Puncak Kekuatan itu Bernama Memaafkan

Puncak Kekuatan itu Bernama Memaafkan
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada orang yang terlihat tenang ketika disakiti. Ia tidak membalas, tidak berteriak, bahkan memilih diam. Namun diam belum tentu berarti memaafkan. Bisa jadi amarah hanya disimpan lebih dalam, menunggu waktu untuk muncul kembali. Al-Qur’an memberikan gambaran yang lebih tinggi tentang bagaimana seorang beriman menghadapi perlakuan buruk.

Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134, Allah menyebutkan tiga sifat penting: gemar berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain. Kemudian ayat itu ditutup dengan kalimat yang sangat indah: “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Urutannya menarik. Memaafkan disebut setelah kemampuan menahan amarah. Seolah-olah Al-Qur’an menunjukkan perjalanan batin manusia. Pertama, seseorang belajar mengendalikan emosinya. Setelah itu, ia belajar melepaskan kesalahan orang lain dari hatinya. Menahan marah berarti tidak membiarkan emosi menguasai tindakan.

Seseorang mungkin mempunyai alasan untuk marah, bahkan memiliki kemampuan untuk membalas. Namun ia memilih mengendalikan dirinya. Di situlah kekuatan sejati diuji. Sebab orang yang mampu membalas belum tentu kuat. Terkadang justru orang yang mampu membalas tetapi memilih menahan diri menunjukkan kekuatan yang lebih besar.

Namun memaafkan lebih tinggi daripada sekadar tidak membalas. Orang yang tidak membalas mungkin masih menyimpan dendam. Ia tidak menyerang, tetapi luka tetap hidup dalam ingatan. Memaafkan menuntut sesuatu yang lebih dalam: keberanian untuk melepaskan beban itu.

Dendam sering kali tidak menghukum orang yang kita benci. Justru kitalah yang terus membawanya ke mana-mana. Kesalahan orang lain mungkin terjadi sekali, tetapi ketika terus diputar dalam pikiran, luka itu seakan-akan diulang berkali-kali. Karena itu, memaafkan bukan sekadar membebaskan orang lain. Ia juga membebaskan diri sendiri.

Memaafkan bukan berarti menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang benar. Memaafkan juga bukan berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung. Dalam keadaan tertentu, seseorang tetap boleh mencari keadilan dan melindungi dirinya. Tetapi keadilan tidak harus berjalan bersama kebencian. Hati tetap bisa bersih meskipun seseorang memilih menempuh jalan yang tegas.

Al-Qur’an bahkan menghubungkan sikap memaafkan dengan ihsan. Setelah menyebut orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia, Allah berfirman, “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Memaafkan, dengan demikian, bukan hanya persoalan hubungan antarmanusia. Ia juga menyangkut kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah.

Surah Asy-Syura ayat 40 memberikan perspektif yang sama kuatnya. Balasan terhadap suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Tetapi siapa yang memaafkan dan melakukan perbaikan, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan kelemahan. Islam mengajarkan kendali.

Membalas mungkin membutuhkan keberanian. Menahan diri membutuhkan kekuatan. Tetapi memaafkan sering kali membutuhkan kekuatan yang lebih besar. Sebab memaafkan berarti menghentikan rantai kebencian sebelum ia berpindah dari satu hati ke hati yang lain.

Ada saatnya kita berhenti bertanya, “Mengapa dia melakukan itu kepadaku?” Lalu menggantinya dengan pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang ingin Allah bentuk dalam diriku melalui peristiwa ini?” Sebuah luka mungkin tidak pernah kita pilih. Tetapi bagaimana kita merespons luka itu tetap menjadi pilihan.

Mungkin seseorang yang mengecewakan kita justru menjadi jalan untuk belajar tentang kesabaran. Mungkin perlakuan buruk yang kita terima menjadi kesempatan untuk menguji kelapangan hati. Dan mungkin, pada akhirnya, kita menyadari bahwa kemenangan terbesar bukan ketika orang yang menyakiti kita kalah, melainkan ketika kebencian tidak berhasil menguasai hati kita.

Pemaaf bukan orang yang tidak pernah terluka. Pemaaf adalah orang yang pernah terluka, tetapi memilih tidak menjadikan luka itu sebagai identitas hidupnya. Ia boleh mengingat pelajaran dari sebuah kesalahan, tetapi tidak harus membawa dendamnya sepanjang perjalanan.

Kita semua berharap mendapatkan ampunan Allah. Karena itu, belajar memberikan maaf kepada sesama adalah latihan penting bagi hati. Bukan karena orang yang menyakiti kita selalu benar. Bukan pula karena semua kesalahan harus dilupakan begitu saja. Tetapi karena kita ingin menjadi manusia yang hatinya tidak dipenuhi dendam.

Pada akhirnya, memaafkan bukan sekadar menghapus kesalahan orang lain dari ingatan. Memaafkan adalah keputusan untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain mengendalikan kehidupan kita. Dan di situlah sifat pemaaf berubah menjadi sebuah bentuk ihsan: berbuat baik ketika sebenarnya kita memiliki alasan untuk membalas.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Search