Ramadan: Antara Kemuliaan Waktu dan Kesempurnaan Amal

Ramadan: Antara Kemuliaan Waktu dan Kesempunaan Amal
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”Time is only a witness, but charity is proof. Don’t just obsess over a good time to die, but try to be the best person when death comes”
​”(Waktu hanyalah saksi, namun amal adalah bukti. Jangan hanya terobsesi pada waktu yang baik untuk mati, tetapi berusahalah menjadi pribadi terbaik saat maut menjemput)”

​Fenomena berpulangnya seseorang di bulan Ramadan sering kali menyapa telinga kita dan secara umum dipandang sebagai kabar yang menyejukkan. Seketika, lini masa media sosial pun dibanjiri ucapan belasungkawa serta untaian doa husnul khatimah.

​Banyak yang meyakini fenomena ini sebagai isyarat langit, sebuah akhir perjalanan yang indah atau husnul khatimah. Namun, benarkah waktu kematian menjadi satu-satunya penentu?

​Dalam ajaran Islam, tolok ukur utama keselamatan seorang hamba adalah akumulasi rekam jejak amal perbuatan selama hidup di dunia, bukan sekadar momentum saat napas terakhir dilepaskan. Waktu adalah wadah, namun amal adalah isinya. Allah SWT telah menegaskan dengan gamblang dalam Al-Qur’an:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ
Artinya:
“(Allah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya …..”” (Qs. Al-Mulk: 2)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah menciptakan kematian dan kehidupan sebagai ujian untuk menentukan siapa yang paling baik amalnya.

​Fakta yang sering terlupakan adalah meski Ramadan merupakan bulan yang penuh kemuliaan, wafat di dalamnya tidak secara otomatis menjadi jaminan surga tanpa landasan iman yang kokoh. Kemuliaan Ramadan tidak akan memberi manfaat bagi jiwa yang semasa hidupnya lalai dari ketaatan.

​Sejatinya, amal salih yang dilakukan secara konsisten (istiqamah) itulah yang menjadi tanda autentik dari akhir yang baik. Inilah rahasia besarnya; hal ini dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis: Dalam riwayat disebutkan,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
Artinya:
Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari No. 6607)

​Alih-alih sekadar menanti waktu yang “cantik” untuk pergi, fokus utama seorang Muslim seharusnya adalah memacu kualitas ibadah, mulai dari tarawih, tadarus, zikir, hingga zakat dan sedekah, selama napas masih dikandung badan. Pertanyaannya, sudahkah bekal kita cukup?

​Jangan sampai kita terbuai oleh euforia keutamaan waktu tertentu, namun abai dalam mempersiapkan bekal yang nyata. Sadarilah, konsistensi adalah kunci. Sebagaimana Allah berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْن
Artinya:
​”Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Qs. Al-Hijr: 99).

Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk konsisten (istiqamah) beribadah kepada Allah sepanjang hayat, sebagai penenang hati saat menghadapi tekanan, serta menegaskan bahwa ajal adalah batas akhir kewajiban beribadah di dunia.

​Akhirnya, meninggal di bulan Ramadan memang sebuah kado istimewa yang patut disyukuri. Namun, yang jauh lebih krusial adalah memastikan kondisi iman dan amal salih kita berada di puncak tertingginya saat maut datang mengetuk pintu.

Semoga bermanfaat. (*)

Tinggalkan Balasan

Search