Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) United Kingdom (UK) & Irlandia tampil sebagai wakil tunggal Indonesia dalam ajang Global Muslim Youth Meet-Up 2026 yang digelar di British Muslim Heritage Centre (BMHC), Manchester, Inggris.
Diinisiasi oleh Yosh International bersinergi dengan MyFundAction, forum ini mempertemukan delegasi pemuda dari berbagai negara, seperti Malaysia, Yordania, Mesir, Turki, Irlandia, hingga Britania Raya sebagai tuan rumah, untuk merumuskan arah pergerakan pemuda Islam global.
Dalam perhelatan tersebut, delegasi PCIM UK & Irlandia tidak hanya terlibat dalam diskusi strategis, tetapi juga berkesempatan melakukan audiens khusus dengan dua tokoh penting Inggris: Lord Mayor of Manchester (Wali Kota) Councillor Shaukat Ali dan Sekretaris Jenderal Muslim Council of Britain (MCB) Dr. Wajid Akhter.
Ketua PCIM UK & Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir, menegaskan bahwa kehadiran mereka membawa misi diplomasi dakwah yang inklusif dan universal.
“Kehadiran kami menegaskan bahwa meski lahir di Indonesia, misi dakwah Muhammadiyah bersifat universal dan lintas negara. Pertemuan dengan Wali Kota Manchester dan Sekjen MCB menjadi bukti bahwa jaringan yang kami bangun semakin diakui, baik oleh otoritas kota maupun komunitas Muslim Inggris secara luas,” ujar Ince Dian, Rabu (19/8/2026).
Rangkaian konferensi dan lokakarya ini membuahkan sejumlah catatan reflektif kritis bagi PCIM UK & Irlandia, yang terangkum dalam tiga pilar utama:
- Reorientasi Makna Pemuda
Forum ini menekankan keteladanan tiga figur kunci dalam sejarah Islam: Ali bin Abi Thalib yang memeluk Islam sejak belia, Mus’ab bin Umair sang diplomat muda di Madinah, serta Ibn Abbas yang mendedikasikan masa mudanya untuk menuntut ilmu (tafaqquh fiddin).
- Transformasi Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship)
Forum merumuskan empat pilar penting untuk menggeser paradigma bisnis umat:
- Kompetisi ke Kooperasi: Mengubah mentalitas persaingan menjadi sinergi dan kolaborasi antar-entitas bisnis.
- Peralihan ke Slow Economy: Mengedukasi masyarakat agar beralih dari pola konsumtif instan menuju konsumsi berkesadaran (buy with intention).
- Konsumen Menjadi Produsen: Mengubah peran umat dari sekadar konsumen aktif (istihlak) menjadi penyedia solusi dan penggerak kedermawanan (infaq).
- Dari Kelangkaan menuju Keberlimpahan: Menguatkan prinsip tauhid bahwa Allah SWT menciptakan bumi dengan porsi yang cukup untuk kebutuhan dasar manusia (human needs). Kelangkaan terjadi bukan karena keterbatasan sumber daya, melainkan akibat kesalahan distribusi dan ketamakan atas keinginan tak terbatas (human wants).
- Inovasi Berkelanjutan dan Kepemimpinan
Forum menyadari bahwa inovasi adalah kebutuhan mutlak lembaga-lembaga Islam agar generasi penerus tetap bangga dan teguh memeluk Islam. Lebih dari itu, kepemimpinan Muslim global dituntut untuk terus membina dan melatih generasi penerus. (*/tim)
