Air Mata di Hari Kemerdekaan: Merenungi Janji pada Bangsa dan Sang Pencipta

Air Mata di Hari Kemerdekaan: Merenungi Janji pada Bangsa dan Sang Pencipta
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim.
www.majelistabligh.id -

Setiap kali bulan Agustus menyapa, pekat warna merah putih berkibar gagah di setiap sudut negeri. Ringkik sirine, gema proklamasi, dan riak lagu kebangsaan membangkitkan kebanggaan yang membuncah. Namun, di balik semarak kemeriahan perayaan, pernahkah kita menyempatkan diri sejenak menundukkan kepala, membiarkan bening air mata menetes, bukan sekadar karena haru, melainkan karena rasa malu dan perenungan yang mendalam?

Air mata di hari kemerdekaan seharusnya menjadi cermin tempat kita bercermin sebagai seorang hamba sekaligus warga bangsa. Para pahlawan memerdekakan negeri ini tidak hanya dengan genangan darah dan keringat, tetapi juga dengan tetesan air mata doa yang membubung ke langit. Dalam bait pembukaan UUD 1945, diakui secara tegas bahwa kemerdekaan adalah “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Ini adalah pengakuan iman yang menyejarah: tanpa pertolongan Sang Pencipta, raga yang rapuh ini tak akan sanggup meruntuhkan kokohnya belenggu penjajahan.

Namun, mari bertanya pada hati nurani masing-masing: Sudahkah kita menunaikan janji atas nikmat kemerdekaan ini?

Menagih Janji pada Sang Pencipta

Dalam Islam, kemerdekaan (al-hurriyah) yang sejati bukan sekadar kebebasan bertindak tanpa batas, melainkan terbebasnya jiwa dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan murni hanya kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7)

Kemerdekaan adalah nikmat raksasa. Cara mensyukurinya bukan dengan pesta pora yang melalaikan, melainkan dengan memakmurkan bumi Allah melalui keadilan, kebaikan, dan ketakwaan. Ketika maksiat masih mengepung, korupsi dianggap biasa, dan kezaliman kerap menindas yang lemah, di situlah air mata penyesalan harus menetes. Kita telah mengkhianati janji rasa syukur kita kepada Sang Maha Pemberi Kemerdekaan.

Merenungi Amanah untuk Bangsa

Menjadi warga negara yang beriman berarti memahami bahwa menjaga bangsa ini adalah bagian dari amanah agama. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mencintai tanah air dan menegakkan keadilan di atasnya. Janji kita pada bangsa adalah mengisi kemerdekaan dengan karya, integritas, dan empati sosial.

Air mata kita hari ini harus menjadi air mata pembersih dosa bangsa air mata taubat nasuha. Sudah saatnya kita memerdekakan diri dari sifat egois, keserakahan, dan perpecahan.

Mari jadikan peringatan kemerdekaan ini sebagai momentum untuk memperbaharui syahadat dan janji setia kita. Berjanjilah kepada Sang Pencipta untuk menjadi hamba yang bertakwa, dan berjanjilah kepada bangsa untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Semoga Allah SWT senantiasa merawat kemerdekaan negeri ini dan membebaskan kita dari belenggu kehinaan di dunia dan akhirat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search