Tidak Sekadar Evaluasi, Fashmu Ke-3 Dilakukan Kajian Akademik

Rapat evaluasi oleh Majelis Tabligh PWM Jatim. (ist)
www.majelistabligh.id -

Keberhasilan penyelenggaraan Festival Anak Sholeh Muhammadiyah (Fashmu) ke-3 Tingkat Jawa Timur pada 25 Juli 2026 lalu di Kampus Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) tak lantas membuat panitia cepat berpuas diri. Meski riuh gempita dan antusiasme peserta memadati arena, Panitia Fashmu ke-3 bersepakat melakukan evaluasi mendalam melalui kajian akademik guna menyempurnakan helatan di tahun-tahun mendatang.

Langkah ini diambil untuk membedah setiap celah pelaksanaan yang masih memerlukan perbaikan, sehingga Fashmu tidak sekadar menjadi agenda rutinitas, melainkan event kompetisi yang kian berkualitas, presisi, dan relevan.

Dalam rapat evaluasi yang berlangsung di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada Jumat (31/7/2026), Majelis Tabligh PWM Jatim menggarisbawahi bahwa ajang skala besar ini membawa misi strategis yang jauh melebihi sekadar perlombaan.

“Ini bukan sekadar kegiatan biasa, melainkan agenda besar yang melibatkan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur. Fashmu adalah kawah candradimuka untuk mencetak anak-anak sholeh Muhammadiyah sekaligus sarana pembinaan kader sejak usia dini,” tegas Ridwan Abubakar, Ketua Divisi Pembinaan dan Pengembangan Masjid Majelis Tabligh PWM Jawa Timur.

Guna memastikan objektivitas dan bobot kajian ilmiahnya, Majelis Tabligh PWM Jatim secara resmi menunjuk Ridwan Abubakar sebagai Ketua Tim Kajian Akademik, sekaligus memberikannya wewenang penuh untuk menyusun keanggotaan tim.

Penunjukan Ridwan dinilai sangat tepat. Berbekal pengalaman panjangnya sebagai mantan dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, serta rekam jejak akademis yang solid, proses kajian dipastikan akan berjalan komprehensif dan terarah.

Kajian akademik ini ditargetkan mampu membedah sejumlah aspek teknis maupun operasional. Salah satu fokus utama yang akan dievaluasi adalah rentang pengelompokan usia peserta pada beberapa cabang lomba yang dinilai masih terlalu lebar. Selain itu, tim juga memertimbangkan adanya pemisahan kategori berdasarkan gender (laki-laki dan perempuan) guna menciptakan iklim ikhtiar dan kompetisi yang lebih kompetitif serta adil.

Melalui pendekatan berbasis data dan riset akademik ini, Fashmu diharapkan tak hanya terus bertumbuh secara kuantitas, tetapi juga melompat secara kualitas—memberikan dampak berkelanjutan bagi pembinaan generasi muda Muhammadiyah di Jawa Timur. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search