”Often, our online shopping baskets are fuller than our preparations for the afterlife. In this holy month, when our stomachs are learning to hold back hunger, can our thumbs learn to hold back clicking?”
“(Seringkali, keranjang belanja online kita lebih penuh daripada persiapan bekal akhirat. Di bulan suci ini, saat perut belajar menahan lapar, mampukah jempol kita belajar menahan klik?)”
Jebakan “Lapar Mata” di Ujung Jari
Dulu, belanja dilakukan karena butuh. Sekarang, belanja sering kali jadi pelarian saat bosan atau stres. Diskon kilat (flash sale) dan kemudahan “beli sekarang bayar nanti” (paylater) sengaja dirancang untuk membuat kita panik seolah akan rugi besar jika tidak membeli. Padahal, itu hanyalah kecemasan palsu.
Apalagi di bulan Ramadan, nafsu belanja sering bersembunyi di balik alasan “persiapan Lebaran”. Jika tidak dikendalikan, kesenangan sesaat saat paket datang justru akan merusak kekhusyukan ibadah kita. Kita terjebak dalam perilaku israf alias berlebih-lebihan.
Apa Kata Agama?
Ramadan adalah sekolah untuk mengendalikan diri. Allah SWT mengingatkan kita dengan sangat tegas dalam firman-Nya,
“…… وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيۡرًا . اِنَّ الۡمُبَذِّرِيۡنَ كَانُوۡۤا اِخۡوَانَ الشَّيٰطِيۡنِ ؕ وَكَانَ الشَّيۡطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوۡرًا
Artinya:
”...dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (Qs. Al-Isra: 26-27)
Ayat ini menegaskan bahwa membelanjakan harta untuk hal yang tidak bermanfaat atau melampaui batas kebutuhan adalah perbuatan tercela. Hal tersebut mendekatkan seseorang pada sifat setan, yakni kufur nikmat dan jauh dari rasa syukur.
Menghabiskan uang untuk barang yang sia-sia adalah bentuk kurangnya rasa syukur. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa di hari kiamat nanti, setiap rupiah yang kita punya akan ditanya: “Dari mana didapat, dan untuk apa digunakan?” Beliu bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاهُ
Artinya:
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang: (1) umurnya untuk apa dihabiskan, (2) ilmunya apa yang dilakukan dengannya, (3) hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, dan (4) tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. At-Tirmidzi, No. 2417)
Puasa seharusnya mengasah rasa peduli. Uang yang habis untuk memuaskan “lapar mata” di aplikasi belanja, sebenarnya jauh lebih mulia jika disedekahkan kepada mereka yang kesulitan berbuka puasa.
Contoh Nyata: Korban “Gengsi” dan “Cicilan”
Mari kita lihat realita di sekitar kita. Banyak orang yang terjebak dalam lingkaran setan ini:
1. Kasus Kurir dan COD.
Kita sering melihat video viral warga yang memaki kurir karena barang yang dipesan tidak sesuai, padahal masalah utamanya adalah mereka membeli barang secara impulsif tanpa membaca deskripsi, hanya karena tergiur diskon.
2. Jeratan Paylater.
Banyak pekerja muda yang gaji bulanannya habis hanya untuk membayar cicilan barang elektronik atau baju lebaran tahun lalu yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Mereka “memaksa kaya” di media sosial, namun sesak napas saat tagihan datang.
3. Tumpukan Paket Tak Terpakai.
Banyak dari kita memiliki lemari yang penuh dengan barang yang label harganya bahkan belum dilepas, dibeli hanya karena lapar mata saat scrolling sebelum sahur.
Jihad Melawan Tombol “Beli”
Menahan diri dari godaan tombol “Beli Sekarang” adalah perjuangan (jihad) kecil melawan hawa nafsu. Mari jadikan bulan Ramadhan ini sebagai momen untuk membedakan mana “butuh” dan mana “ingin”.
Bijaklah mengelola uang agar ia menjadi penolong kita di akhirat, bukan beban berat saat dihisab. Semoga Allah SWT memberi kita hati yang qana’ah, merasa cukup dan tenang dengan apa yang ada.
Semoga bermanfaat.
