Tanpa Sadar Kita Memiliki Karakteristik Kepemimpinan Fir’aun

Tanpa Sadar Kita Memiliki Karakteristik Kepemimpinan Fir'aun
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

4. Kita Bisa Menjadi “Bagian dari Fir’aun”
Ini bagian yang sering terlupakan. Al-Qur’an tidak hanya menggambarkan Fir’aun, tetapi juga masyarakat yang mengikuti dirinya:
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ
“Maka dia memperdaya kaumnya, lalu mereka mematuhinya.” (QS. al-Zukhruf [43]: 54).

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Fir’aun memperdaya dan merendahkan pemahaman kaumnya sehingga mereka mengikuti perintahnya (al-Qurthubi, al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. al-Zukhruf [43]: 54).
Ayat ini memberi pelajaran bahwa kekuasaan yang menyimpang membutuhkan partisipasi manusia lain. Karena itu, kita dapat membedakan tiga posisi:

Pertama, menjadi Fir’aun: Yaitu ketika seseorang menggunakan kekuasaan untuk menundukkan orang lain, menolak kritik, memaksakan kehendak, dan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara.

Kedua, menjadi bagian dari Fir’aun: Yaitu ketika seseorang menjadi pembenar, penjilat, pelaksana, pelindung, atau penerima keuntungan dari sistem kekuasaan yang menyimpang.

Ketiga, menjadi masyarakat yang takut kepada Fir’aun.Yaitu mengetahui ada kesalahan tetapi memilih diam karena takut kehilangan jabatan, fasilitas, kedudukan, atau hubungan.
Ketiganya berbeda posisi, tetapi dapat saling memperkuat.

5. “Saya Hanya Menjalankan Perintah”
Salah satu pembenaran yang berbahaya dalam sistem kekuasaan adalah: “Saya hanya menjalankan perintah.” Kalimat ini tidak selalu salah. Dalam organisasi memang diperlukan disiplin dan kepatuhan terhadap keputusan yang sah. Namun, kepatuhan tidak boleh berubah menjadi pembenaran terhadap kesalahan.
Islam mengenal prinsip لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ“Tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan.” Nabi ﷺ bersabda إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ “Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma‘ruf.”
(HR. al-Bukhari, no. 7145; Muslim, no. 1840). Karena itu, seseorang tidak boleh menggunakan loyalitas organisasi sebagai alasan untuk melakukan sesuatu yang jelas bertentangan dengan kebenaran dan keadilan.

Pemimpin harus berani dikoreksi. Bawahan harus berani menyampaikan kebenaran. Dan organisasi harus memiliki mekanisme agar kritik tidak dianggap sebagai pengkhianatan.

6. Fir’aun Memecah Masyarakat
Allah berfirman : وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا “Dan dia menjadikan penduduknya berkelompok-kelompok.” (QS. al-Qashash [28]: 4). Pemecahan masyarakat merupakan instrumen kekuasaan karena masyarakat yang terpecah lebih mudah dikendalikan. Karena itu, kepemimpinan yang sehat seharusnya tidak membangun: “kelompok saya versus kelompok mereka.”

Sebaliknya, kepemimpinan harus membangun: “kita bersama untuk kepentingan yang lebih besar.” Perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Tetapi perbedaan pendapat tidak boleh berubah menjadi permusuhan, apalagi dijadikan alat untuk menyingkirkan orang yang berbeda.
Pemimpin yang gemar membelah masyarakat berdasarkan loyalitas pribadi berisiko menciptakan politik identitas kekuasaan: siapa yang dekat mendapat tempat, siapa yang kritis dicurigai.

7. Ketika Pemimpin Hanya Ingin Dipuji
Ada pemimpin yang sebenarnya tidak membutuhkan nasihat. Ia hanya membutuhkan tepuk tangan. Ia tidak bertanya: “Apa kekurangan saya?” Tetapi: “Siapa yang mendukung saya?” Ia tidak mencari: “Apa yang benar?” Tetapi: “Siapa yang membenarkan saya?” Dalam keadaan seperti itu, penjilat berkembang subur.
Hadis Nabi ﷺ memberikan peringatan tentang budaya memuji secara berlebihan. Ketika seseorang memuji orang lain secara berlebihan di hadapannya, Nabi ﷺ bersabda:
قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِك وَيْحَكَ
“Celakalah engkau, engkau telah memotong leher sahabatmu.” (HR. al-Bukhari, no. 6061; Muslim, no. 3001).

Maknanya sangat dalam: pujian yang tidak proporsional dapat menjadi sesuatu yang membahayakan orang yang dipuji. Pemimpin yang terus-menerus dipuji dapat kehilangan kemampuan melakukan introspeksi. Ia mulai percaya bahwa dirinya selalu benar. Di sinilah penjilat sesungguhnya dapat menjadi musuh tersembunyi pemimpin.

8. Kepemimpinan Islam: Pemimpin Bukan untuk Disembah
Islam membalik paradigma Fir’aun. Fir’aun berkata أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ Sedangkan Islam mengajarkan pemimpin untuk memahami dirinya sebagai hamba Allah dan pemegang amanah. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”(QS. al-Nisa’ [4]: 58).

Kekuasaan dalam Islam adalah amanah, bukan milik pribadi. Nabi ﷺ juga bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari, no. 7138; Muslim, no. 1829). Maka semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya.

 

Tinggalkan Balasan

Search