Memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah, umat Islam diajak untuk menjadikan bulan Muharam sebagai momentum meningkatkan amal saleh. Pesan spiritual ini disampaikan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta, Masykur Azahri, dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (21/6/2026).
Mengawali ceramahnya dengan doa agar umat senantiasa diberikan kesehatan, kesuksesan, dan keistiqamahan dalam beribadah, Masykur mengingatkan bahwa Muharam adalah salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul hurum). Pada bulan ini, Allah Swt. melipatgandakan pahala kebaikan, namun sebaliknya, dosa kemaksiatan juga dinilai lebih besar.
“Saat ini kita berada di sepuluh hari pertama Muharam yang penuh keutamaan. Manfaatkan kesempatan berharga ini untuk memperbanyak ibadah, menghadiri majelis ilmu, bersedekah, dan melakukan kebajikan lainnya,” ujarnya.
Meluruskan Mitos
Masykur juga meluruskan anggapan keliru yang masih berkembang di sebagian masyarakat Jawa yang menganggap Muharam atau bulan Suro sebagai waktu yang ‘wingit’ (angker) sehingga pantang untuk menggelar hajatan atau pernikahan.
“Bulan Muharam itu bulan yang dimuliakan Allah, bukan bulan wingit,” tegas Masykur.
Daripada terjebak dalam ritual simbolik, ia mengajak umat untuk membangun “benteng kehidupan” yang sesungguhnya demi keselamatan dunia dan akhirat melalui empat hal:
- Menjaga lisan: Mengacu pada prinsip salāmatul insān fī hifzhil lisān (keselamatan manusia ada pada kemampuannya menjaga ucapan).
- Memperbanyak sedekah: Sebagai amalan yang dapat menolak bala.
- Mempererat silaturahmi.
- Memperkuat doa dan zikir.
Dalam kesempatan tersebut, Masykur mengulas balik tebalnya perjuangan Rasulullah saw. saat menghadapi intimidasi di Makkah. Salah satunya kisah ikonik seorang Yahudi yang setiap hari meludahi Nabi, namun justru dijenguk dan dibawakan makanan oleh beliau saat jatuh sakit. Keteladan inilah yang akhirnya mengetuk hati orang tersebut untuk memeluk Islam.
“Dakwah Rasulullah dibangun di atas kesabaran, kasih sayang, dan kelapangan dada untuk memaafkan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung kisah wafatnya paman Nabi, Abu Thalib, sebagai pengingat bahwa hidayah sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah, sebagaimana termaktub dalam QS. al-Qashash ayat 56. Oleh karena itu, ia mengimbau jemaah untuk tidak lelah mendoakan keluarga agar senantiasa berada dalam petunjuk-Nya.
Menjelang akhir ceramah, Masykur membedah makna hijrah yang melampaui sekat geografis perpindahan Makkah ke Madinah. Hijrah sejati adalah bertransformasi dari kondisi takut menuju aman, dan dari kelalaian menuju kedekatan kepada Allah.
Dalam skala terkecil, hijrah harus dimulai dari rumah tangga dengan menciptakan suasana yang menenangkan, saling menghormati, dan meredam emosi. Ia mencontohkan keluhuran sikap Umar bin Khattab yang sangat sabar menghadapi istrinya karena menghargai besarnya jasa sang istri dalam keluarga.
“Rumah adalah tempat latihan kesabaran yang paling nyata. Keluarga menerima kita apa adanya, maka mereka adalah yang paling berhak mendapatkan kesabaran dan kasih sayang kita,” tuturnya.
Sebagai penutup, Masykur merangkum tiga pesan besar hijrah yang tetap relevan sepanjang zaman: menjaga akidah, menjadikan setiap aktivitas bernilai ibadah (sebagaimana Nabi membangun Masjid Quba dan Nabawi), serta memperkuat ukhuwah (persaudaraan).
“Ketika keluar rumah, niatkan diri kita sedang berhijrah. Jaga akidah, jadikan perjalanan bernilai ibadah, dan bangun persaudaraan, bukan mencari permusuhan,” pungkasnya di hadapan para jemaah. (*/tim)
