9. Muhasabah: Jangan Hanya Mencari Fir’aun di Luar Diri Kita
Inilah inti artikel ini. Kita sering mudah menunjuk: “Dia Fir’aun!”Tetapi Al-Qur’an mengajak kita bertanya: “Apakah ada sifat Fir’aun dalam diri saya?” Ketika kita menjadi pemimpin:
• Apakah kita senang disanjung?
• Apakah kita marah ketika dikritik?
• Apakah kita hanya mendengar orang yang setuju?
• Apakah kita menghargai orang karena integritas atau karena loyalitas pribadi?
• Apakah kita pernah menggunakan jabatan untuk kepentingan diri?
• Apakah kita membeda-bedakan orang berdasarkan kedekatan?
• Apakah kita memberikan tempat kepada penjilat?
• Apakah kita pernah membungkam kritik yang benar?
Dan ketika kita menjadi bawahan:
• Apakah kita berani mengatakan kebenaran?
• Apakah kita diam karena takut?
• Apakah kita pernah memuji pemimpin secara berlebihan demi keuntungan?
• Apakah kita membela kesalahan karena mendapatkan fasilitas?
• Apakah kita ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar demi menjaga citra pemimpin?Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan cermin muhasabah, bukan alat untuk menghakimi orang lain.
10. Melawan Fir’aunisme Dimulai dari Diri Sendiri
Perubahan tidak selalu dimulai dengan mengganti pemimpin. Perubahan dapat dimulai dengan mengubah budaya kepemimpinan. Jika kita pemimpin, belajarlah menerima kritik. Jika kita bawahan, belajarlah menyampaikan kebenaran dengan adab. Jika kita anggota organisasi, jangan menjadi penjilat.
Jika kita memiliki kekuasaan, jangan menggunakannya untuk membalas kritik. Jika kita memiliki akses kepada pemimpin, gunakan akses itu untuk menyampaikan kebenaran, bukan sekadar menyenangkan hati pemimpin. Jika kita diberi jabatan, ingatlah bahwa jabatan akan berakhir. Tetapi pertanggungjawaban kepada Allah tidak berakhir. Allah berfirman:
وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ
“Dan tahanlah mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya.” (QS. al-Saffat [37]: 24).
Penutup:
Jangan Menjadi Fir’aun, Jangan Menjadi Qarun, dan Jangan Menjadi Pengikut Fir’aun. Kisah Fir’aun mengajarkan bahwa kerusakan kekuasaan tidak hanya terjadi karena adanya seorang penguasa yang sombong. Ia juga dapat tumbuh karena adanya ekosistem lingkungan yang memungkinkan terciptanya “Fir’aunisme” dan yang selalu membenarkan kesombongan tersebut.
Fir’aun mempunyai kekuasaan. Tetapi Fir’aun juga mempunyai orang-orang di sekelilingnya. Karena itu, penyakit kekuasaan tidak berhenti pada “menjadi Fir’aun.” Ada pula penyakit: menjadi pembenar Fir’aun; menjadi penjilat Fir’aun; menjadi pelaksana Fir’aun; menjadi penerima keuntungan dari Fir’aun; atau menjadi orang yang mengetahui kesalahan Fir’aun tetapi memilih diam karena kepentingan pribadi.
Maka introspeksi kepemimpinan harus dilakukan secara menyeluruh. Pemimpin bertanya kepada dirinya: “Apakah saya sedang berubah menjadi Fir’aun? ”Orang-orang di sekeliling pemimpin bertanya: “Apakah saya sedang membantu lahirnya Fir’aun?” Masyarakat bertanya: “Apakah ketakutan dan kepentingan telah membuat saya membenarkan sesuatu yang salah?”
Pada akhirnya, kita tidak cukup hanya berkata: “Fir’aun adalah manusia yang sombong.” Tetapi kita harus berani berkata: “Jangan-jangan kesombongan Fir’aun itu sedang tumbuh dalam diri kita.” Dan jangan sampai kita sibuk mencari Fir’aun di luar diri, sementara benih-benih Fir’aun justru sedang kita pelihara di dalam diri sendiri.
Kepemimpinan sejati bukan ketika orang takut kepada kita, tetapi ketika orang merasa aman menyampaikan kebenaran kepada kita. Pemimpin yang kuat bukan yang tidak pernah dikritik, melainkan yang mampu menerima kritik tanpa kehilangan keadilan.
Dan pengikut yang baik bukan yang selalu mengatakan “benar”, tetapi yang berani mengatakan “benar” ketika memang benar dan “salah” ketika memang salah.
Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb.
