Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan maritim Global Sumud Flotilla (Armada Keteguhan Global) akhirnya menghirup udara bebas. Setelah sempat diculik dan ditahan secara ilegal oleh tentara Israel di perairan internasional, mereka berhasil dievakuasi dan mendarat di Istanbul, Turki, pada Kamis hingga Jumat (21-22/5/2026).
Meski selamat, kepulangan mereka membawa cerita kelam mengenai kebrutalan dan pelanggaran hak asasi manusia sistematis yang dilakukan oleh militer Israel di dalam pusat penahanan. Para relawan dan jurnalis Indonesia ini kembali dengan kondisi tubuh penuh luka akibat penyiksaan fisik yang keji.
Janji manis militer Israel yang sempat menyatakan akan memperlakukan para aktivis kemanusiaan dengan baik terbukti bohong besar. Begitu berada di bawah penahanan, para WNI mengalami berbagai intimidasi fisik yang brutal.
Jurnalis TV Tempo, Andre Prasetyo, mengungkapkan bahwa dirinya menjadi korban pemukulan hingga penyetruman listrik oleh interogator Israel. Kekerasan serupa dialami oleh Nugroho Rahendro Herubowo dan sejumlah relawan lain yang mengaku dibanting, dipukul, dan diinjak-injak tanpa belas kasihan. Akibatnya, para korban kini menderita memar di sekujur tubuh, sesak napas, hingga trauma psikologis.
Dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, menyampaikan rasa syukur yang mendalam karena bisa keluar dari lingkaran maut tersebut dalam kondisi hidup. Kendati mengalami pengalaman traumatis, mereka menegaskan bahwa luka fisik ini tidak akan menyurutkan komitmen mereka untuk terus menyuarakan kemerdekaan Palestina ke dunia internasional.
“Kondisi relawan kita sebenarnya masih ‘lebih baik’ jika dibandingkan dengan relawan dari negara lain. Ada yang penyiksaannya jauh lebih parah hingga harus digotong menggunakan tandu (stretcher) dan langsung menjalani operasi setibanya di Turki,” ungkap Koordinator Global Peace Convoy Indonesia, Maimoen Herawati.
Maimoen menambahkan, jika relawan internasional dari 40 negara saja disiksa sedemikian rupa, dunia harus membuka mata bagaimana kekejaman yang diterima oleh warga sipil Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel setiap harinya.
Kedatangan para WNI ini merupakan bagian dari operasi evakuasi besar-besaran yang difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri Turki. Sebanyak tiga pesawat Turkish Airlines mendarat di Istanbul mengangkut total 422 aktivis kemanusiaan yang dideportasi oleh Israel.
Rombongan besar ini terdiri dari 85 warga negara Turki dan 337 warga negara asing dari berbagai belahan dunia. Kedatangan mereka di bandara disambut oleh gelombang massa yang meneriakkan solidaritas, serta kecaman keras dari pejabat tinggi pemerintah Turki atas tindakan bajak laut modern yang dilakukan Israel di perairan internasional. (*/tim)
