Perniagaan yang Tiada Merugi

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Perniagaan adalah  kegiatan yang dilakukan oleh orang untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan atau rezeki dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya dengan cara mengelola sumber daya ekonomi secara efektif dan efisien.

Secara khusus, Skinner mendefinisikan perniagaan  sebagai pertukaran barang, jasa, atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat.

Perniagaan adalah pekerjaan yang spekulatif di mana pedagangnya pasti akan menemui satu dari dua kemungkinan, kalau tidak untung, ya rugi. Jika keuntungannya melimpah, dia akan menjadi orang kaya. Sebaliknya jika ia merugi dalam jumlah yang besar akan bangkrut dan jatuh miskin.

Berniaga  dengan Allah adalah segala muamalah  dilakukan dengan niat tulus untuk mendapatkan kebaikan dan rida Allah Swt sekaligus. Berniaga dengan Allah ta’ala, tidak pernah akan merugi selamanya. Allah subhana wa ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, mendirikan salat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tiada merugi.” (QS. Fathir: 29)

Imam asy-Syaukani berkata, “Allah menjadikan amalan-amalan (saleh) tersebut kedudukannya seperti ‘perniagaan’, karena orang-orang yang melakukannya akan meraih keuntungan (besar) sebagaimana mereka meraih keuntungan dalam perniagaan (duniawi), keuntungan (besar) itu adalah masuknya mereka ke dalam surga dan selamat dari (siksa) neraka.” (Kitab Fathul Qadiir, 5/311).

Inilah ‘perniagaan’ yang paling agung, karena menghasilkan keuntungan yang paling besar dan kekal abadi selamanya. Inilah ‘perniagaan’ yang dengannya akan diraih semua harapan kebaikan dan terhindar dari semua keburukan yang ditakutkan. Inilah perniagaan yang jelas lebih mulia dan lebih besar keuntungannya daripada perdagangan duniawi yang dikejar oleh mayoritas manusia. (Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 4/463).

Terdapat tiga perniagaan yang tidak akan pernah merugi yang Allah sebutkan dalam ayat di atas, yakni: Membaca Al Quran, menegakkan salat dan berinfak di jalan Allah.

Membaca Al Quran

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَن عُقبةً بنِ عَامِرٍ رَضيِ اللٌهٌ عَنهٌ قَالَ خَرَجَ عَلَينًا رَسُولٌ اللٌه صَلْي اللٌه عَلَيهِ وَسَلٌمَ وَنخَنُ فيِ الصفٌةِ فَقَالَ اَيٌكُم يُحبٌ اَن يَغدُ وَ كُلٌ يَومٍ اِلي بُطحَانَ اَواَلى الَعقَيقَ فَيَاٌتيِ بِنَاقَتَينِ كَومَاوَينِ فِي غَيِر اِثمٍ وَلآ قَظيعَةِ رَحَمٍ فَقُلنَا يَارَسُولَ اللٌهِ كُلٌنَا نُحِبٌ ذَالِكَ قَالَ اَفَلآ يَغدُو اَحَدُكُمَ اِلَى المسَجِدِ فَيَتَعَلَمَ اَوفَيَقَرٌاَ ايَتَينِ مِن كِتَابِ اللٌه خَيرٌلَه مِن نَاقَتَينِ وَثَلآثُ خَيرُلَه مِن ثَلآثٍ وَاَربَعُ خَيرُلَه من اربع ومن اعدادهن من الأبل .(رواه مسلم وابو داوود).

Dari Uqbah bin Amir RA, ia menceritakan, “Rasulullah saw datang menemui kami di Shuffah, lalu beliau bertanya: ‘Siapakah di antara kalian yang suka pergi setiap hari ke pasar Buth-han atau Aqiq lalu ia pulang dengan membawa dua ekor unta betina dari jenis yang terbaik tanpa melakukan satu dosa atau memutuskan tali silaturahmi?’ Kami menjawab: Ya Rasulullah , kami semua menyukai hal itu.’ Rasulullah bersabda: ‘Mengapa salah seorang dari kalian tidak ke masjid lalu mempelajari atau membaca dua buah ayat Al-Qur’an (padahal yang demikian itu) lebih baik baginya dari pada dua ekor unta betina, tiga ayat lebih baik dari tiga ekor unta betina, dan begitu pula membaca empat ayat lebih baik baginya daripada empat ekor unta betina, dan seterusnya sejumlah ayat yang dibaca mendapat sejumlah yang sama dari unta-unta.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Jika kita telaah hadis di atas dengan seksama, maka akan kita dapatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berbincang dengan para sahabatnya dengan menggunakan bahasa-bahasa perniagaan, di mana beliau bertanya kepada para sahabatnya, ”Siapa diantara kalian yang mau pergi setiap hari ke Bathhan atau lembah ‘Aqiq, lalu ia pulang dengan membawa keuntungan dua ekor unta yang besar punuknya.”

Selanjutnya beliau menyebutkan bahwa berniaga dengan cara membaca dua, tiga, empat ayat atau lebih, lebih besar keuntungannya bila dibandingkan dengan sekedar dua, tiga dan empat unta, padahal hewan ternak unta ini adalah hewan termahal di zaman beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Janji Allah di akhirat lebih baik lagi. Allah akan menyematkan di kepalanya mahkota kebesaran dan orang tuanya pun akan ikut merasakan kebahagiaan, karena akan mendapatkan pakaian berupa jubah kebesaran. Rasululullah saw bersabda:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا مِنْ نُورٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ضَوْؤُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا، فَيَقُولَانِ: بِمَ كُسِينَا هَذَا؟

فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ

“Barang siapa membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka pada hari kiamat kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota dari cahaya. Cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Lalu kedua orang tuanya bertanya, ‘Dengan sebab apa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anak kalian mengambil (mempelajari dan menghafal) Al-Qur’an.’”

Al Quran adalah kalamullah yang agung. Maka siapapun yang membaca, menghafal, dan mengamalkannya akan mendapat derajat yang agung dan mulia pula disisi-Nya di akhirat kelak.

Menegakkan salat

Karena agungnya urusan salat, Allah langsung menyampaikan kewajiban ini kepada Nabi-Nya tanpa perantara dalam peristiwa isra’ dan mi’raj. Dan perkara salat inilah yang diwasiatkan Rasulullah terakhir kali sebelum beliau wafat.

Pahala orang yang mengerjakan salat berjamaah di masjid sangatlah besar, setiap langkah kaki akan menghapuskan berbagai dosa dan mengangkat beberapa derajat, sebagaimana sabda Nabi saw kepada para sahabatnya:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ. (رواه مسلم)

“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah serta Ibnu Hujr semuanya dari Ismail bin Ja’far, Ibnu Ayyub berkata, telah menceritakan kepada kami Ismail telah mengabarkan kepada kami Al Ala’ dari bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudu pada saat yang tidak disukai (seperti keadaan yang sangat dingin), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu salat berikutnya setelah salat. Maka itulah ribath.” (HR. Muslim, no. 251)

Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa terhapusnya kesalahan, berarti ibarat diampuninya dosa. Juga bisa maknanya adalah dihapuskan dosa dari kitab cacatan. Itu juga maknanya dosa tersebut diampuni. Sedangkan meninggikan derajat, maksudnya meninggikan derajatnya di surga.

Isbaghul wudu maksudnya adalah menyempurnakan wudu. Menyempurnakan wudhu ketika sulit maksudnya menyempurnakannya ketika keadaan sangat dingin, badan dalam keadaan tidak fit, atau semisal itu.

Hadis ini juga menjelaskan keutamaan rumah yang jauh dibanding yang dekat karena makin jauh rumah, makin banyak Langkah sehingga ampunan yang diperoleh semakin luas.

Berinfak fi sabilillah

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

Adapun balasan yang disediakan di akhirat sungguh sangat berlimpah, di antaranya: mendapat naungan dari terik matahari tatkala di padang mahsyar. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُحْكَمَ بَيْنَ النَّاسِ

“Setiap seseorang berada dibawah naungan sedekahnya pada hari kiamat, hingga tiba waktu perhitungan manusia” Ṣaḥīḥ Ibnu Ḥibbān 3310. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search