Saat ini, kita memasuki waktu yang sangat istimewa. Jika pada bulan Ramadan terdapat 10 malam terakhir yang di dalamnya ada Lailatulqadar, maka pada bulan Dzulhijah Allah ﷻ memberikan kepada kita 10 hari pertama yang kemuliaannya tidak tertandingi oleh hari-hari lainnya sepanjang tahun.
Namun, sayangnya, banyak di antara kita yang melewatkan hari-hari awal bulan Dzulhijah begitu saja. Kita sering kali hanya fokus pada Hari Raya Iduladha atau maksimal menambah dengan Hari Arafah saja, padahal delapan hari sebelumnya merupakan musim ibadah yang sangat dahsyat pahalanya.
Di antara dalil yang menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut adalah firman Allah ﷻ,
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr [89]: 2)
Kementerian Agama RI dalam catatan kakinya menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “malam yang sepuluh” adalah sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Ada pula yang mengatakan sepuluh hari pertama bulan Muharam, termasuk di dalamnya Hari Asyura. Pendapat lain menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah.
Keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijah juga diterangkan Rasulullah ﷺ dalam hadis Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut,
«مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ».
“Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijah).” Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi ﷺ menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya, namun tidak ada yang kembali satu pun.” (HR. Abu Dawud No. 2438, At-Tirmidzi No. 757, Ibnu Majah No. 1727, dan Ahmad No. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih.)
Berdasarkan hadis ini, 10 hari pertama Dzulhijah merupakan momentum untuk meningkatkan kualitas diri dan ketakwaan kepada Allah ﷻ. Berikut beberapa amalan yang dapat dilaksanakan untuk mengisi 10 hari pertama Dzulhijah secara maksimal meskipun tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Pertama, Berpuasa Sunah
Dari Hafshah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ
“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura (10 Muharam), berpuasa tiga hari setiap bulannya, awal bulan di hari Senin dan Kamis.” (HR. Abu Dawud No. 2437 dan An-Nasa’i No. 2374)
Hadis ini menerangkan bahwa puasa sunah dapat dilaksanakan sejak tanggal 1–9 Dzulhijah dengan berbagai pola, seperti puasa penuh selama sembilan hari, Puasa Daud, atau puasa Senin dan Kamis. Akan tetapi, diusahakan untuk tidak meninggalkan Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah.
Rasulullah ﷺ bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
“Puasa Arafah (9 Dzulhijah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim No. 1162)
Kedua, Memperbanyak Zikir
Amalan ini memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an. Allah ﷻ berfirman,
وَيَذْكُرُوا ٱسْمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍۢ
“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj [22]: 28)
Dalam ayat tersebut disebutkan istilah al-ayyām al-ma‘lūmāt yang merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak zikir, seperti tahlil, takbir, dan tahmid. Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk membasahi lisan kita dengan zikir mutlak pada hari-hari tersebut. Adapun zikir muqayyad, seperti “takbiran” setelah salat, mulai dibaca sejak Subuh tanggal 9 hingga Asar tanggal 13 Dzulhijah.
Para ulama juga sangat menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak zikir pada hari-hari tersebut. Salah satu hadis maukuf menceritakan tentang Ibnu Umar dan Abu Hurairah yang selalu bepergian ke pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah sambil mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh orang-orang yang menyaksikan mereka. Perilaku para sahabat ini merupakan salah satu bukti kuat dianjurkannya amalan ini.
Ibnu ‘Abbas berkata, “Dan berzikirlah kalian kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan”, maksudnya adalah sepuluh hari pertama Dzulhijah, sedangkan “al-ayyāmul ma‘dūdāt” adalah hari-hari tasyrik. Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar di hari-hari tersebut, lalu mereka bertakbir dan orang-orang pun ikut bertakbir karena mereka. Muhammad bin ‘Ali juga bertakbir setelah salat sunah. (Diriwayatkan oleh Bukhari)
Ketiga, Menyembelih Kurban
Bagi siapa pun yang memiliki kelapangan rezeki, siapkanlah kurban terbaik sebagai bukti cinta kita kepada Allah ﷻ melebihi cinta kita pada harta.
Udhiyah pada hari nahr (Iduladha) disyariatkan berdasarkan beberapa dalil, di antaranya firman Allah ﷻ,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
“Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” (QS. Al-Kautsar [108]: 2)
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Barang siapa yang memiliki kelapangan (rezeki), lalu tidak berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat salat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Keempat, Menjauhi Maksiat
Menjauhi maksiat adalah kewajiban sepanjang tahun. Akan tetapi, pada bulan Dzulhijah yang termasuk bulan haram, larangan tersebut mendapatkan penegasan khusus agar kaum muslimin lebih berhati-hati dari dosa dan tidak menzalimi diri sendiri.
Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu).” (QS. At-Taubah [9]: 36)
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci. Melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan saleh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”
Artinya, seseorang yang beramal saleh di bulan Dzulhijah (dan bulan-bulan haram lainnya) dengan kuantitas yang sama akan mendapatkan pahala lebih besar dibandingkan jika dilakukan di luar bulan-bulan haram. Sebaliknya, jika melakukan dosa, maka dosanya pun menjadi lebih besar.
Terkait hal ini, sebagian ulama berpandangan bahwa dosa tidak dilipatgandakan secara jumlah, tetapi diperbesar nilainya. Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ,
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Siapa yang berbuat kebaikan, dia akan mendapat balasan sepuluh kali lipatnya. Siapa yang berbuat keburukan, dia tidak akan diberi balasan melainkan yang seimbang dengannya. Mereka (sedikit pun) tidak dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-An’am [6]: 160)
Jadi, keburukan tidak dilipatgandakan secara nominal, tetapi bobot dosanya menjadi lebih besar karena kemuliaan waktunya.
Penutup
Sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah kesempatan emas yang Allah ﷻ berikan kepada kaum muslimin untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada-Nya. Hari-hari ini bukan sekadar pengantar menuju Iduladha, melainkan musim ibadah yang penuh keberkahan dan pahala yang berlipat ganda.
Sudah semestinya kita menyambut hari-hari mulia ini dengan semangat beribadah, memperbanyak puasa, zikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, berkurban, serta bertobat dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan dosa. Semoga Allah ﷻ memberikan taufik kepada kita untuk memaksimalkan amal pada hari-hari terbaik tersebut dan menerima seluruh ibadah yang kita lakukan. Aamiin. (*)
