Ada kalanya kebahagiaan tidak diukur dengan gelimang harta, melainkan dari tetesan air bersih yang mengalir di tanah yang gersang. Bagi warga Dusun Timokerep, Desa Kunti, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, air bersih adalah kemewahan yang telah mereka tunggu selama dua dekade.
Suasana haru tak terbendung saat Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LDK PWM) Jawa Timur, bersama BikersMu Jatim, LDK dan Lazismu Ponorogo, serta Qur’an Best meresmikan program sumur bor di Masjid Al Barokah, Ahad (17/5/2026). Di dusun terpencil ini, air mata bahagia bercampur dengan sejuknya air dari sumur bor sedalam hampir 50 meter yang baru saja rampung dibangun.
Anggota LDK PWM Jatim, Tulus Widodo, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan manifestasi dari dakwah yang solutif dan menyentuh akar rumput.
“Dakwah Muhammadiyah ini mampu menembus pelosok desa yang terkendala akses, fasilitas, hingga tenaga penggerak. Kita hadir untuk membangun sinergi yang memberikan arti nyata,” ujar Tulus Widodo dalam sambutannya.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sampung, Ustaz Tony Sutikno, tidak dapat menyembunyikan rasa syukurnya. Kehadiran tim gabungan ini membawa oase bagi dahaga spiritual dan kebutuhan fisik warga yang sudah berlangsung selama 20 tahun.
“Kami sangat bersyukur atas kepedulian Tim LDK PWM Jatim yang sudi menempuh perjalanan jauh ke pelosok desa kami. Bantuan sumur bor ini sudah dinanti warga selama 20 tahun. Kini, ketersediaan air menjadi lebih memadai. Tidak hanya untuk bersuci dan beribadah di masjid, tetapi juga untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” tutur Ustaz Tony dengan suara bergetar.
Mendengar penuturan tersebut, suasana mendadak senyap. Anggota rombongan dan warga yang hadir tampak mengusap air mata yang meleleh di pipi. Kalimat thayyibah, tasbih, dan tahmid pelan-pelan terdengar dari bibir para undangan.
Begitu air sumur bor pertama kali memancar membasahi halaman masjid, beberapa warga langsung membasuh tangan dan mengusapkannya ke wajah. Di balik basahan air itu, terpancar harapan baru bagi peningkatan kesejahteraan dan penguatan spiritualitas warga.
Kehangatan beralih ke sesi ramah tamah. Sambil menikmati hidangan sederhana berupa gorengan singkong dan pisang, para tokoh masyarakat, perangkat desa, serta ibu-ibu Aisyiyah dan guru Raudhatul Athfal (RA) Aisyiyah berbaur menyusun rencana pengembangan dakwah ke depan. Sebelum beranjak, Lazismu Ponorogo juga membagikan paket sembako untuk warga setempat.
Menembus Jalur Ekstrem
Usai menuntaskan misi di Kecamatan Sampung, rombongan yang terdiri dari Ustaz Tulus Widodo, Andi Hariyadi (LDK PWM Jatim), Ahmad Taufik (Ketua BikersMu Jatim), Fuadi (Bidang Dakwah BikersMu Jatim), Qudwah, dan Ustaz Rahmadi (Qur’an Best) melanjutkan perjalanan. Kali ini, tujuan mereka adalah Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.

Berbeda dengan lokasi pertama, kawasan perbukitan ini berudara sejuk dan kaya akan air. Namun, tantangannya terletak pada akses jalan yang ekstrem.
Di sana, mereka disambut oleh Ustaz Usman Thomas, anggota Komunitas BikersMu Bidang Dakwah Provinsi Jatim asal Madiun. Kunjungan ke Dusun Tangkil ini bertujuan untuk merealisasikan bantuan papanisasi dan pavingisasi di area Masjid Ummu Mubarok—sebuah masjid yang diwakafkan oleh Pak Simun kepada Muhammadiyah pada tahun 2017.
Masjid Ummu Mubarok menyimpan cerita sejarah yang mendalam. Pada tahun 2016, bukit di sekitar desa ini mengalami longsor besar yang memakan korban jiwa. Saat itu, masjid inilah yang menjadi pusat koordinasi bantuan kemanusiaan. Namun, seiring berjalannya waktu, medan perbukitan yang terjal dan akses yang sulit membuat aktivitas dakwah sempat meredup.
Ustaz Usman Thomas, dai yang berasal dari Timor Leste dan telah lama menetap di Madiun, menyampaikan rasa terima kasihnya dengan bahasa Jawa yang sangat santun.
“Alhamdulillah, di Cabang Banaran ini ada empat ranting. Masjid ini selain digunakan untuk salat lima waktu, juga rutin dipakai pengajian ibu-ibu Aisyiyah dan salat Hari Raya. Sebenarnya kami berharap bisa menyelenggarakan salat Jumat di sini, namun karena keterbatasan yang ada, hal itu belum memungkinkan. Bantuan ini sangat berarti untuk menguatkan kembali dakwah kita,” jelas Ustaz Usman.
Perjalanan kolaboratif ini meninggalkan pesan mendalam, bahwa dakwah yang sejati adalah dakwah yang bergerak nyata, merangkul keterbatasan, dan menghadirkan solusi konkret yang membawa kebahagiaan bagi sesama. || andi hariyadi
