Anak Butuh Kehadiran dan Keteladanan Ayah

Anak Butuh Kehadiran dan Keteladanan Ayah
www.majelistabligh.id -

Kesibukan mencari nafkah sering kali dipandang sebagai wujud utama tanggung jawab orang tua. Namun, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Aly Aulia, mengingatkan pentingnya menyeimbangkan kerja keras dengan kehadiran nyata serta keterikatan emosional dalam tumbuh kembang anak.

Pesan reflektif tersebut disampaikan Aly saat mengisi kajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin (12/10/2026). Dalam ceramahnya, ia menyoroti fenomena sosial ketika seseorang berhasil mendongkrak kesejahteraan finansial keluarga, tetapi justru kehilangan waktu berharga bersama anak dan pasangan.

“Rumah makin besar, kendaraan makin bagus, dan anak bersekolah di tempat ternama. Tapi orang tua berangkat sebelum anak bangun dan pulang setelah mereka tidur. Bahkan saat di rumah, pikiran masih tertaut pada pekerjaan. Pertanyaannya: kita sedang membangun kehidupan keluarga atau sekadar menjadi ATM?” cetus Aly mengajak jamaah berefleksi.

Aly menegaskan, mencari nafkah memang bernilai ibadah. Meski demikian, tanggung jawab pengasuhan tetap menuntut komunikasi mendalam, pendampingan karakter, dan keteladanan harian. Ia mengingatkan bahaya maraknya fenomena fatherless—kondisi ketika anak memiliki ayah secara fisik, tetapi hampa secara figur dan kehadiran emosional.

Sebagai pijakan, Aly mengulas bahwa Al-Qur’an sangat menekankan vitalnya peran ayah. Dari 17 ayat Al-Qur’an yang merekam dialog antara orang tua dan anak, sebanyak 14 di antaranya secara eksplisit menampilkan interaksi antara ayah dan anak.

“Lihat bagaimana kisah Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, Nabi Ya’qub dengan Nabi Yusuf, hingga Luqman dengan putranya. Al-Qur’an mengabadikan bahwa penanaman tauhid, moral, dan karakter justru lahir dari percakapan serta keteladanan seorang ayah,” jelasnya.

Aly menekankan bahwa warisan terbaik orang tua bukanlah sekadar materi atau aset fisik, melainkan nilai-nilai kebaikan dan keteguhan iman. Ia mencontohkan dialog Nabi Ya’qub menjelang wafatnya (QS. Al-Baqarah: 133), saat sang ayah memastikan ikatan tauhid anak-anaknya tetap terjaga.

Mendidik anak agar bertakwa, lanjutnya, adalah bagian dari persiapan jangka panjang kehidupan akhirat. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah saw tentang doa anak saleh sebagai salah satu amal jariyah yang tidak pernah terputus.

Di akhir kajiannya, Aly mengajak para orang tua untuk menata ulang prioritas tanpa harus menunda kebaikan hingga kondisi ekonomi dianggap sempurna.

“Kerja keras duniawi itu penting, tetapi kewajiban membina iman dan akhlak keluarga tidak boleh terabaikan. Harta ayah mungkin terbatas, tetapi nilai kebaikan yang ditanamkan akan terus bertumbuh dan mengalir,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search