Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, memberikan kuliah umum di Universitas Indonesia dengan tema “Intelektual, Masyarakat sipil, dan perubahan sosial” di Balai Sidang UI, Senin (13/3/2026) lalu. Ada beberapa hal menarik kaitannya dalam relasi sosial masa kini. Berikut beberapa catatannya:
***
Pada zaman ini, kita sedang berdiri di atas gelombang perubahan sosial yang masif, sebuah arus yang menerjang hingga ke relung politik, ekonomi, dan budaya. Baik di beranda rumah kita maupun di panggung global. Seakan kita membentangkan sebuah cermin retak, kita ditunjukkan potret tentang intelektual, masyarakat sipil, dan perubahan sosial yang kian tak jelas arah.
Bagaimana kita sedang menyaksikan revolusi komunikasi yang tak sekadar memindahkan pesan, tetapi merombak cara kita menjadi manusia. Digitalisasi telah menciptakan realitas baru, sebuah pergeseran dari interaksi langsung yang hangat menuju interaksi tidak langsung yang dingin.
Dulu, gotong royong adalah detak jantung lingkungan, soko guru kehidupan relasi sosial kita. Kini, relasi sosial kian individualistik. Kita seringkali lebih akrab dengan algoritma daripada tetangga sebelah rumah. Sebagaimana dikemukakan Haedar, media sosial telah menjadi palu godam yang memporak-porandakan tatanan nilai. Garis antara yang pantas dan tidak pantas, antara etika dan anarki, kian kabur dalam riuh rendah komentar tanpa wajah.
Agama sebagai Tembok di Tengah Badai
Di tengah kekacauan ini, agama hadir bukan sekadar ritual, melainkan sebagai nilai sakral yang mengajar makna hidup terdalam. Sebuah tembok kokoh di tengah badai. Dalam perspektif sosial, agama menetapkan batas-batas yang tegas namun lembut, seperti:
- Larangan menyebar fitnah dan kebencian.
- Pentingnya Tabayyun (klarifikasi) sebelum menghakimi.
- Perintah untuk Islah (rekonsiliasi) saat perpecahan terjadi.
- Larangan merendahkan martabat sesama melalui julukan yang buruk.
Namun, realitas menunjukkan sebuah ironi yang getir. Manusia, yang sejatinya adalah Homo Sapien (makhluk bijaksana), tetapi saat berada dalam liarnya rimba digital sering kali merosot menjadi Homo Homini Lupus, seekor serigala bagi sesama manusianya. Kebijaksanaan digantikan oleh taring kata-kata yang saling menerkam.
Untuk membendung arus negatif perubahan ini, kita memerlukan navigasi baru yang berakar pada jati diri bangsa. Haedar Nashir menekankan pentingnya menghidupkan kembali dua nilai fundamental, “musyawarah dan kebijaksanaan.”
- Musyawarah: Bukan sekadar votasi, melainkan ruang perjumpaan hati untuk mencari mufakat.
- Kebijaksanaan: Kemampuan untuk melihat melampaui ego demi kemaslahatan bersama.
Sebagai solusi atas problematika dari skala keluarga hingga bangsa, setiap warga negara dipanggil untuk menjadi penggerak dalam lima poros transformasi, yakni Gerakan Pembebasan, Pemberdayaan, Pencerdasan, Kemajuan, dan Pencerahan.
Data dan Realitas Digital 2026
Sebagai penguat dari narasi di atas, data terbaru dunia maya menunjukkan urgensi dari seruan tersebut:
- Penetrasi Internet: Hingga awal 2026, pengguna internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 80% populasi, dengan rata-rata waktu menatap layar melampaui 7 jam perhari.
- Kesenjangan Sosial: Laporan indeks kebahagiaan menunjukkan bahwa meski konektivitas digital meningkat, rasa kesepian dan keterasingan di wilayah urban justru naik sebesar 12% dalam dua tahun terakhir.
- Polarisasi Informasi: Studi literasi digital mengungkapkan bahwa 65% masyarakat masih kesulitan membedakan opini yang memecah belah dengan fakta objektif di media sosial.
Jika kita melihat dengan hati nurani yang terdalam, data di atas berada pada titik yang sangat bahaya bagi kehidupan manuia. Karena itu, perubahan adalah keniscayaan, namun arahnya tergantung dari pilihan kita. Apakah kita akan membiarkan diri hanyut menjadi serigala di ruang digital, atau kembali menjadi manusia yang saling mencerahkan?
Mari kita mulai dari meja makan di rumah, meluas ke pagar tetangga, hingga pada kebijakan negara. Karena pada akhirnya, peradaban yang besar tidak dibangun di atas kecepatan koneksi, melainkan di atas kedalaman etika dan keteguhan islah.
Persatuan bukanlah warisan, melainkan sebuah gerakan yang harus dirawat setiap hari. Gotong royong sebagai jati diri bangsa jangan hilang begitu saja. Dan tetap menjadi manusia yang adil dan beradab. (*)
