Pesantren bukan sebatas tempat orang belajar agama. Pesantren adalah salah satu ruang penting tempat bangsa ini merawat nilai, karakter, dan jati dirinya. Karena itu, berbicara tentang pesantren sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan umat dan masa depan bangsa.
Pesantren memiliki karakter yang khas. Kekhasan itu harus dijaga. Bukan berarti pesantren kemudian berjalan sendiri dan terlepas dari pembinaan negara. Justru di sinilah diperlukan perkawinan yang semakin kuat, antara karakter kepesantrenan dengan kebijakan pendidikan nasional. Jika keduanya dipertemukan dengan baik, yang lahir bukan penyeragaman, melainkan penguatan.
Di sinilah agama memiliki peran yang sangat penting. Beragama tidak cukup hanya dengan memiliki religiousness, yaitu keterikatan pada simbol dan praktik keagamaan. Kita membutuhkan religious mindedness, cara berpikir yang dipengaruhi oleh nilai-nilai agama.
Agama tidak berhenti di masjid, madrasah, atau pesantren. Ia harus hadir dalam cara kita memperlakukan sesama, menjaga lingkungan, menghormati perbedaan, dan menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara.
Orang yang memiliki religious mindedness tidak hanya bertanya, “Apa yang agama katakan?” tetapi juga, “Bagaimana nilai agama itu menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan?”
Karena itu, pesantren juga merupakan penjaga identitas umat. Identitas bukan hanya pakaian, bahasa, simbol, atau tradisi yang tampak dari luar. Identitas yang lebih dalam adalah cara berpikir, akhlak, tradisi keilmuan, dan orientasi hidup. Makna identitas umat sangat luas yang terimplementasi dalam kehidupan khas.
Pesantren memiliki warisan keilmuan yang panjang. Di dalamnya terdapat tradisi membaca, mengkaji, berdiskusi, menghormati guru, menghargai perbedaan pendapat, serta menghubungkan ilmu dengan akhlak. Warisan seperti inilah yang harus terus dirawat agar umat tidak kehilangan akar ketika menghadapi perubahan zaman.
Namun ada satu hal yang tidak kalah penting, yaitu pesantren harus menjadi penjaga kompas kemanusiaan. Dunia boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Kecerdasan buatan boleh semakin canggih. Tetapi manusia tetap membutuhkan arah. Apalagi saat ini ada perkembangan ASI (Artificial Super Intelligence) yang memiliki kecanggihan luar biasa dibandingkan AI yang kita kenal belakangan ini.
Kita membutuhkan kompas untuk membedakan mana yang boleh dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak dilakukan; mana yang membawa kemaslahatan dan mana yang menimbulkan kerusakan. Agama pada akhirnya bukan hanya mengajarkan bagaimana manusia berhubungan dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana manusia memuliakan manusia.
Karena itu, pesantren harus mampu melahirkan manusia yang kuat iman, luas ilmu, baik akhlaknya, dan luas kemanusiaannya. Santri tidak cukup hanya menjadi orang yang saleh secara individual. Ia juga harus memiliki kepedulian terhadap masyarakat, bangsa, lingkungan, dan kemanusiaan.
Pesantren harus berakar kuat, tetapi tidak kehilangan pandangan ke depan. Jika karakter kepesantrenan bertemu dengan kebijakan pendidikan yang baik, jika nilai agama bertemu dengan kecintaan kepada bangsa, dan jika kedalaman spiritual bertemu dengan kepedulian kemanusiaan, maka pesantren tidak hanya akan melahirkan orang-orang yang memahami agama.
Pesantren akan melahirkan manusia yang beragama dengan pikiran yang terang, berbangsa dengan hati yang lapang, dan berkemanusiaan dengan akhlak yang mulia. Di situlah pesantren menemukan makna strategisnya bagi Indonesia. (*)
