Bahaya Sloganitas dalam Kepemimpinan
Dalam kepemimpinan, sloganitas dapat menjadi problem serius apabila masyarakat atau organisasi lebih mudah terpengaruh oleh retorika daripada integritas. Pemimpin dapat berbicara tentang perubahan, tetapi belum tentu melakukan perubahan. Dapat berbicara tentang pelayanan, tetapi belum tentu melayani. Dapat berbicara tentang meritokrasi, tetapi dalam praktiknya lebih mengutamakan kedekatan. Dapat berbicara tentang musyawarah, tetapi keputusan telah ditentukan sebelumnya.
Di sinilah diperlukan prinsip: “Jangan menilai calon pemimpin hanya dari apa yang dijanjikannya, tetapi dari apa yang telah dibuktikannya.” Dalam Islam, amanah kepemimpinan bukanlah panggung popularitas. Ia adalah tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, kepemimpinan semestinya diberikan kepada orang yang memiliki kompetensi, integritas, kapasitas dan rekam jejak, bukan semata-mata kepada orang yang paling populer.
Slogan Harus Diuji dengan Realitas
Sebuah slogan yang baik tidak cukup hanya terdengar indah. Ia harus dapat diuji melalui realitas. Setidaknya terdapat lima pertanyaan untuk menguji slogan:
1. Apa substansinya? Apakah slogan tersebut memiliki makna yang jelas atau sekadar rangkaian kata yang indah?
2. Apa program konkretnya? Bagaimana slogan tersebut diterjemahkan menjadi tindakan?
3. Apa indikator keberhasilannya? Apa yang dapat digunakan untuk mengetahui bahwa slogan tersebut benar-benar diwujudkan?
4. Apa dampaknya? Apakah masyarakat memperoleh manfaat nyata?
5. Siapa yang dapat mempertanggungjawabkannya? Apakah ada orang atau lembaga yang dapat dimintai pertanggungjawaban atas hasilnya?
Jika lima pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab, slogan berpotensi berhenti sebagai retorika.
Dari Simbol Menuju Substansi
Kehidupan yang sehat bukan kehidupan tanpa simbol. Simbol tetap penting karena manusia membutuhkan identitas, bahasa bersama dan ekspresi nilai. Namun, simbol harus menjadi representasi nilai, bukan pengganti nilai.
• Seragam tidak menggantikan profesionalisme.
• Gelar tidak menggantikan kompetensi.
• Jabatan tidak menggantikan integritas.
• Popularitas tidak menggantikan prestasi.
• Publikasi tidak menggantikan pengabdian.
• Slogan tidak menggantikan kerja.
• Seremoni tidak menggantikan perubahan.
Inilah yang perlu menjadi kesadaran bersama dalam kehidupan organisasi dan masyarakat.
Dari “Terlihat Baik” Menjadi “Benar-Benar Baik”
Budaya formalistik-simbolistik cenderung bertanya: “Bagaimana kita terlihat?” Sedangkan budaya substansial bertanya: “Apa yang sebenarnya kita kerjakan dan apa manfaatnya?” Perbedaan kedua pertanyaan tersebut sangat mendasar.
Orientasi pertama mudah melahirkan pencitraan. Orientasi kedua melahirkan evaluasi. Dalam perspektif Islam, ukuran amal bukan hanya penampilan luarnya, tetapi juga keikhlasan dan kebenaran orientasinya. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Namun, niat yang baik juga tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kualitas pelaksanaan. Karena itu, keikhlasan dan profesionalisme harus berjalan bersama.
