Pesan Haedar Nashir: Perempuan Muda Muhammadiyah Harus Berilmu, Moderat, dan Berkemajuan

Haedar Nashir hadir dalam Muktamar NA yang dihadiri ribuan peserta. (ist)
www.majelistabligh.id -

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, secara resmi membuka Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah (NA) di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat (7/8/2026). Di hadapan 6.700 peserta dari seluruh Indonesia, Haedar mengajak kader perempuan muda Muhammadiyah untuk menjadikan forum ini sebagai arah proyeksi masa depan gerakan yang berkemajuan.

Mengangkat tema “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”, Haedar mengapresiasi perjalanan Muktamar dan menyampaikan empat pesan utama:

  1. Musyawarah Berbasis Ilmu dan Hikmah (Bil ‘Ilmi wal Hikmah): Muktamar bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan wadah tertinggi untuk merumuskan persoalan dan program strategis. Haedar menekankan pentingnya Sila Keempat Pancasila—musyawarah dan kebijaksanaan—sebagai kunci penyelesaian masalah bangsa.
  2. Mempererat Ukhuwah dan Kasih Sayang: Keragaman dalam organisasi harus menjadi modal memperkuat gerakan, bukan sumber perpecahan.
  3. Menjaga Komitmen Nilai Perjuangan: Kunci keberlanjutan Muhammadiyah dan amal usahanya terletak pada konsistensi menjaga nilai-nilai dasar pendirian organisasi.
  4. Proyeksi Masa Depan dan Kegembiraan: Forum organisasi harus merumuskan peran konkret NA bagi umat dan bangsa, serta dijalani dengan suasana gembira agar beban berat terasa ringan.

Mengenai tema peradaban berkelanjutan, Haedar mengingatkan bahwa visi besar ini memerlukan kekuatan spiritual yang bersumber dari iman, takwa, ibadah, dan akhlakul karimah.

Ia menekankan agar kader NA mewaspadai pergeseran moral akibat arus humanisme sekuler dan dinamika media sosial. Menurutnya, pemanfaatan media sosial yang tidak bijak dapat mendangkalkan keilmuan.

Selain itu, Haedar mendorong kader NA untuk memegang teguh sikap wasathiyah (moderat) dan inklusif—terbuka terhadap perbedaan tanpa mengorbankan prinsip Islam Berkemajuan. Menghadapi era Artificial Intelligence (AI) serta gagasan transhumanisme, kader NA dituntut untuk terus memperkaya akal dan menjaga kejernihan kalbu agar tidak kehilangan jati diri sebagai khalifah fil ‘ardh.

“Nasyiatul Aisyiyah harus hadir di garis depan. Berilah teladan bukan sekadar lewat kata-kata, tetapi melalui aksi nyata—sedikit bicara, banyak bekerja,” pungkas Haedar. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search