Satu dekade terakhir, fenomena hijrah tumbuh begitu masif di tengah masyarakat modern. Anak-anak muda berbondong-bondong mendekatkan diri kepada agama, majelis taklim dipadati jamaah, dan busana-busana syar’i kian bangga dikenakan di ruang publik. Pemandangan ini tentu membawa angin segar yang patut disyukuri.
Namun, di balik semaraknya perubahan fisik tersebut, muncul sebuah keprihatinan yang tak bisa diabaikan: banyak di antara kita yang proses hijrahnya berhenti hanya pada penampilan luar, tanpa menyentuh kedalaman akhlak.
Pakaian yang memanjang, celana yang menggantung di atas mata kaki, hingga kening yang menandakan rajinnya sujud adalah simbol ketaatan yang baik. Namun, fenomena hari ini sering kali memperlihatkan ketidakseimbangan yang kontras. Tidak sedikit seseorang yang secara visual terlihat sangat agamis, tetapi lisan dan ketikannya di media sosial masih gemar menyakiti, memfitnah, atau menghakimi orang lain. Penampilan luar telah berubah anggun, namun cara berinteraksi dengan sesama seperti kepada orang tua, tetangga, maupun rekan kerja masih dipenuhi kesombongan dan egoisme.
Rasulullah SAW diutus ke dunia bukan sekadar untuk mengubah tata cara berpakaian manusia, melainkan untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Dalam sebuah hadis yang sangat populer, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Islam adalah bangunan yang utuh. Penampilan luar ibarat cangkang atau kulit luar, sedangkan akhlak adalah isi dan buahnya. Sangat disayangkan jika seseorang berjuang keras memperbaiki cangkangnya, tetapi membiarkan isinya tetap kosong atau bahkan membusuk.
Ibadah ritual dan kesalehan fisik seharusnya memancarkan energi positif dalam hubungan sosial (muamalah). Shalat yang khusyuk mencegah perbuatan keji dan munkar. Lantas, bagaimana mungkin seseorang yang mengaku sudah hijrah justru semakin mudah merendahkan mereka yang belum mendapatkan hidayah serupa?
Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan para sahabat tentang sosok yang terancam bangkrut di hari kiamat. Bukan karena mereka tidak shalat, tidak puasa, atau tidak bersedekah, melainkan karena pahala ibadah mereka habis terbagi untuk membayar kezaliman lisan dan sikap mereka kepada orang lain semasa di dunia.
Hijrah yang sejati (hakiki) adalah transformasi menyeluruh (kaffah). Penampilan yang semakin syar’i idealnya berbanding lurus dengan lisan yang semakin terjaga, hati yang semakin rendah (tawadhu), kepedulian sosial yang semakin tinggi, serta kesabaran yang semakin lapang.
Memperbaiki penampilan adalah langkah awal yang sangat baik, tetapi jangan pernah menjadikannya garis akhir. Mari evaluasi kembali perjalanan hijrah kita. Jangan biarkan jubah, cadar, atau janggut kita hanya menjadi topeng spiritualitas, sementara karakter dan tabiat kita masih sama rapuhnya seperti sebelum mengenal sunnah. Sebab pada akhirnya, Allah SWT tidak hanya melihat seberapa rapi pakaian ketaatan yang kita kenakan, tetapi seberapa bersih hati dan akhlak yang kita bawa menghadap-Nya.
Al-Qur’an memuat beberapa ayat yang secara tegas mengritik sikap manusia yang hanya berfokus pada simbol lahiriah/penampilan, namun mengabaikan isi, niat, dan kesalehan akhlak.
Berikut adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan esensi tersebut:
1. Pakaian Terbaik Adalah Pakaian Takwa (Akhlak/Hati)
Al-Qur’an menegaskan bahwa sebaik-baik penutup dan perhiasan diri bukanlah pakaian fisik semata, melainkan takwa yang tercermin dalam akhlak.
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
“Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat”. QS. Al-A’raf [7]: 26
۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir… dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin…” QS. Al-Baqarah [2]: 177
3. Peringatan Terhadap Orang yang Penampilannya Mengagumkan, Namun Hatinya Rusak
Al-Qur’an menyindir figur yang secara penampilan luar dan tutur kata tampak sangat meyakinkan serta agamis, namun sejatinya memiliki kelakuan/akhlak yang buruk.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ
“Dan di antara manusia ada yang penjelasannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dia bersaksi kepada Allah atas isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.” QS. Al-Baqarah [2]: 204
4. Sindiran untuk Penampilan Fisik Tanpa Bobot Karakter (Seperti Kayu Tersandar)
Ayat ini menjelaskan fenomena orang yang secara fisik/penampilan luar tampak sempurna dan membuat orang kagum, namun secara substansi akhlak dan jiwanya kosong.
۞ وَاِذَا رَاَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ اَجْسَامُهُمْۗ وَاِنْ يَّقُوْلُوْا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْۗ كَاَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ ۗيَحْسَبُوْنَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْۗ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْۗ قَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۖاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ
“Dan apabila engkau melihat mereka, tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata, engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar…” QS. Al-Munafiqun [63]: 4
5. Ibadah Fisik Tanpa Akhlak Ditegur Secara Keras
Bahkan untuk urusan ibadah ritual sekalipun, Al-Qur’an memberi ancaman bagi mereka yang salat (penampilan fisik rajin ibadah), tetapi akhlak sosialnya buruk (enggan menolong dan riya’).
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ ࣖ
“Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya’, dan enggan (memberikan) bantuan barang berguna.” QS. Al-Ma’un [107]: 4–7
Dalam pandangan Al-Qur’an, penampilan fisik dan syiar lahiriah adalah hal yang baik, tetapi ia baru menjadi bernilai jika diimbangi dengan pakaian takwa, yaitu lisan yang terjaga, hati yang bersih dari kesombongan, dan akhlak yang bermanfaat bagi sesama. (*)
