Tanggapi Tren Childfree, ‘Aisyiyah: Anak Adalah Amanah, Bukan Beban Hidup

www.majelistabligh.id -

Fenomena childfree, atau keputusan sadar untuk tidak memiliki anak setelah menikah, kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Di media sosial, isu itu kian ramai seiring munculnya berbagai narasi yang mengaitkan pilihan tersebut dengan kebebasan hidup, stabilitas finansial, hingga mitos menjaga penampilan agar tetap awet muda.

Menanggapi hal itu, Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Casmini, menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, pernikahan adalah ibadah mulia yang salah satu tujuannya adalah melahirkan dan meneruskan generasi.

Pandangan ini disampaikannya dalam podcast Harmoni Keluarga, merespons pergeseran cara pandang sebagian generasi muda terhadap esensi keluarga. Casmini bahkan menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022–2023 yang mulai merekam adanya tren perempuan usia produktif di Indonesia yang memilih untuk tidak memiliki anak.

“Ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma terhadap pernikahan. Padahal, salah satu tujuan utama pernikahan dalam Islam adalah memperoleh keturunan. Dalam kajian fikih, hal ini erat kaitannya dengan hifz al-nasl, yaitu menjaga keberlangsungan generasi,” jelasnya.

Bagi ‘Aisyiyah, kehadiran anak tidak semata-mata dipahami sebagai konsekuensi biologis, melainkan sebuah amanah besar yang memiliki bobot spiritualitas yang tinggi.

Membedah Akar Masalah

Casmini memetakan ada tiga faktor utama yang melandasi maraknya pilihan childfree di era modern:

  1. Faktor Ekonomi dan Sosial: Sebagian generasi muda merasa cemas dengan lonjakan biaya hidup dan pendidikan, sehingga memandang kehadiran anak sebagai tambahan beban finansial yang berat.
  2. Aspek Psikologis dan Trauma Masa Kecil: Pengalaman masa lalu yang pahit—seperti pola pengasuhan yang toksik, konflik menahun orang tua, hingga perceraian—meninggalkan luka batin. Trauma ini memicu kecemasan berlebihan bahwa mereka akan mengulang siklus kegagalan yang sama.
  3. Ilusi Media Sosial: Algoritma digital sering kali mengagungkan kehidupan tanpa anak (childfree) sebagai simbol kebebasan mutlak dan kenyamanan instan, tanpa menyajikan realitas kehidupan secara utuh.

Penguatan Literasi Pranikah

Merespons tantangan zaman ini, ‘Aisyiyah mendesak pentingnya penguatan spiritualitas dan literasi keluarga bagi generasi muda sebelum mereka melangkah ke pelaminan. Kursus atau pelatihan pranikah tidak boleh lagi sekadar formalitas teknis, melainkan harus menyentuh kesiapan mental, emosional, dan spiritual.

Khusus bagi individu yang memilih childfree akibat hantaman trauma masa lalu, Casmini menekankan pentingnya pendekatan psikologis yang tepat.

Di akhir pemaparannya, Casmini meluruskan salah kaprah yang menganggap anak hanya akan merenggut kebebasan pribadi. Menurutnya, ketakutan itu muncul ketika institusi keluarga hanya dilihat dari kacamata beban logistik, bukan sebagai ladang ibadah.

Jika dibangun di atas fondasi yang sehat, kehadiran pasangan dan anak justru menjadi support system (sistem pendukung) emosional terbaik untuk mengelola stres dan menghadapi dinamika hidup.

“Menikah itu bukan sebuah tren atau gaya hidup sesaat, melainkan perjalanan nilai dan ibadah. Kehadiran anak adalah bagian dari perjalanan spiritual yang insyaallah akan mengantarkan kita menuju keluarga yang sakinah,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search