Jurnalisme Filantropi Jadi Solusi Bagi Pendidikan Nasional

Diskusi dan bedah buku ”Jurnalisme untuk Kemanusiaan: Panduan Praktik Jurnalisme Filantropi”. (ist)
www.majelistabligh.id -

Media massa diminta tak sekadar menjual narasi konflik dan persoalan dalam memotret dunia pendidikan Indonesia. Lebih dari itu, media dituntut mengadopsi paradigma jurnalisme filantropi—sebuah pendekatan yang berorientasi pada dampak dan solusi nyata bagi masyarakat.

Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam diskusi dan bedah buku ”Jurnalisme untuk Kemanusiaan: Panduan Praktik Jurnalisme Filantropi” karya akademisi sekaligus Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Dr. Roni Tabroni, M.Si., di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Bojongsari, Depok, Kamis (30/7/2026).

Roni menilai, pemberitaan pendidikan saat ini masih didominasi isu negatif, seperti perundungan, tawuran, polemik PPDB, hingga keterbatasan infrastruktur. Padahal, pers semestinya tidak berhenti pada fungsi penyampai informasi dan kontrol sosial belaka.

“Jurnalisme filantropi merupakan paradigma baru yang sangat relevan untuk isu pendidikan. Media tidak hanya memaparkan masalah, tetapi juga mengawal lahirnya solusi yang membawa manfaat nyata,” ujar dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung tersebut.

Menurut Roni, pers perlu menggeser fokus dari sekadar mengejar tingkat keterbacaan (klik) atau viralitas menuju jurnalisme berorientasi dampak (impact journalism).

Ia mencontohkan potret pengabdian guru di berbagai daerah yang kerap tertutup oleh riuhnya persoalan struktural. Kisah-kisah dedikasi tersebut, menurutnya, merupakan “mutiara” yang patut diangkat tanpa bermaksud membangkitkan iba semata.

“Di balik isu kesejahteraan guru, ada pengabdian yang luar biasa. Media bertanggung jawab mengawal kisah ini hingga mampu memantik kepedulian publik, kolaborasi, serta mendorong lahirnya kebijakan yang konkret,” tegasnya.

Selain itu, Roni menyoroti pentingnya peliputan pascakebijakan (follow-up reporting). Melalui pengawasan yang berkelanjutan, publik dapat mengukur dampak nyata sebuah kebijakan terhadap kehidupan guru dan siswa di lapangan.

Diskusi interaktif ini turut menghadirkan jajaran pembahas silang sektor, antara lain Kepala Biro Umum dan Pengadaan Barang/Jasa Kemendikdasmen Herdiana, Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi dan Media, Ma’ruf, akademisi UMJ Tria Patrianti, serta Managing Editor Detik.com Erwin Daryanto.

Kehadiran para panelis memperkaya perspektif tentang pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang lebih humanis dan partisipatif melalui peran pers. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search