Keragaman Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang luar biasa. Guna merawatnya, diperlukan semangat persaudaraan, bukan permusuhan. Semangat inilah yang melandasi dakwah pencerahan Muhammadiyah dalam memperkokoh persatuan bangsa.
Untuk mewujudkan kehidupan yang aman dan damai, optimalisasi program kepedulian bersama Sahabat Deradikalisasi mutlak diperlukan. Meskipun Indonesia bukan negara Islam, ruh ajaran Islam secara nyata telah mewarnai perundang-undangan negara sekaligus memperkuat pemahaman atas kemajemukan budaya.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Ahmad Tholhah, dalam acara Dialog Kebangsaan Bersama Sahabat Deradikalisasi: Sinergi Program LDK PWM Jatim dan FKPT Jatim. Acara ini berlangsung di Kantor PWM Jawa Timur pada Kamis (4/6/2026).
“Sinergi program ini berdampak besar dalam upaya pencegahan aksi terorisme. Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti di ruang dialog saja, melainkan berlanjut pada pembukaan ruang dakwah untuk penguatan spiritual sekaligus peningkatan kesejahteraan sosial. Khususnya bagi Sahabat Deradikalisasi yang selama ini telah berjalan bersama LDK PWM Jatim dalam dakwah yang mencerahkan dan menyejahterakan,” ujar Tholhah.
Senada dengan hal itu, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati, M.Ag., menyampaikan rasa syukurnya atas terwujudnya kolaborasi edukasi pencegahan terorisme ini.
Menurut Prof. Husniyatus, silaturahmi dan dialog kebangsaan bersama Sahabat Deradikalisasi dari komunitas Pejuang Damai ini merupakan langkah nyata, sebab kedamaian di tengah bangsa yang plural harus terus diperjuangkan. Melalui dialog, ruang komunikasi akan terbuka demi terciptanya kehidupan yang aman, rukun, dan sejahtera.
Meneguhkan Darul Ahdi wa Syahadah
Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Dr. Sholihin Fanani. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa sikap Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah sangat jelas, sebagaimana tertuang dalam konsep Darul Ahdi wa Syahadah (negara kesepakatan dan kesaksian).
“Sebagai negara kesepakatan, umat Islam diharapkan berkontribusi aktif mengisi kemerdekaan. Tujuannya adalah mengantarkan umat manusia menuju gerbang kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat,” tutur Sholihin.
Sebelum sesi dialog inti dimulai, acara diselingi dengan penyerahan bingkisan secara simbolis dari BAZNAS Republik Indonesia. Bingkisan tersebut diserahkan oleh Ketua FKPT Jatim kepada perwakilan Sahabat Deradikalisasi. Tercatat, ada lebih dari 30 anggota komunitas Pejuang Damai—yang merupakan eks narapidana terorisme (napiter) dan telah berikrar setia kepada NKRI—hadir dari wilayah Surabaya dan Sidoarjo.
Merawat Kebangsaan Lewat Pancasila
Memasuki sesi diskusi, Kabid Penelitian dan Pengkajian FKPT Jatim, Dr. (CD) Muhammad Arifin, hadir sebagai narasumber. Ia menjelaskan bahwa keragaman Indonesia di bawah naungan Bhineka Tunggal Ika mengamanatkan bangsa ini untuk saling mengenal (lita’arofu), bukan saling memusuhi.
“Rambu-rambu ber-NKRI harus tetap berpegang teguh pada Pancasila agar bangsa ini tetap jaya. Kita harus selalu waspada terhadap upaya adu domba. Mari berlomba-lomba dalam kebaikan untuk merawat kebangsaan,” ajak Ustaz Arifin yang juga menjabat sebagai Ketua LDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Di sela-sela pemaparan datanya mengenai kekayaan bangsa, Ustaz Arifin mengajak seluruh peserta menyanyikan lagu Syukur. Lagu tersebut berkumandang syahdu dan diikuti dengan penuh khidmat oleh seluruh hadirin.
Para peserta tampak sangat antusias. Mereka aktif memberikan pandangan, masukan, dan pertanyaan. Salah satu peserta bahkan membagikan pengalamannya saat masih berada di tahanan khusus. Ia menceritakan bahwa diskusi mengenai Pancasila sebagai konsensus nasional di dalam jeruji besi telah membuka wawasannya secara mendalam. Baginya, dialog kebangsaan seperti ini semakin memperkaya pengetahuan mereka.
Menutup rangkaian acara, Bendahara FKPT Jatim, Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, M.Ag., menambahkan bahwa ber-Islam di Indonesia terasa sangat indah karena diwarnai oleh keragaman dan kearifan lokal yang memperkuat persaudaraan.
“Jika kita pelajari rekam jejak sejarah para nabi, suasananya selalu penuh toleransi. Oleh karena itu, di Indonesia ini, kita harus tetap menjaga semangat ber-NKRI, menjunjung tinggi sumpah setia, serta menjauhi segala bentuk hal yang dapat merusak persatuan,” pungkasnya. || Andi Hariyadi (Anggota LDK PWM Jatim)
