#Ketika Kesombongan, Penjilatan, Ketakutan, dan Pembenaran Kekuasaan Menjadi Budaya
Nama Fir’aun hampir selalu identik dengan kesombongan, kekuasaan absolut, penindasan, dan perlawanan terhadap kebenaran. Al-Qur’an mengabadikan kisahnya bukan sekadar sebagai catatan sejarah tentang seorang penguasa pada zaman Nabi Musa alaihis salam, tetapi sebagai pelajaran sepanjang zaman tentang bahaya kekuasaan yang kehilangan kendali moral dan spiritual.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ…
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berkelompok-kelompok; dia menindas segolongan dari mereka…” (QS. al-Qashash [28]: 4).
Ayat tersebut memperlihatkan bahwa karakter Fir’aun bukan hanya sombong secara pribadi, melainkan juga membangun pola kekuasaan: menguasai, memecah, melemahkan, menindas, dan mempertahankan kekuasaan. Namun, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting bagi kita: Apakah karakter Fir’aun hanya terdapat pada seorang Fir’aun?
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jujur. Sebab Al-Qur’an bukan hanya meminta kita mengenali kejahatan orang lain, tetapi juga melakukan muhasabah terhadap diri sendiri. Bisa jadi seseorang tidak pernah mengaku sebagai Fir’aun, tetapi memiliki sebagian sifat Fir’aun.
Bisa jadi seseorang tidak berada di puncak kekuasaan, tetapi menjadi bagian dari sistem kekuasaan yang bercorak Fir’aun. Bahkan bisa jadi seseorang mengkritik Fir’aun di depan umum, tetapi diam-diam menyukai sanjungan, membenci kritik, mengejar kedudukan, dan ingin selalu dibenarkan. Inilah yang perlu kita renungkan.
1. Fir’aun Bukan Sekadar Nama, tetapi Gambaran Karakter Kekuasaan
Fir’aun berkata: أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
(QS. al-Nazi‘at [79]: 24). Pernyataan tersebut menunjukkan puncak kesombongan: manusia menempatkan dirinya pada posisi yang seharusnya hanya milik Allah.
Dalam konteks kepemimpinan, karakter tersebut dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus. Seseorang mungkin tidak pernah mengatakan, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”, tetapi perilakunya seakan mengatakan: “Saya pemimpin. Karena itu saya tidak boleh disalahkan.” Atau: “Pendapat saya harus selalu benar.” Atau: “Jangan mengkritik saya.” Di sinilah kesombongan kekuasaan dapat tumbuh tanpa disadari.
Ibn Katsir menjelaskan bahwa Fir’aun merupakan sosok yang melampaui batas, menyombongkan diri, dan menolak kebenaran yang dibawa Musa alaihis salam (Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. al-Qashash [28]: 4).
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar apakah seseorang mengaku seperti Fir’aun, tetapi apakah dalam dirinya terdapat perilaku yang menyerupai karakter Fir’aun.
2. Dari “Saya Pemimpin” Menjadi “Saya Selalu Benar”
Salah satu penyakit kepemimpinan adalah ketika seseorang tidak mampu membedakan antara otoritas jabatan dan kebenaran pribadi. Jabatan memberikan kewenangan tertentu. Akan tetapi, jabatan tidak otomatis memberikan kebenaran. Seorang pemimpin dapat memiliki kewenangan mengambil keputusan, tetapi ia tetap manusia yang dapat keliru. Karena itu, Islam membangun tradisi nasihat dan amar ma‘ruf nahi munkar, bukan budaya pengkultusan pemimpin.
Allah SWT berfirman: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. al-Ma’idah [5]: 2).
Seorang pemimpin yang sehat justru membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan: “Keputusan itu perlu dikoreksi.” “Cara itu kurang tepat.” “Ada masyarakat yang dirugikan.” “Ada aturan yang belum dipenuhi.”
Pemimpin yang bijaksana tidak melihat kritik sebagai penghinaan, melainkan sebagai instrumen koreksi terhadap amanah. Sebaliknya, ketika pemimpin hanya ingin mendengar pujian, maka lingkaran kekuasaannya akan dipenuhi orang-orang yang mengatakan apa yang ingin didengar oleh pemimpin. Pada titik inilah penjilat menjadi berbahaya, bukan hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi pemimpin yang dijilat.
3. Fir’aun dan Budaya Penjilatan
Al-Qur’an menggambarkan Fir’aun memiliki kelompok elite yang berada di sekelilingnya. Ketika para penyihir datang untuk melawan Musa, Fir’aun menjanjikan وَإِنَّكُمْ
إِذًا لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
“Dan sungguh, kamu pasti termasuk orang-orang yang dekat denganku.” (QS. al-Syu‘ara [26]: 42). Ada sebuah pelajaran penting di sini: kedekatan dengan penguasa dapat menjadi alat distribusi keuntungan dan kedudukan.
Dalam kehidupan modern, bentuknya tentu dapat berbeda. Ia tidak harus berupa mahkota, istana, atau gelar kerajaan. Ia dapat muncul dalam bentuk: jabatan, fasilitas, akses, proyek, pengaruh, perlindungan, atau kedudukan dalam lingkaran kekuasaan. Karena itu, kita harus berhati-hati terhadap budaya: “Yang penting dekat dengan pimpinan.”
Sebab apabila kedekatan lebih dihargai daripada integritas, maka organisasi akan kehilangan mekanisme koreksinya. Orang yang kritis disingkirkan. Orang yang selalu memuji dipelihara. Orang yang menyampaikan fakta dianggap mengganggu. Orang yang menyenangkan pimpinan dianggap loyal. Padahal loyalitas kepada pribadi tidak selalu sama dengan loyalitas kepada kebenaran.
