Wamendikdasmen Fajar: Dulu Berjuang dengan Bambu Runcing, Kini Pakai Pena

Wamen Fajar saat membuka kegiatan gerak jalan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Pulau Belakang Padang. (ist)
www.majelistabligh.id -

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) bagi generasi muda di wilayah perbatasan.

Hal itu disampaikannya saat membuka kegiatan gerak jalan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Pulau Belakang Padang—yang dikenal sebagai Pulau Penawar Rindu—Kota Batam, beberapa waktu lalu.

Dalam kunjungannya, Wamen Fajar menyoroti letak geografis Pulau Penawar Rindu yang berhadapan langsung dengan Singapura. Menurutnya, meski bernama Belakang Padang, pulau ini sejatinya merupakan teras depan Republik Indonesia.

“Bolehlah nama tempat ini di Belakang Padang, tetapi sesungguhnya Pulau Penawar Rindu ini adalah teras depannya Republik Indonesia,” ujar Fajar.

Ia menambahkan bahwa anak-anak di pulau tersebut mewakili wajah bangsa, sehingga harus memiliki rasa bangga dan patriotisme yang kuat.

Di hadapan para peserta gerak jalan, Wamen Fajar mengajak para pelajar memaknai perjuangan kemerdekaan sesuai tantangan zaman. Ia menekankan perlunya pergeseran cara berjuang dari masa lalu ke masa kini.

“Kalau dulu mengangkat bambu runcing, sekarang saatnya mengangkat pena,” tegasnya.

Makna “mengangkat pena” tersebut diartikan sebagai kesungguhan dalam belajar. Meskipun saat ini era bergerak menuju penggunaan tablet dan ponsel pintar, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap menjadi kunci utama agar kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa dapat dipertahankan.

Selain membuka gerak jalan, Wamen Fajar turut berpartisipasi dalam Senam Anak Indonesia Hebat bersama anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kegiatan ini merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat untuk membentuk anak yang sehat, kuat, dan berani sejak dini.

Mengakhiri kunjungannya, Wamendikdasmen mengapresiasi pemerintah kecamatan, guru, orang tua, serta tokoh masyarakat setempat. Ia mengingatkan bahwa semangat kemerdekaan tidak boleh berhenti pada perayaan 17 Agustus semata, melainkan harus dijaga sepanjang tahun melalui pembentukan karakter dan penguatan kualitas pendidikan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search