Di tengah maraknya isu kesehatan mental dan krisis moral modern, pendakwah kondang Ustaz Adi Hidayat (UAH) menyampaikan sudut pandang mendalam mengenai hakekat keberadaan jiwa manusia dan penyakit yang kerap menggerogotinya. Dalam sebuah tayangan ceramahnya, UAH menegaskan bahwa inti dari kehidupan seorang manusia pada dasarnya berpusat pada kondisi jiwanya.
Menurut UAH, di dalam jiwa manusia terdapat dua potensi yang saling bertolak belakang: potensi kebaikan yang disebut takwa, dan potensi keburukan yang dinamakan fujur. Dalam Al-Qur’an Surat Asy-Syams, Allah Swt bahkan secara khusus bersumpah mendalam tentang pentingnya menjaga dan mengenali keadaan jiwa agar tidak terjangkit penyakit.
Berbeda dari pandangan awam yang kerap mengaitkan penyakit jiwa hanya pada kondisi hilang kesadaran, UAH meluruskan pemahaman tersebut.
Penyakit jiwa yang sesungguhnya adalah ketika seseorang tidak mampu mengoptimalkan potensi kebaikannya, sehingga perilakunya didominasi oleh pengaruh buruk dan provokasi setan. Indikator hilangnya kesehatan jiwa ini akan memancar langsung melalui anggota tubuh (jawarih).
“Penyakit jiwa sesungguhnya adalah orang yang tidak mampu mengoptimalkan potensi baiknya sehingga dominan dikuasai oleh potensi buruknya… Keluar lewat mulut kata-kata yang tidak sepantasnya, atau lewat tangan melakukan korupsi dan mencederai orang—nah itu sedang sakit jiwanya,” kata Ustaz Adi Hidayat.
UAH menerangkan bahwa jiwa yang sakit akan menyalurkan sinyal negatif ke akal, yang kemudian diteruskan ke seluruh organ tubuh. Sebaliknya, jika yang tampak dalam tindakan sehari-hari adalah hal-hal positif, hal itu menandakan bahwa jiwa seseorang berada dalam kondisi yang sehat.
Syariat dan Ibadah Sebagai Jalan Penyembuhan
Untuk mengobati jiwa dan membangkitkan potensi takwa, manusia membutuhkan petunjuk dan jalan yang luas, yang dalam Islam dikenal dengan sebutan syariat. Melalui ibadah seperti salat dan puasa, Islam mengajarkan metode konkret untuk menekan tabiat buruk (fahsya dan munkar) serta memperkuat karakter kebaikan.
UAH mencontohkan sejarah transformasi masyarakat Jahiliyah di masa Nabi Muhammad saw. Islam hadir di tengah lingkungan dengan tingkat kriminalitas tinggi dan mengubah individu di dalamnya menjadi sosok-sosok mulia yang dikenang sepanjang zaman. Salah satu contohnya adalah Abu Dzar al-Ghifari yang berasal dari wilayah dengan tradisi pembegalan, namun bertransformasi menjadi pribadi luar biasa setelah memeluk dan mengamalkan ajaran Islam.|| disarikan dari YouTube: Penyakit Jiwa dan Cara Mengobatinya – Ustadz Adi Hidayat
