Muhammadiyah mulai serius menggarap medan dakwah digital. Bukan sekadar hadir di media sosial, tetapi menyiapkan kader dai yang siap bertarung di ruang algoritma, tempat generasi muda hari ini menghabiskan sebagian besar waktunya.
Langkah itu ditandai dengan dibukanya Bimbingan Teknis (Bimtek) Dai Digital yang digelar Forum Dai Digital Muhammadiyah (Fordigimu) bersama Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Pesantren Mahasiswa KH Mas Mansyur UMS itu menjadi sinyal bahwa dakwah kini tak lagi cukup hanya dilakukan dari mimbar ke mimbar. Muhammadiyah mulai membaca perubahan arah masyarakat yang kini lebih banyak menerima informasi dari layar ponsel.
Sebanyak 35 peserta dinyatakan lolos dan berhak mengikuti Bimbingan Teknis Dai Digital Muhammadiyah. Mereka terpilih setelah melewati proses seleksi ketat dari lebih dari 1.000 pendaftar dai digital dari berbagai daerah di Indonesia. Proses seleksi meliputi tahap administrasi, pengumpulan karya konten dakwah digital, hingga wawancara.
Menariknya, dua kader muda Muhammadiyah asal Sidoarjo turut menjadi bagian dalam forum nasional tersebut, yakni Tri Febriandi Amrulloh, M.Ag dan Bayu Firdaus, S.Pd. Keterlibatan keduanya menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah dari daerah mampu bersaing dan mengambil peran dalam pengembangan dakwah digital di tingkat nasional.
Ketua Fordigimu, Kamarul Zaman, mengatakan dakwah digital kini menjadi perhatian serius Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Menurutnya, ruang digital sudah menjadi “medan dakwah baru” yang tak bisa diabaikan.
“Kalau dulu orang datang ke masjid untuk mendengar ceramah, sekarang banyak yang pertama kali mendapat pesan agama justru dari media sosial. Maka dai juga harus hadir di sana,” ujarnya.
Fenomena itu dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang. Di tengah derasnya arus konten di internet, masyarakat dinilai membutuhkan lebih banyak narasi keislaman yang menenangkan, mencerahkan, dan tidak provokatif.
Direktur Pesma KH Mas Mansyur UMS, Muamaroh, menyebut perjuangan dakwah di era digital membutuhkan komitmen yang lebih besar. Sebab, seorang dai bukan hanya dituntut mampu berbicara, tetapi juga memahami cara berkomunikasi dengan audiens digital yang serba cepat dan dinamis.
“Dakwah itu berat, tetapi dari jalan dakwah itulah kita dipertemukan dengan banyak orang baik dan semoga menjadi amal jariyah,” katanya.
Sementara itu, Ketua LDK PP Muhammadiyah Muchamad Arifin menegaskan bahwa dakwah komunitas sebenarnya telah menjadi bagian dari gerakan Muhammadiyah sejak pertama kali berdiri pada 1912. Bedanya, hari ini komunitas itu berpindah ke ruang virtual.
Menurutnya, seorang dai di era digital harus mampu menyampaikan pesan agama secara lebih luwes dan memahami karakter audiens media sosial yang sangat beragam.
“Dunia virtual sekarang menjadi keharusan karena gadget sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat modern,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ruang digital saat ini tidak sepenuhnya diisi konten positif. Karena itu, kehadiran dai digital dinilai penting untuk menghadirkan pesan-pesan Islam yang menebarkan optimisme dan menjaga moral publik.
Melalui pelatihan ini, Muhammadiyah tampak ingin menunjukkan bahwa dakwah tidak boleh tertinggal oleh perkembangan zaman. Ketika masyarakat berpindah ke dunia digital, maka dakwah pun harus ikut hadir di sana. Bukan hanya untuk viral, tetapi juga memberi arah positif kepada masyarakat luas. (Tri Febriandi Amrulloh)
