Kota Suci Makkah kembali menjadi saksi perjalanan spiritual penuh haru bagi pengusaha nasional sekaligus tokoh Muslim Tionghoa, K.H. Jusuf Hamka. Di tengah amanah besar yang diembannya pada musim haji tahun ini, pria yang akrab disapa Babah Alun tersebut membagikan sebuah momen emosional yang menggetarkan hati saat beribadah di Masjidil Haram.
Melalui unggahan video di akun Instagram resminya @jusufhamka pada Senin (25/5/2026), Babah Alun menceritakan perjuangan dramatisnya saat berusaha mencium Hajar Aswad di tengah lautan manusia.
“Kun Fayakun. Tidak ada yang mustahil kalau Allah sudah berkehendak. Sabtu Subuh (23/5/2026), Babah dapat kesempatan salat Subuh tepat di saf pertama di depan Kakbah. Rezeki anak saleh,” tulis Babah Alun.
Usai menunaikan salat, hasrat spiritual membawa langkahnya untuk mendekati sudut Kakbah. Perjuangan itu tidak mudah. Ia harus melebur dan bertahan di tengah kepadatan jemaah dari seluruh dunia.
“Selesai salat Subuh, Babah langsung berdesak-desakan sampai hampir kehabisan napas karena berebutan untuk mencium dan berdoa di Hajar Aswad,” lanjutnya.
Namun, mukjizat kecil itu datang. Atas izin Allah SWT serta bantuan dari para sahabat yang mendampinginya, Babah Alun berhasil menembus kepadatan tersebut.
“Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah Swt dan bantuan para sahabat, akhirnya Babah berhasil menerobos jutaan lautan manusia dan bisa berdoa di dalam Hajar Aswad. Terima kasih ya Allah, sungguh Maha Suci Engkau,” ungkapnya penuh syukur.
Catatan Sejarah Baru Haji Indonesia
Pengalaman spiritual ini terasa kian bermakna karena terjadi bersamaan dengan momentum bersejarah bagi dunia perhajian Indonesia. Pemerintah secara resmi menunjuk Jusuf Hamka sebagai salah satu bagian dari jajaran pimpinan Amirul Hajj 2026.
Penunjukan ini menorehkan tinta emas dalam sejarah bangsa. Untuk pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, seorang tokoh keturunan Tionghoa dipercaya masuk dalam jajaran tertinggi misi haji negara. Langkah ini dinilai sebagai simbol kuat atas indahnya keberagaman dan persatuan nasional.
Dilansir dari Media Center Haji (MCH), sosok Babah Alun tidak hanya dikenal sebagai bos jalan tol, melainkan juga figur sosial yang aktif dalam dakwah dan aksi kemanusiaan. Kehadirannya di Amirul Hajj membawa pesan toleransi dan inklusivitas yang sangat kuat.
“Mumpung ada Kementerian Haji dan Umrah, Pak Prabowo ingin memperbaiki (pelayanan haji), yuk kita sama-sama. Makanya digandenglah pengusaha. Ini namanya rezeki anak saleh,” ujar Jusuf Hamka.
Ia juga mengapresiasi langkah progresif pemerintah yang memberikan ruang inklusif bagi seluruh elemen bangsa tanpa memandang latar belakang suku.
“Ini memang keren, Pak Menteri keren, Pak Dahnil keren. Kalau kita melihat toleransi, ini sudah mencakup semua. Melalui kebersamaan ini, mari kita bangun negeri tercinta yang gemah ripah loh jinawi. Karena dengan bersatu, kita pasti bisa,” tegasnya.
Konsistensi Menjaga Harmoni
Lahir pada 5 Desember 1957, pria bernama asli Jauw A Loen ini tumbuh dalam keluarga Tionghoa yang moderat dan terpelajar. Ayahnya, Dr. Joseph Suhaimi, merupakan seorang akademisi yang pernah menjadi dosen di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.
Perjalanan spiritual Babah Alun dimulai pada tahun 1981 saat ia memutuskan memeluk agama Islam di Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta. Proses mualafnya dibimbing langsung oleh ulama besar kharismatik, Buya Hamka, yang kemudian mengangkatnya sebagai anak dan memberikan nama belakang ‘Hamka’.
Tiga tahun berselang, tepatnya pada 1984, ia menunaikan ibadah haji pertamanya. Sejak saat itu, Babah Alun konsisten menyuarakan wajah Islam yang damai, terbuka, dan menjunjung tinggi persaudaraan lintas budaya.
Langkah spiritualnya tersebut membawa berkah bagi keluarga. Keputusannya berislam tidak hanya diterima dengan baik oleh keluarga besar, tetapi kemudian diikuti oleh istri, Lena Burhanudin, serta ketiga anaknya—Fitria Yusuf, Feisal Hamka, dan Farid Hamka—yang resmi memeluk Islam pada Maret 2020.
Sebagai sosok yang kerap disebut berada dalam posisi ‘minoritas ganda’, Jusuf Hamka justru berhasil berdiri tegak sebagai figur yang dihormati lintas kalangan. Dedikasinya pada Amirul Hajj 2026 menjadi bukti nyata bahwa sekat-sekat perbedaan melebur manis dalam semangat persatuan dan pelayanan kepada umat. (*/tim)
