Sloganitas untuk Popularitas Tanpa Realitas

Sloganitas untuk Popularitas Tanpa Realitas
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

#Fenomena Kehidupan Formalistik-Simbolistik

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin dipengaruhi oleh budaya pencitraan, muncul sebuah fenomena yang menarik untuk dikaji: sloganitas untuk popularitas tanpa realitas. Banyak orang, lembaga, bahkan organisasi mampu memproduksi slogan yang indah, narasi yang mengesankan, simbol yang menarik, dan pernyataan yang terdengar sangat ideal. Namun, tidak selalu terdapat kesesuaian antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.

Slogan pada hakikatnya bukan sesuatu yang salah. Slogan diperlukan untuk merumuskan visi, menyederhanakan gagasan, membangun kesadaran, dan menggerakkan masyarakat. Persoalannya muncul ketika slogan tidak lagi menjadi komitmen yang harus diwujudkan, tetapi berubah menjadi alat membangun popularitas.

Pada titik inilah lahir kehidupan yang bersifat formalistik dan simbolistik: tampak baik pada permukaan, tetapi belum tentu memiliki kedalaman substansi. Simbol lebih menonjol daripada nilai, penampilan lebih kuat daripada keteladanan, dan narasi lebih ramai daripada realisasi.

Ketika Slogan Menggantikan Realitas
Slogan semestinya merupakan janji moral yang menuntut pembuktian. Semakin tinggi dan mulia sebuah slogan, semakin besar pula tanggung jawab untuk mewujudkannya. Masalah terjadi ketika slogan berhenti sebagai kata-kata. Ia diproduksi, dipublikasikan, diulang-ulang, kemudian menjadi identitas yang melekat pada seseorang atau lembaga, sementara realitas yang seharusnya mengikuti slogan tersebut tidak mengalami perubahan berarti.

Dalam konteks ini, kita dapat membedakan tiga hal:
Pertama, slogan sebagai visi.
Slogan berfungsi sebagai arah perjuangan. Ia belum merupakan hasil, tetapi menjadi tujuan yang hendak dicapai.

Kedua, slogan sebagai komitmen.
Slogan diterjemahkan menjadi program, kebijakan, perilaku dan ukuran keberhasilan.

Ketiga, slogan sebagai pencitraan.
Slogan digunakan untuk memperoleh pengakuan, popularitas, legitimasi atau dukungan, tanpa kesungguhan untuk membuktikan substansinya.

Persoalan terbesar bukan pada banyaknya slogan, melainkan ketika slogan menjadi substitusi realitas. Orang akhirnya dinilai berdasarkan apa yang dikatakannya, bukan berdasarkan apa yang dikerjakannya.

Formalistik-Simbolistik: Ketika Bentuk Mengalahkan Substansi
Kehidupan formalistik-simbolistik adalah keadaan ketika perhatian terhadap bentuk, prosedur, atribut, seremoni dan simbol lebih besar daripada perhatian terhadap substansi dan tujuan.

Dalam kehidupan organisasi, misalnya, sebuah lembaga dapat memiliki struktur yang lengkap, rapat yang rutin, spanduk yang besar, dokumentasi yang banyak, jargon yang hebat dan publikasi yang masif. Semua itu penting, tetapi belum otomatis menunjukkan keberhasilan organisasi. Ukuran yang lebih mendasar adalah: apa perubahan nyata yang dihasilkan?

Demikian pula dalam kehidupan sosial-keagamaan. Identitas keagamaan dapat terlihat dari pakaian, simbol, kegiatan seremonial, jumlah acara dan intensitas publikasi. Namun, substansi keberagamaan justru diuji oleh kejujuran, amanah, keadilan, kepedulian sosial, akhlak dan kebermanfaatan. Al-Qur’an mengingatkan:
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. ash-Shaff [61]: 3).

Ayat ini memberikan prinsip yang sangat kuat: keselarasan antara perkataan dan perbuatan merupakan persoalan moral, bukan sekadar persoalan komunikasi.

Popularitas Tidak Sama dengan Prestasi
Budaya digital semakin memperbesar peluang terjadinya pemisahan antara popularitas dan realitas. Seseorang dapat menjadi sangat terkenal karena sering tampil, banyak berbicara, memiliki pengikut yang besar atau mampu membangun narasi yang menarik.

Namun, popularitas adalah ukuran keterkenalan, bukan otomatis ukuran kualitas. Seseorang dapat populer tetapi belum tentu produktif. Dapat dikenal luas tetapi belum tentu berintegritas. Dapat memiliki banyak pengikut tetapi belum tentu memberikan perubahan yang nyata.

Karena itu, dalam menilai seseorang, terutama seseorang yang akan diberi amanah kepemimpinan, ukuran yang lebih penting bukan sekadar: “Seberapa terkenal dia?” melainkan: “Apa yang telah dia lakukan, apa yang telah dia selesaikan, dan apa manfaat nyata yang telah diberikan?” Di sinilah pentingnya rekam jejak.

Rekam jejak berbeda dengan jejak yang direkam. Rekam jejak lahir dari pekerjaan yang benar-benar dilakukan dan menghasilkan manfaat. Sementara jejak yang direkam dapat berupa dokumentasi aktivitas, foto, video, pemberitaan dan publikasi yang belum tentu mencerminkan kedalaman kontribusi.

Tinggalkan Balasan

Search