Teknologi Maju, Mengapa Adab Mundur?

Teknologi Maju, Mengapa Adab Mundur?
*) Oleh : Amalia Irfani
Dosen IAIN Pontianak/Sekretaris LPP PWM Kalbar
www.majelistabligh.id -

Kita hidup pada zaman yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya. Bahwa informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, komunikasi menembus batas negara, transaksi berlangsung tanpa uang tunai, dan kecerdasan buatan mulai mengambil sebagian pekerjaan manusia. Digitalisasi telah mengubah wajah peradaban secara fundamental, dan kita bagian yang menikmati kemudahan tersebut.

Berbagai kemudahan dapat kita lihat, ukur dalam segala interaksi sosial, bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, serta berbagai sektor kehidupan lainnya. Namun di tengah euforia,  pertanyaan yang mungkin juga muncul di benak pembaca, apakah digitalisasi juga berhasil meningkatkan kualitas manusia?

Pertanyaan ini menjadi penting karena fakta sosial justru menunjukkan gejala yang paradoksal. Di satu sisi, teknologi berkembang sangat pesat. Sisi lainnya, ruang publik, terutama ruang digital, semakin diwarnai oleh menurunnya kualitas interaksi antarmanusia. Ujaran kebencian, perundungan daring, penyebaran hoaks, budaya saling menghina, hingga lunturnya penghormatan kepada orang tua dan guru menjadi fenomena yang kian mudah ditemukan. Seolah-olah kemajuan teknologi berjalan lebih cepat daripada kemajuan akhlak.

Fenomena tersebut dapat dilihat di kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit keluarga yang tinggal dalam satu rumah tetapi terasing satu sama lain karena masing-masing tenggelam dalam gawainya. Anak lebih akrab dengan media sosial daripada percakapan bersama orang tua. Di ruang publik, budaya menyela, mencaci, dan merendahkan orang lain semakin dianggap lumrah. Bahkan perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan sering berubah menjadi arena permusuhan.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa persoalan utama era digital bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan keterbatasan kebijaksanaan dalam menggunakan informasi. Kita mampu mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu mampu memahami mana yang benar. Kita terhubung secara virtual, tetapi tidak otomatis semakin dekat secara sosial. Kita semakin cerdas secara teknologis, tetapi belum tentu semakin matang secara moral.

Di sinilah hemat penulis makna hidup berkualitas perlu dikembalikan pada esensinya. Selama ini kualitas hidup sering diidentikkan dengan kemudahan akses teknologi, peningkatan pendapatan, atau kemampuan mengikuti perkembangan zaman. Padahal hidup berkualitas tidak hanya diukur dari aspek material dan kemudahan. Hidup berkualitas bagi manusia dewasa saat hubungan sosial sehat, batin tenang dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya.

Kemajuan teknologi tidak akan bermakna apabila pada saat yang sama manusia kehilangan empati. Tidak ada gunanya masyarakat memiliki akses informasi tanpa batas jika mereka kehilangan kemampuan menghormati sesama. Karena peradaban tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh adab. Dalam perspektif Islam, adab bahkan menempati posisi yang sangat penting. Para ulama klasik tidak jarang menempatkan adab sebelum ilmu. Alasannya sederhana, ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, sementara kekuatan tanpa adab dapat melahirkan kerusakan.

Imam Malik pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy agar mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu. Pesan tersebut terasa sangat relevan untuk konteks kekinian. Era digital sesungguhnya membuat ilmu semakin mudah diperoleh, tetapi tidak secara otomatis membuat manusia lebih beradab.

Hari ini seseorang dapat mengakses ribuan buku melalui telepon genggamnya, tetapi belum tentu menghormati gurunya. Seseorang dapat mengutip ayat dan hadis di media sosial, tetapi pada saat yang sama mudah merendahkan orang lain yang berbeda pandangan. Teknologi mempercepat distribusi pengetahuan, tetapi pembentukan karakter tetap membutuhkan pendidikan, keteladanan, dan kesadaran moral.

Islam juga memberikan pedoman yang sangat relevan dalam menghadapi era digital melalui konsep tabayyun. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk memeriksa kebenaran suatu berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Nilai ini menjadi semakin penting ketika media sosial memungkinkan setiap orang menjadi produsen sekaligus distributor informasi.

Sayangnya, budaya tabayyun sering kalah oleh budaya sensasi. Banyak orang lebih tertarik menjadi yang pertama membagikan informasi daripada memastikan kebenarannya. Akibatnya, hoaks menyebar lebih cepat dibanding klarifikasi. Fitnah beredar lebih luas dibanding fakta.

Selain itu, Islam mengajarkan bahwa kualitas manusia tidak terletak pada seberapa terkenal dirinya, melainkan pada seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain. Rasulullah saw bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Prinsip ini menjadi kritik yang relevan terhadap budaya digital saat ini yang sering kali menempatkan popularitas sebagai tujuan utama.

Tidak sedikit orang yang lebih sibuk membangun citra dibanding membangun integritas. Ukuran keberhasilan bergeser dari kualitas karya menjadi jumlah pengikut. Ruang digital dipenuhi pencarian validasi yang tidak ada habisnya. Padahal penghargaan manusia bersifat sementara, sedangkan nilai kebaikan memiliki dampak yang jauh lebih panjang.

Karena itu, tantangan terbesar generasi digital bukanlah bagaimana menciptakan teknologi yang semakin canggih, melainkan bagaimana menjaga nilai-nilai kemanusiaan agar tidak terkikis oleh teknologi itu sendiri. Kita membutuhkan literasi digital, tetapi juga literasi moral. Digitalisasi adalah keniscayaan zaman. Namun adab adalah fondasi peradaban. Tanpa adab, teknologi hanya akan menghasilkan manusia yang semakin pintar tetapi kehilangan arah.|| sumber: SM

 

Tinggalkan Balasan

Search