Sloganitas untuk Popularitas Tanpa Realitas

Sloganitas untuk Popularitas Tanpa Realitas
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

Membangun Budaya Berbasis Realitas
Untuk keluar dari jebakan sloganitas, diperlukan perubahan budaya. Pertama, mengubah budaya pencitraan menjadi budaya pembuktian. Kedua, mengubah orientasi popularitas menjadi orientasi kemanfaatan. Ketiga, mengubah penilaian berdasarkan narasi menjadi penilaian berdasarkan rekam jejak. Keempat, mengubah seremoni menjadi aksi yang terukur. Kelima, mengubah simbol menjadi representasi nilai yang nyata.

Dalam organisasi, setiap slogan idealnya memiliki program, indikator, target, pelaksana, evaluasi dan laporan pertanggungjawaban. Dengan demikian, slogan tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menjadi sistem kerja.

Penutup: Jangan Terpesona oleh Slogan

Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang anti-slogan, tetapi masyarakat yang kritis terhadap jarak antara slogan dan kenyataan.
• Slogan boleh tinggi, tetapi realisasi harus nyata.
• Narasi boleh indah, tetapi perilaku harus menjadi bukti.
• Popularitas boleh datang, tetapi integritas tidak boleh hilang.
• Simbol boleh digunakan, tetapi substansi tidak boleh ditinggalkan.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya dinilai dari apa yang dikatakannya, tetapi dari apa yang dikerjakannya. Allah berfirman:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubah [9]: 105).

Maka, jangan menjadikan slogan sebagai pengganti karya, popularitas sebagai pengganti integritas, dan simbol sebagai pengganti substansi. Karena slogan yang tidak diwujudkan hanyalah kata-kata; popularitas tanpa prestasi hanyalah keterkenalan; dan simbol tanpa nilai hanyalah penampilan.

Yang dibutuhkan adalah kesatuan antara kata, niat, tindakan, hasil dan pertanggungjawaban. Bukan banyaknya slogan yang menentukan kualitas seseorang, tetapi banyaknya kebaikan yang benar-benar diwujudkannya. Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb. (*)

 

Daftar Pustaka
• Al-Qur’an al-Karim.
• Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Shahih al-Bukhari.
• Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim.
• Ibn Katsir, Ismail ibn Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.
• Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

 

Tinggalkan Balasan

Search