Ulul Albab: Manusia yang Layak Mengemban Amanah

Ulul Albab: Manusia yang Layak Mengemban Amanah
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

#Bagian 4 dari 6 — Integritas, Kapasitas, dan Jiwa Tauhidik

Pada bagian sebelumnya kita sampai pada satu kesimpulan penting: sistem memang diperlukan, tetapi sistem tidak pernah berjalan tanpa manusia. Aturan membutuhkan pelaksana, institusi membutuhkan pengelola, dan kekuasaan membutuhkan manusia yang menggunakannya. Karena itu, pertanyaan tentang sistem pada akhirnya membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar: manusia seperti apa yang layak mengemban amanah kehidupan bersama?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak cukup dicari dari ukuran kecerdasan, tingkat pendidikan, pengalaman politik, kemampuan berbicara, atau keberhasilan profesional. Semua itu penting, tetapi belum cukup. Sebab seseorang dapat memiliki kecerdasan tinggi tanpa integritas, memiliki pengalaman panjang tanpa kebijaksanaan, memiliki pengetahuan luas tanpa ketakwaan, bahkan memiliki kemampuan luar biasa tetapi menggunakan seluruh kemampuannya untuk kepentingan diri sendiri.

Dalam perspektif Qurani, manusia yang dibutuhkan bukan sekadar manusia yang cerdas, tetapi manusia yang memiliki ulul albab—manusia yang menggunakan kedalaman akalnya sekaligus memiliki kesadaran kepada Allah.

Istilah Ulul Albab menarik karena Al-Qur’an tidak menggambarkannya sebagai manusia yang hanya memiliki banyak informasi. Dalam QS. Ali ‘Imran ayat 190–191, Ulul Albab digambarkan sebagai orang-orang yang memperhatikan penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, kemudian mengingat Allah dalam berbagai keadaan dan merenungkan penciptaan tersebut. Di sini terdapat pertemuan antara berpikir dan mengingat, antara akal dan kesadaran ketuhanan, antara membaca realitas dan menyadari Sang Pencipta.

Inilah yang dapat kita sebut sebagai manusia berjiwa tauhidik.

Manusia tauhidik bukan manusia yang meninggalkan dunia demi kehidupan akhirat, sebagaimana ia juga bukan manusia yang tenggelam dalam urusan dunia sampai melupakan akhirat. Ia melihat kehidupan secara utuh. Ia memahami bahwa ilmu diperlukan untuk membaca dunia, tetapi dunia bukan tujuan terakhir. Ia memahami bahwa kekuasaan diperlukan untuk mengatur kehidupan, tetapi kekuasaan bukan milik mutlak manusia. Ia memahami bahwa harta diperlukan untuk kehidupan, tetapi harta bukan ukuran terakhir kemuliaan manusia.

Tauhid dengan demikian bukan sekadar pengakuan teologis bahwa Allah itu Esa. Tauhid juga memiliki konsekuensi epistemologis dan moral: tidak ada sesuatu yang boleh ditempatkan sebagai pusat mutlak kehidupan selain Allah.

Karena itu, manusia tauhidik tidak mudah menjadikan ideologi sebagai agama baru, negara sebagai Tuhan baru, kekuasaan sebagai tujuan hidup, materi sebagai ukuran kemuliaan, atau kelompok sebagai ukuran kebenaran. Ia memiliki kemampuan untuk menggunakan berbagai perangkat kehidupan tanpa menjadikan perangkat tersebut sebagai sesuatu yang mutlak.

Di sinilah manusia tauhidik memiliki hubungan yang erat dengan kebebasan berpikir. Orang yang benar-benar bertauhid justru memiliki alasan untuk tidak memperbudak akalnya kepada manusia. Ia dapat menghormati guru tanpa mengkultuskannya, menghormati pemimpin tanpa mempertuhankannya, menghargai tradisi tanpa membekukannya menjadi kebenaran yang tidak boleh diperiksa, dan menggunakan teori tanpa menjadikannya dogma.

Sebab yang mutlak adalah Allah, sedangkan pemahaman manusia terhadap realitas selalu memiliki keterbatasan.

Kesadaran semacam ini sangat penting dalam kehidupan bersama. Sebab salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan sosial adalah ketika manusia mengubah sesuatu yang sebenarnya relatif menjadi sesuatu yang absolut. Ketika pendapat pribadi dianggap pasti benar, dialog berubah menjadi pertengkaran. Ketika kelompok dianggap sebagai pemilik kebenaran, orang di luar kelompok mudah dianggap sebagai musuh. Ketika ideologi dianggap sebagai kebenaran mutlak, kritik dianggap pengkhianatan. Ketika kekuasaan dianggap sebagai hak pribadi, rakyat dapat berubah menjadi sekadar alat.

 

Tinggalkan Balasan

Search