Dalam kehidupan, kita sering dihadapkan pada pertanyaan mendasar: Apakah adab harus didahulukan daripada ilmu, atau ilmu lebih tinggi daripada adab? Pertanyaan ini bukan sekadar retorika, melainkan refleksi tentang bagaimana kita menata diri dalam menuntut ilmu dan berinteraksi dengan sesama.
Adab sebagai Fondasi Banyak ulama klasik menekankan bahwa adab adalah pintu masuk sebelum ilmu. Imam Malik pernah berpesan: “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Mengapa demikian? Karena adab menjaga hati, niat, dan perilaku agar ilmu yang diperoleh tidak disalahgunakan. Tanpa adab, ilmu bisa berubah menjadi senjata yang melukai orang lain, bukan cahaya yang menerangi.
Ilmu sebagai Cahaya Di sisi lain, ilmu adalah penerang yang memberi arah. Dengan ilmu, seseorang bisa memahami makna adab secara lebih mendalam. Ilmu memperluas manfaat adab, menjadikannya bukan sekadar formalitas, tetapi perilaku yang berakar pada pemahaman. Tanpa ilmu, adab bisa kehilangan substansi dan hanya menjadi kebiasaan kosong
Harmoni Adab dan Ilmu
• Ilmu tanpa adab: melahirkan kesombongan, merasa paling benar, dan sulit menerima perbedaan.
• Adab tanpa ilmu: melahirkan kebaikan hati, tetapi kurang mampu memberi solusi dan manfaat yang luas.
Keduanya ibarat dua sisi mata uang: tidak bisa dipisahkan. Namun, jika harus ditata urutannya, adab lebih dahulu. Adab adalah wadah, sedangkan ilmu adalah isi. Wadah yang kotor akan merusak isi, tetapi wadah yang bersih akan menjaga isi tetap bermanfaat.
Adab dan ilmu bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi. Adab menuntun ilmu agar menjadi berkah, sementara ilmu memperkuat adab agar tidak sekadar basa-basi. Maka, jalan terbaik adalah menuntut ilmu dengan adab, dan menjaga adab dengan ilmu
Salah masih bisa dibenahi, tapi jika tidak punya rasa hormat dan tidak bisa dan menghargai orang lain itu susah diobati.
Ilmu tanpa adab bisa menjadikan seseorang pintar tetapi arogan, merasa paling benar, dan sulit menerima perbedaan.
Adab tanpa ilmu bisa menjadikan seseorang berperilaku baik, tetapi mungkin tidak mampu memberikan manfaat yang lebih luas karena kurang pemahaman
Dalam tradisi Islam klasik, banyak ulama menekankan bahwa adab harus mendahului ilmu. Imam Malik pernah berkata kepada muridnya: “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Maksudnya, adab adalah fondasi agar ilmu yang dipelajari tidak disalahgunakan.
Namun, ada juga pandangan bahwa ilmu adalah jalan untuk memahami adab dengan lebih dalam. Tanpa ilmu, adab bisa menjadi sekadar formalitas tanpa makna
* Adab adalah pintu masuk: ia menjaga hati dan niat agar ilmu tidak menjerumuskan.
• Ilmu adalah cahaya: ia memberi arah dan memperluas manfaat adab. Keduanya tidak bisa dipisahkan, tetapi jika harus ditata urutannya, banyak ulama menekankan adab di atas ilmu, karena adab adalah wadah yang membuat ilmu menjadi berkah
Dalam Al-Qur’an, baik adab maupun ilmu sama-sama mendapat penekanan penting: ilmu disebut sebagai cahaya yang mengangkat derajat manusia, sementara adab (akhlak) menjadi syarat agar ilmu itu membawa berkah. Banyak ulama menafsirkan bahwa adab harus mendahului ilmu, karena tanpa adab, ilmu bisa menjerumuskan.
Beberapa ayat menekankan keutamaan menuntut ilmu:
• QS Al-‘Alaq ayat 1–5:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ayat pertama yang turun menegaskan ilmu sebagai dasar peradaban.
• QS Al-Mujadalah ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Ilmu menjadi faktor pengangkat derajat manusia.
• QS At-Taubah ayat 122:
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ ࣖ
Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?
Menekankan pentingnya sekelompok orang mendalami ilmu agama untuk memberi peringatan kepada kaumnya.
Ayat Al-Qur’an tentang Adab
Al-Qur’an juga mengabadikan banyak adab dalam kehidupan sehari-hari:
1. Adab menjaga kehormatan sesama
QS Al-Hujurat ayat 11:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik) setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.
2. Adab dalam interaksi sosial
QS An-Nisa ayat 86:
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu.
3. Adab berupa kerendahan hati
QS Al-Furqan ayat 63:
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”
