Guru Muhammadiyah dituntut untuk selalu menjaga profesionalisme dalam menjalankan peran sentralnya sebagai pendidik, pengajar, sekaligus pembimbing. Lebih dari sekadar profesi, tugas keguruan di lingkungan Muhammadiyah hendaknya dimaknai sebagai wujud pengabdian tertinggi kepada Allah Swt.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, dalam acara Pembinaan Guru dan Karyawan Perguruan Muhammadiyah Cabang Tandes, Surabaya. Kegiatan yang mengusung tema “Profesionalisme Guru Adalah Ciri Khas Kader Muhammadiyah” ini berlangsung di Hotel Paradise Batu, Malang, Jumat (31/7/2026).
Dalam arahannya, Sholihin menggarisbawahi bahwa bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tidak boleh diniatkan hanya untuk mencari nafkah belaka.
“Jika niatnya adalah pengabdian kepada Allah Swt, maka Allah yang akan memberikan kemudahan, kelancaran, kesuksesan, hingga keberkahan dalam hidup,” tuturnya.
5 keyakinan Utama Bekerja di AUM
Untuk menanamkan etos kerja yang kokoh, Sholihin membeberkan lima prinsip keyakinan yang wajib dimiliki oleh setiap individu yang berkhidmat di AUM:
- Bekerja adalah Perintah Allah Swt: Kesadaran utama dalam beramal, bukan semata menuruti instruksi pimpinan atau dorongan keluarga.
- Keyakinan akan Pertolongan Allah: Mereka yang ikhlas dalam bekerja akan selalu dibukakan jalan dan dimudahkan setiap urusannya.
- Balasan yang Sempurna: Allah pasti membalas setiap peluh kebaikan. Balasan tersebut tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga kemudahan hidup, keluarga yang sakinah, serta keturunan yang shalih-shalihah.
- Pengawasan Ketat dari Allah: Tidak ada satu pun tindakan atau niat yang terlewat dari pengawasan-Nya.
- Pertanggungjawaban Akhir: Setiap tugas dan amanah yang diemban kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Menutup pemaparannya, Sholihin mengingatkan para peserta tentang hakikat peran seorang pendidik. Menurutnya, tantangan terberat seorang guru justru hadir ketika ia sudah tidak lagi menjadi guru.
Oleh karena itu, kesempatan menjadi bagian dari Perguruan Muhammadiyah harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk terus memperbaiki diri dan menebar manfaat bagi sesama.
“Kita harus memahami bahwa AUM dibentuk untuk mempercepat tercapainya tujuan besar Muhammadiyah, sekaligus menjadi wadah strategis dalam menyemai lahirnya kader-kader persyarikatan yang tangguh,” pungkasnya. || sholihin fanani
