Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, menegaskan bahwa pelayanan kesehatan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah bukan sekadar aktivitas kelembagaan atau bisnis semata. Lebih dari itu, rumah sakit Muhammadiyah merupakan pilar dakwah kemanusiaan yang bergerak untuk menghadirkan keadilan sosial dan kemaslahatan bagi masyarakat luas.
Pernyataan tersebut disampaikan Busyro dalam acara Milad ke-7 RSU PKU Muhammadiyah Banjarnegara, yang dirangkaikan dengan Peresmian Gedung Rawat Inap dan Poliklinik Terpadu pada Kamis (21/5/2026).
Dalam sambutannya, Busyro menjelaskan bahwa sejak awal berdiri, Muhammadiyah selalu menyelaraskan dakwah keagamaan dengan aksi nyata di bidang sosial, mulai dari pendidikan hingga kesehatan. Oleh karena itu, rumah sakit Muhammadiyah wajib memadukan nilai keislaman, profesionalisme, dan kepedulian sosial.
“Rumah sakit Muhammadiyah tidak boleh sekadar menjadi institusi pelayanan medis, tetapi harus menjadi bagian dari gerakan dakwah yang mencerahkan dan memuliakan manusia,” ujarnya.
Untuk menggambarkan core value ini, Busyro mengutip Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 24 tentang perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, berakar kuat, dan cabangnya menjulang ke langit.
Menurutnya, Muhammadiyah adalah manifestasi dari ayat tersebut. “Gerakan Muhammadiyah harus seperti pohon yang baik; akarnya kuat dalam nilai Islam, tetapi cabangnya menjulang dan memberi manfaat bagi kehidupan umat manusia,” tegas Busyro.
Busyro juga memberikan apresiasi tinggi atas perkembangan RSU PKU Muhammadiyah Banjarnegara yang pesat dalam usia tujuh tahun. Peresmian fasilitas gedung baru ini dinilai sebagai bukti nyata komitmen Muhammadiyah dalam menyediakan layanan kesehatan yang inklusif dan bermartabat.
Ia mengingatkan bahwa tantangan kesehatan saat ini tidak bisa lagi dilihat dari kacamata medis belaka. Masalah kesehatan kini bersentuhan dengan isu ekonomi, pendidikan, kesehatan mental, ketahanan keluarga, hingga kualitas SDM bangsa.
“Pelayanan kesehatan adalah bagian dari amanat kemanusiaan. Di dalamnya ada tanggung jawab moral untuk merawat kehidupan, menjaga martabat manusia, dan menghadirkan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan,” tambahnya.
Menutup arahannya, Busyro membakar semangat para kader dan tenaga kesehatan dengan mengutip Surat Al-Insyirah ayat 7, yang memerintahkan manusia untuk segera beralih kepada urusan lain yang produktif setelah menyelesaikan suatu urusan.
Bagi Muhammadiyah, ayat ini adalah spirit untuk terus melakukan inovasi dan pembangunan berkelanjutan demi kemaslahatan publik.
“Muhammadiyah tidak boleh berhenti hanya karena telah mencapai satu capaian. Setelah satu pekerjaan selesai, maka harus bergerak untuk kerja-kerja kemaslahatan berikutnya,” pungkas Busyro sembari mengajak seluruh dokter, tenaga medis, dan pengelola RS untuk terus menjaga budaya kerja yang berbasis pada ilmu, etika, dan pelayanan yang humanis. (*/tim)
