Menggali Simbol Spiritual Haji dan Hakikat Ruh Kurban untuk Membersihkan Hati

Menggali Simbol Spiritual Haji dan Hakikat Ruh Kurban untuk Membersihkan Hati
www.majelistabligh.id -

Komplek Perguruan Muhammadiyah yang terletak di Jl. Kelayan B Timur, Gang Baja, Banjarmasin, dipadati oleh ratusan warga dan simpatisan Muhammadiyah guna melaksanakan ibadah Salat Iduladha 1447 H / 2026 M. Pelaksanaan ibadah tahunan di lokasi tersebut dikoordinasikan langsung di bawah naungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banjarmasin 6. Suasana religius dan khusyuk sangat terasa seiring kumandang takbir yang bersahut-sahut sejak pagi hari.

Bertindak sebagai khatib dalam kesempatan tersebut adalah Ustaz Riza Fahlipi, SPdI. Dalam khotbahnya yang berjudul “Makna Mendalam yang Tersirat di Balik Ibadah Haji dan Ibadah Qurban”, beliau menyampaikan khutbah secara naratif mengenai nilai-nilai filosofis dan spiritual dari kedua ibadah besar tersebut agar tidak sekadar menjadi ritual tahunan tanpa makna.

Ustadz Riza Fahlipi menerangkan bahwa ibadah haji maupun kurban kaya akan simbol esensial yang bermuara pada tiga aspek utama. Pertama adalah makna tauhid, yang tercermin dari berkumpulnya jutaan umat manusia di Ka’bah sebagai pusat peribadatan tanpa memandang perbedaan suku, bahasa, maupun status sosial, menegaskan bahwa satu-satunya tujuan akhir hidup manusia adalah Allah SWT.

Kedua adalah makna kemanusiaan, di mana pakaian ihram putih yang setara menjadi simbol hamba yang lemah dan menjadi latihan atau pengingat akan hari kematian, di mana manusia tidak memiliki perbedaan derajat di hadapan Allah kecuali atas dasar ketakwaannya.

Ketiga adalah aspek napak tilas sejarah kenabian melalui ritual seperti Sa’i dan wukuf. Beliau menjelaskan bahwa Sa’i dari bukit Shafa ke Marwah mengajarkan seorang muslim untuk berusaha mencari nafkah secara bersih, halal, jujur, dan tidak menyakiti orang lain demi meraih kesejahteraan yang berkah.

Sementara itu, wukuf di Arafah dan melempar jumrah menjadi pengingat historis atas keteguhan keluarga Nabi Ibrahim melawan godaan setan, sekaligus menjadi gladi resik manusia kelak saat dikumpulkan di Padang Mahsyar.

Pada akhir sari khotbahnya, khatib mengingatkan bagi umat yang tidak berhaji namun memiliki kelapangan rezeki untuk berkurban. Ia menekankan bahwa penyembelihan kurban memikul konsekuensi batiniah agar manusia membuang jauh-jauh sifat binatang dari dalam dirinya, seperti hilangnya rasa malu berbuat maksiat, perilaku seks bebas, sikap egois, serta kebiasaan menghalalkan segala cara.

Selepas pelaksanaan shalat Id, agenda dilanjutkan dengan ibadah penyembelihan hewan kurban. Pada hari raya tahun ini, panitia kurban Masjid Istiqomah mengelola dan memotong sebanyak 7 ekor sapi yang dihimpun dari ibadah kurban kolektif warga sekitar.

Ketua Masjid Istiqomah Banjarmasin, M. Naufal, memberikan komentarnya terkait jalannya kegiatan keagamaan ini. Beliau menyampaikan rasa syukur atas sinergi warga PCM Banjarmasin 6 dalam menyukseskan acara.

“Alhamdulillah, seluruh rangkaian shalat Iduladha di Komplek Perguruan Muhammadiyah ini berjalan dengan aman, tertib, dan penuh khidmat. Kami selaku pengurus masjid sangat mengapresiasi antusiasme dan kepercayaan warga Kelayan B Timur yang telah menyalurkan ibadah kurbannya di Masjid Istiqomah, sehingga tahun ini kami dapat mengelola sebanyak 7 ekor sapi,” ungkap M. Naufal.

Sejalan dengan pesan khotbah dari Ustadz Riza Fahlipi, M. Naufal kami berharap ibadah kurban ini dapat menjadi sarana konkret bagi kita semua untuk mengikis sifat egois dan memperkuat solidaritas sosial. Hewan kurban ini selanjutnya distribusikan seamanah mungkin agar kemaslahatan dan kegembiraan hari raya dapat dirasakan merata oleh masyarakat di lingkungan cabang Banjarmasin 6.

Proses pemotongan hewan kurban dikerjakan secara gotong-royong oleh jajaran panitia, pemuda, dan warga setempat dengan mengedepankan kebersihan serta ketertiban, sebelum paket-paket daging tersebut disalurkan kepada para penerima yang berhak. (arif poliban)

 

Tinggalkan Balasan

Search