Keluarga Masa Kini: Secara Fisik Bersama, Minim Komunikasi

www.majelistabligh.id -

Fenomena anggota keluarga yang hadir secara fisik namun ‘asing’ secara emosional akibat kesibukan gawai, menjadi perhatian serius Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Talqis Nurdiyanto, menegaskan bahwa keluarga adalah unit sosial terkecil sekaligus fondasi utama yang menentukan kualitas masyarakat dan bangsa. Karena itu, menghidupkan kembali komunikasi yang hangat dan keteladanan di dalam rumah menjadi kunci utama membentenginya.

Pesan tersebut disampaikan Talqis saat mengulas “Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM)” dalam pengajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta,”

“Banyak orang tua dan anak berada di bawah satu atap, tetapi kehilangan kedekatan emosional karena sibuk dengan gawai masing-masing. Hadir secara fisik saja tidak cukup jika komunikasi dan hati antaranggota keluarga justru merenggang,” ujar Talqis.

Ia mengingatkan, peran orang tua dalam mendampingi anak, jauh lebih berharga dibanding menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter kepada pihak sekolah.

Talqis membagi pembinaan keluarga Islami ke dalam tiga pokok bahasan: kedudukan, fungsi, dan aktivitas keluarga. Ketiganya berfungsi sebagai sarana muhasabah (evaluasi diri) bagi setiap anggota keluarga:

  • Bagi Ayah: Evaluasi tanggung jawab kepemimpinan rumah tangga.
  • Bagi Ibu: Menilai keikhlasan dan ketulusan dalam mengelola rumah tangga.
  • Bagi Anak: Memastikan hubungan dengan orang tua telah mencerminkan birrul walidain (berbakti).

Talqis menambahkan, dalam konteks Muhammadiyah, keluarga juga mengemban fungsi kaderisasi—tempat lahirnya generasi yang siap melanjutkan dakwah Persyarikatan.

“Keteladanan (uswah hasanah) jauh lebih efektif daripada sekadar nasihat. Perilaku orang tua akan membekas lebih dalam pada diri anak dibanding kata-kata,” tegasnya.

Perspektif Baru Keluarga Sakinah

Mengulas konsep sakinah, mawaddah, wa rahmah, Talqis meluruskan anggapan keliru masyarakat. Menurutnya, keluarga sakinah bukanlah keluarga yang bebas dari masalah, melainkan keluarga yang mampu menyelesaikan persoalan secara bijaksana dan berlandaskan agama.

“Bahkan keluarga Rasulullah saw pun diuji dengan berbagai cobaan berat. Yang membedakan keluarga kuat dan rapuh adalah cara mereka merespons dan menyelesaikan masalah tersebut,” terangnya mengutip QS. Al-Baqarah: 155 dan QS. Ar-Rum: 21.

Pihaknya mendorong keluarga muslim untuk membudayakan kasih sayang, keadilan yang proporsional antar-anak, serta musyawarah dalam mengambil setiap keputusan rumah tangga.

“Keluarga memerlukan ‘nutrisi’ berupa perhatian, penghargaan, dan komunikasi. Semoga Allah menganugerahkan kita keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah serta keturunan yang saleh dan salehah,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search