Sukses Bukan Hanya Tentang Materi

Sukses Bukan Hanya Tentang Materi
*) Oleh : Fathan Faris Saputro
Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi MPID PDM Lamongan
www.majelistabligh.id -

Di era media sosial, banyak orang lebih takut terlihat gagal daripada benar-benar kehilangan arah hidup. Linimasa digital dipenuhi pencapaian yang dipamerkan secara terus-menerus, mulai dari karier cemerlang, kendaraan mewah, hingga gaya hidup yang tampak sempurna. Situasi tersebut perlahan membentuk standar sosial baru bahwa kesuksesan identik dengan kemapanan materi. Akibatnya, manusia modern semakin sibuk mengejar pengakuan dibanding memahami makna hidup yang sebenarnya.

Fenomena itu tidak lahir begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh perubahan budaya masyarakat modern. Sistem kehidupan yang kompetitif membuat manusia cenderung dinilai berdasarkan produktivitas dan kepemilikan. Dalam banyak situasi, nilai seseorang sering diukur dari jabatan, penghasilan, serta kemampuan mengikuti gaya hidup tertentu. Di titik inilah makna sukses perlahan bergeser dari proses menjadi manusia yang utuh menjadi sekadar perkara pencapaian materi.

Laporan We Are Social dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mengakses media sosial. Intensitas tersebut membuat publik terus-menerus terpapar kehidupan orang lain yang tampak ideal. Tanpa disadari, media sosial menciptakan ruang perbandingan sosial yang tidak pernah selesai. Banyak orang akhirnya merasa tertinggal hanya karena hidupnya tidak semewah apa yang mereka lihat di internet.

Padahal, apa yang tampil di media sosial sering kali hanya potongan kecil dari realitas kehidupan seseorang. Tidak semua senyum di depan kamera mencerminkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Di balik unggahan tentang kesuksesan, bisa saja terdapat tekanan mental, kelelahan emosional, bahkan kehilangan makna hidup. Namun, realitas semacam itu jarang diperlihatkan karena masyarakat lebih tertarik pada citra keberhasilan daripada kejujuran hidup.

Kondisi tersebut melahirkan tekanan komparatif, terutama di kalangan generasi muda. Banyak anak muda merasa gagal hanya karena belum mencapai standar sosial tertentu di usia yang dianggap ideal. Mereka mulai mempertanyakan nilai dirinya ketika melihat teman sebaya telah memiliki pekerjaan mapan, rumah, atau penghasilan tinggi. Akibatnya, rasa syukur perlahan tergantikan oleh kecemasan untuk terus mengejar validasi.

Dalam kajian psikologi, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain dapat memicu stres dan rasa inferior sosial. Manusia menjadi sulit menikmati hidup karena pikirannya terus berpusat pada pencapaian orang lain. Keadaan tersebut diperparah oleh budaya digital yang mendorong eksibisi gaya hidup secara berlebihan. Tidak sedikit orang akhirnya bekerja keras bukan demi kebutuhan hidup, melainkan demi terlihat berhasil di mata publik.

Pemikir humanis Erich Fromm pernah menjelaskan bahwa manusia modern semakin terjebak pada orientasi “memiliki” dibanding “menjadi”. Kehidupan tidak lagi dipahami sebagai proses membangun kualitas diri, melainkan perlombaan mengumpulkan simbol keberhasilan. Akibatnya, manusia lebih sibuk mengejar citra sosial daripada membangun ketenangan batin. Fenomena itu terlihat jelas dalam budaya flexing yang kini semakin marak di ruang digital.

Kesuksesan akhirnya direduksi menjadi sesuatu yang dapat dipamerkan. Rumah besar, pakaian mahal, serta gaya hidup mewah dianggap sebagai simbol pencapaian tertinggi dalam kehidupan. Sementara itu, keberhasilan yang bersifat personal dan emosional sering kali dipandang kurang penting. Padahal, kemampuan bertahan di tengah tekanan hidup juga merupakan bentuk kesuksesan yang tidak sederhana.

Abraham Maslow dalam teori hierarki kebutuhan menjelaskan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan pemenuhan materi, tetapi juga aktualisasi diri. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia pada dasarnya mencari makna, penghargaan diri, dan ketenangan batin. Hal itu menunjukkan bahwa uang bukan satu-satunya tujuan hidup manusia. Ada kebutuhan psikologis dan spiritual yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan kekayaan.

Karena itu, memahami kesuksesan semata-mata dari materi merupakan cara pandang yang terlalu sempit. Seseorang mungkin memiliki pendapatan besar, tetapi hidup dalam tekanan dan kehilangan waktu bersama keluarga. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun merasa damai karena mampu menjalani hidup sesuai nilai yang diyakininya. Dari situ terlihat bahwa kebahagiaan tidak selalu berjalan beriringan dengan kemewahan.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak bentuk kesuksesan yang sebenarnya luput dari perhatian. Mampu menyelesaikan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi merupakan pencapaian besar bagi sebagian orang. Bertahan melewati masa sulit tanpa kehilangan harapan juga menjadi bentuk kemenangan yang layak diapresiasi. Namun, keberhasilan semacam itu sering tenggelam karena masyarakat terlalu fokus pada ukuran material.

Fenomena burnout di kalangan pekerja muda juga memperlihatkan sisi lain dari budaya sukses modern. Banyak orang memaksakan diri bekerja tanpa jeda demi mengejar standar hidup tertentu. Mereka rela mengorbankan kesehatan mental, waktu istirahat, bahkan hubungan sosial agar terlihat produktif. Ironisnya, setelah semua target tercapai, tidak sedikit yang justru merasa kosong dan kehilangan arah hidup.

Viktor Frankl dalam pemikirannya mengenai makna hidup menjelaskan bahwa manusia tidak akan benar-benar bahagia jika hidupnya kehilangan tujuan yang bermakna. Kebahagiaan bukan sesuatu yang dapat dibeli, melainkan hasil dari kemampuan manusia menemukan arti dalam kehidupannya. Karena itu, pencapaian materi tanpa makna sering kali hanya menghasilkan kehampaan emosional. Manusia membutuhkan alasan untuk hidup, bukan sekadar angka untuk dibanggakan.

Dalam perspektif sosiologi, budaya materialisme juga berkaitan erat dengan sistem kapitalisme modern. Masyarakat didorong untuk terus membeli, memiliki, dan memperlihatkan sesuatu agar dianggap berhasil. Nilai manusia kemudian perlahan ditentukan oleh kemampuan konsumsi yang dimilikinya. Situasi ini menciptakan lingkaran tanpa akhir karena manusia akan terus merasa kurang dibanding orang lain.

Padahal, hidup tidak seharusnya menjadi perlombaan sosial yang melelahkan. Kesuksesan memiliki makna yang berbeda bagi setiap individu karena setiap orang menjalani perjalanan hidup yang tidak sama. Ada yang merasa sukses ketika mampu membahagiakan orang tua. Ada pula yang merasa cukup bahagia ketika bisa hidup tenang tanpa tekanan berlebihan. Semua definisi tersebut tetap sah selama memberikan makna dalam kehidupan.

Dalam ajaran Islam, konsep qanaah mengajarkan manusia untuk memiliki rasa cukup dan tidak dikuasai ambisi duniawi secara berlebihan. Sikap tersebut bukan berarti menolak kerja keras, melainkan memahami batas antara kebutuhan dan keserakahan. Al-Qur’an juga mengingatkan pentingnya bersyukur agar manusia tidak terjebak pada rasa kurang yang terus-menerus. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa ketenangan hati lebih penting daripada sekadar kemewahan yang dipamerkan.

Kesuksesan sejati pada akhirnya tidak hanya diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari siapa diri kita setelah melewati berbagai proses kehidupan. Menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih bijak, dan lebih bermanfaat bagi sekitar merupakan pencapaian yang jauh lebih bernilai. Sebab, manusia yang utuh tidak dibentuk oleh banyaknya harta, melainkan oleh cara ia memaknai hidupnya. Di tengah budaya yang sibuk memamerkan keberhasilan, mungkin kita perlu kembali bertanya: apakah kita benar-benar sukses, atau hanya terlihat sukses di mata orang lain? (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search