Prof. Dadang Kahmad Dorong SMK Mutu Gondanglegi Terus Unggul melalui Keikhlasan dan Ihsan

Prof. Dadang Kahmad Dorong SMK Mutu Gondanglegi Terus Unggul melalui Keikhlasan dan Ihsan
www.majelistabligh.id -

Keunggulan pendidikan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh kemegahan fasilitas dan besarnya jumlah murid, tetapi juga oleh keikhlasan dalam mengabdi, kesungguhan dalam mendidik, serta komitmen menghadirkan pendidikan yang bermutu. Pesan tersebut disampaikan  Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dadang Kahmad dalam pembinaan di SMK Muhammadiyah 7 (Mutu) Gondanglegi, Malang,  Sabtu (10/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dadang  memberikan penguatan kepada pimpinan sekolah dan para guru agar terus menjaga kualitas pendidikan, memperkuat dakwah Muhammadiyah, serta merawat prestasi yang telah diraih. Pembinaan ini didampingi Hendra Apriyadi, S.Pd, MPd selaku Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Kepala SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Munali, ST, MPd memperkenalkan perkembangan sekolah sekaligus memberikan gambaran mengenai perjalanan dan capaian institusi tersebut. Berdiri sejak 1994, SMK Mutu terus bertumbuh dengan pembangunan gedung baru pada 2012. Kini, sekolah tersebut memiliki 2.512 murid dan telah melalui empat generasi kepemimpinan.

Prestasi juga menjadi bagian dari perjalanan sekolah. Berbagai capaian yang diraih, termasuk keberhasilan menjadi juara pertama secara berturut-turut dalam ajang yang diikuti, menjadi bukti pentingnya konsistensi dalam membangun budaya berprestasi. Munali menegaskan pentingnya penguatan pengembangan sekolah dan dakwah sebagai bagian dari ikhtiar memajukan pendidikan Muhammadiyah.

Dalam arahannya, Prof. Dadang Kahmad menyampaikan apresiasi atas perkembangan SMK Mutu. Ia mengaku bangga dapat hadir dan menyaksikan secara langsung kemajuan sekolah, termasuk fasilitas bangunan yang mendukung kegiatan pendidikan.

“Bangunannya luar biasa dan tentu menjadi kebanggaan bagi bapak dan ibu guru. Muhammadiyah memiliki banyak amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan yang harus dikelola secara serius agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Menurutnya, usia 32 tahun merupakan fase kematangan bagi sebuah lembaga pendidikan untuk semakin memperkuat kualitas, menjaga kepercayaan masyarakat, dan memperluas kontribusi bagi bangsa. Karena itu, keunggulan yang telah diraih harus dirawat melalui kerja nyata dan komitmen bersama.

Prof. Dadang juga mengingatkan agar seluruh warga sekolah tidak cepat berpuas diri. Prestasi yang telah dicapai bukan alasan untuk berhenti berjuang, melainkan amanah yang harus dijaga agar kualitas sekolah tidak mengalami kemunduran.

Ia menekankan dua prinsip penting yang perlu menjadi pegangan dalam menjalankan amanah pendidikan, yaitu ikhlas dan ihsan.

Prinsip ikhlas berarti bekerja dan mengabdi dengan niat tulus karena Allah Swt., bukan semata-mata untuk mendapatkan penghargaan atau keuntungan pribadi. Ia mengingatkan pentingnya sikap qanaah, yakni menerima dengan penuh syukur atas rezeki yang diberikan Allah Swt., sembari terus berikhtiar memberikan yang terbaik.

Untuk memperkuat pesan tersebut, Prof. Dadang mencontohkan kesederhanaan tokoh Muhammadiyah, termasuk Prof. Dr. Abdul Mu’tie yang dikenal hidup sederhana meskipun memiliki kedudukan dan kontribusi besar. Keteladanan itu mengajarkan, nilai pengabdian tidak diukur dari kemewahan, tetapi dari ketulusan dan manfaat yang diberikan.

“Keikhlasan menjadi bekal penting dalam menjalankan amanah. Apa yang kita lakukan dengan niat yang benar akan menjadi pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Mendidik merupakan ibadah yang sangat mulia, dan ilmu yang bermanfaat dapat menjadi amal jariah yang terus mengalir,” ungkapnya.

Prinsip kedua adalah ihsan, yaitu melakukan setiap pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Dalam konteks pendidikan, ihsan diwujudkan melalui kesungguhan guru dalam mengajar, keteladanan dalam bersikap, kedisiplinan menjalankan tugas, serta kepedulian terhadap perkembangan murid.

Guru tidak hanya bertanggung jawab menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan menyiapkan generasi yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat. Dengan semangat ihsan, setiap proses pembelajaran menjadi bagian dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pembinaan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sekolah Muhammadiyah harus dibangun melalui perpaduan antara kualitas akademik, prestasi, fasilitas yang memadai, dan kekuatan nilai-nilai keislaman. Keunggulan bukan sekadar identitas yang dibanggakan, melainkan amanah yang harus terus dipelihara dan diwujudkan dalam pelayanan pendidikan.

Melalui semangat ikhlas dan ihsan, SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi diharapkan terus menjaga prestasi, memperkuat dakwah, serta melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan berkemajuan. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat pengabdian yang memberikan manfaat luas bagi umat, bangsa, dan persyarikatan Muhammadiyah. (rizka sri wulandari)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search