Antara Makkah-Malang: Saat Dam Haji Menjadi Berkah bagi Sesama

Fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah tetang Dam haji, memberikan manfaat maksimal di dalam negeri. (dok)
www.majelistabligh.id -

Di saat jutaan umat Islam memadati Tanah Suci untuk menyempurnakan rukun Islam kelima pada Sabtu (30/5/2026), denyut ibadah haji ternyata gaungnya merasuk hingga ke pelosok Malang Raya. Dari Makkah dan Mina, esensi spiritual itu mengalir jauh, menyentuh panti asuhan, pesantren, hingga rumah-rumah sederhana melalui aksi sosial nyata.

Suasana di Kompleks Muhammadiyah Islamic Center Manarul Islam (MIC MANIS) Kota Malang tampak sibuk dan tertib. Di salah satu kawasan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) ini, belasan hewan dam (denda/sembelihan wajib) milik jamaah haji KBIHU RSI Aisyiyah disembelih.

Bagi sebagian orang, dam mungkin hanya dipahami sebagai gugur kewajiban syariat di Tanah Suci. Namun, di tangan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) Kota Malang, ibadah ini bertransformasi menjadi jembatan kemanusiaan yang menghubungkan kesalehan ritual dengan kebutuhan sosial masyarakat.

Program pemanfaatan hewan dam di dalam negeri ini berjalan tegak di atas pandangan fikih Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, serta diselaraskan dengan regulasi pemerintah. Aturan ini membuka ruang agar nilai sosial-ekonomi hewan dam bisa dialihkan ke tanah air, sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat yang membutuhkan.

Di tengah tantangan zaman yang semakin individualistis, langkah ini menjadi wujud nyata dari nilai ta’awun (saling menolong). Islam mengajarkan bahwa kesalehan seorang Muslim tidak hanya diukur dari kekhusyukan ritual (hablum minallah), tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dihadirkan bagi sesama manusia (hablum minannas).

“Program ini merupakan wujud nyata hubungan harmonis antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Ibadah haji tidak hanya memiliki dimensi vertikal dengan Allah, tetapi juga dimensi kemanusiaan yang kuat,” ujar Wakil Ketua PDM Kota Malang, Dr. dr. H. A. Andyk Asmoro, Sp.An-TI., FIPM.

“Kami mengapresiasi kepercayaan jamaah haji KBIHU RSI Aisyiyah Kota Malang. Amanah ini kami kelola secara tepat sasaran, higienis, dan memberikan dampak sosial-ekonomi yang nyata,” imbuhnya.

Transparan dan Tepat Sasaran

LAZISMU Kota Malang berkomitmen menjaga akuntabilitas program ini dari hulu ke hilir. Prosesnya dimulai dari pengadaan ternak yang lolos syarat syar’i dan kesehatan, penyembelihan yang higienis, hingga distribusi daging yang ketat.

Daging hasil pemotongan tersebut disalurkan ke berbagai kantong kemiskinan di Malang Raya. Penerima manfaat difokuskan pada:

  • Keluarga prasejahtera.
  • Anak-anak berisiko stunting (tengkes).
  • Panti asuhan.
  • Santri di pondok pesantren binaan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Menariknya, jarak ribuan kilometer tidak menjadi penghalang transparansi. Jamaah haji yang saat ini masih berada di Makkah tetap mendapatkan kepastian ibadah mereka melalui sistem pelaporan digital. Dokumentasi dan notifikasi penyembelihan dikirimkan secara real-time oleh LAZISMU langsung ke ponsel para jamaah sebagai bukti sah pelaksanaan dam.

Melalui program ini, gema takbir dan doa dari Tanah Suci bertransformasi menjadi bantuan nyata yang mengenyangkan, mengukir senyum, dan menumbuhkan kembali harapan mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Solidaritas ini membuktikan bahwa ibadah sejati tidak berhenti di atas sajadah atau jubah ihram. Pada akhirnya, kemabruran haji tidak hanya tercermin dari jejak kaki yang sampai ke Kakbah, melainkan juga dari aliran manfaat yang sampai ke hati sesama. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search