul Mukminin, Aisyah ra., sang intelektual padang pasir yang cerdas dan mumpuni, ‘Aisyiyah menegaskan bahwa iman dan ilmu adalah dua sayap yang tak boleh dipisahkan. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah adalah pasangan serasi dalam dakwah, yang bergerak beriringan, bukan mengekor di belakang.
Siti Bariyah dan Mitos Kepemimpinan
Menarik untuk menengok kembali catatan sejarah, bahwa saat ‘Aisyiyah lahir, bukan Nyai Ahmad Dahlan yang menjadi ketuanya, melainkan Siti Bariyah, salah satu kader muda terbaik hasil didikan Ahmad Dahlan. Ini adalah sebuah pernyataan tegas tentang keberhasilan kaderisasi. ‘Aisyiyah mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah soal kompetensi dan visi, bukan sekadar senioritas atau garis keturunan.
Para “Sang Pemula” ini—Siti Bariyah, Siti Badilah, hingga Siti Dawimah—adalah arsitek perubahan. Di saat perempuan lain dilarang bersekolah, mereka justru mendirikan Frobel School pada 1919 sebagai cikal bakal TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA), pelopor pendidikan anak usia dini di Indonesia.
Mereka juga menerbitkan majalah Suara ‘Aisyiyah pada 1926 untuk menyebarkan api pemikiran melampaui batas-batas tembok rumah. Mereka adalah bukti nyata bahwa perempuan yang beriman adalah perempuan yang mampu melahirkan solusi bagi bangsanya.
Landasan teologis ‘Aisyiyah sangatlah kokoh, bersandar pada spirit bahwa laki-laki dan perempuan adalah mitra dalam kebajikan. Kalimat “Kaum Islam laki-laki dan kaum Islam isteri sebagian menolong sebagiannya…” menjadi pedang yang memutus rantai dogma “swarga nunut neraka katut” (ke surga ikut, ke neraka terbawa).
Islam Berkemajuan yang diusung ‘Aisyiyah tidak melihat jilbab sebagai penghalang kreativitas, melainkan sebagai identitas kemuliaan. Di ruang publik, mereka berdakwah; di ruang pendidikan, mereka mengajar; di ruang kesehatan, mereka menyembuhkan.
Perempuan Berkemajuan di Tahun 2026
Hari ini, tantangan kita berbeda namun akarnya tetap sama. Menjadi perempuan ‘Aisyiyah di masa kini berarti menjadi individu yang beriman secara substantif dan berkemajuan secara aplikatif. Pilar-pilar itu terbangun melalui:
- Iman yang Menggerakkan: Iman bukan hanya rukuk dan sujud yang sunyi. Iman adalah bahan bakar untuk melawan ketidakadilan, kemiskinan, dan kebodohan. Perempuan beriman adalah mereka yang tangannya sibuk bekerja saat hatinya terpaku pada Ilahi.
- Intelektualitas yang Mumpuni: Di era disrupsi digital, kecerdasan Siti Aisyah harus mewujud dalam literasi teknologi dan kritis dalam menyaring informasi. Kita tidak boleh menjadi konsumen peradaban, melainkan produsen pemikiran.
- Kemandirian dan Keteguhan: Seperti Siti Walidah yang menjadi pembimbing setia tanpa kehilangan jati diri, perempuan masa kini harus berani mengambil keputusan strategis bagi hidup dan masyarakatnya.
Seabad lebih perjalanan ‘Aisyiyah telah membuktikan bahwa istikamah adalah kunci. Dari gang-gang sempit kampung Kauman, ‘Aisyiyah telah mewarnai wajah Indonesia dengan keanggunan akal dan kemurnian tauhid.
Selamat Milad ke-109, ‘Aisyiyah. Teruslah menjadi mawar merah di garis depan peradaban. Sebab di tangan perempuan yang terdidik dan beriman, masa depan sebuah bangsa dititipkan. (*)
